Selasa, 26 April 2016

BERDAMAI DENGAN MASA LALU TANPA MENGUSIK EMOSI. BISAKAH?



Berdamai dengan masa lalu, apalagi masa lalu yang tidak menyenangkan memang bukanlah hal yang mudah. Karena berdamai dengan masa lalu itu bukan berarti menghilangkannya begitu saja dari kehidupan kita, bukan? Lagi pula, mana bisa ya masa lalu kok dihilangkan?? *ngernyitin jidat*
Kalau yang dimaksud itu 'melupakan', itu masih mungkin. Tetapi kalau kita nggak terserang amnesia, saya rasa kok ya sulit ya 'melupakan' tanpa menyisakan sedikitpun ingatan itu.

Ketika kita mengingat dan tak sengaja menemukan jejak yang telah kita tinggalkan, hal tersebut justru merupakan sebuah pelajaran yang berharga. 
Ingat dengan pepatah "Belajarlah dari kegagalan" ??
Itu artinya kita harus pernah gagal dulu kan? Kalau kita "pernah", artinya kita sudah melakukan sesuatu terlebih dahulu kan? dan "gagal" itu baru kita ketahui setelah kita melakukan sesuatu terlebih dahulu. *njelimet ya?*
Intinya, mengingat masa lalu itu bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kita.

Masa lalu yang tidak menyenangkan bukan berarti harus dimusuhi, kita bisa kok berdamai dengan masa lalu. Nah, untuk berdamai dengan masa lalu ini, terlebih dahulu kita harus berdamai dengan diri sendiri, karena dengan berdamai dengan diri sendiri, maka secara tak langsung kita akan mulai berdamai dengan segala kenangan akan masa lalu diri kita. 

Sebelum saya kasih trik untuk "berdamai dengan diri sendiri", saya ajak 'putar-putar' logika dulu, ya.
Ingatkah bahwa di masa lalu kamu pernah punya angan-angan?
Bahkan mungkin saja angan-angan kamu itu masih tetap saja sama hingga sampai saat ini.
Hal itu menandakan bahwa tidak semua angan-angan atau harapan itu bisa segera terwujud, kan?
Ketika ekspektasi tersebut tidak kunjung terwujud, kita menjadi kecewa. Rasa kecewa yang besar bisa jadi akan menimbulkan amarah.
Kita menjadi kecewa dan marah dengan diri kita sendiri.
Ketika kita marah dan kecewa, bukan tidak mungkin orang yang berada di sekitar kita akan menjadi pelampiasan perasaan kita itu. Tanpa kita sadari, segala sikap dan tutur kata kita menjadi tidak menyenangkan bagi orang lain.

Lalu bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri itu?
Untuk mewujudkannya, kita bisa menggunakan yang namanya "teropong hati" dengan cara terbalik. Caranya, teropong hatinya bukan untuk memandang yang di depan seperti fungsi teropong pada umumnya, tetapi dibalik, yaitu untuk memandang diri kita sendiri.
Jadi, memandang diri sendiri itu artinya adalah introspeksi diri.
Apakah selama ini kita telah mampu mengontrol pikiran, perkataan dan sikap kita?
Sudahkah kita menjadi sosok yang keberadaannya selalu membuat rindu orang lain karena apa yang menjadi pemikiran, perkataan dan sikap kita telah patut menjadi teladan bagi orang lain?
Ataukah sebaliknya, segala tindak tanduk kita justru sering  membuat orang lain merasa tidak nyaman, terlukai dan bersedih?

Ya. Kita memang boleh memiliki angan-angan, harapan bahkan mimpi sebesar dan setinggi apapun. Ketika semua itu tak kunjung mewujud, kemudian ada rasa kecewa yang timbul itu adalah hal yang wajar, namun hindarilah amarah. Karena halilintar amarah kita yang hanya sekejapan mata, bisa jadi melukai orang, dan luka itu dapat membekas di sepanjang hidupnya. Maukah kamu menjadi kenangan yang tak menyenangkan bagi orang lain?

Kesimpulannya, kita bisa berdamai dengan masa lalu dengan terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri. Tapi tanpa mengusik emosi? Rasanya tak mungkin. Justru harus melibatkan emosi, untuk mengontrol emosi agar tak muncul emosi yang berlebihan.

Bolehlah kalimat di bawah ini menjadi pengingat kita,
"Bahwa apa yang tertanam di benak orang lain tentang kita, bisa turut membentuk bagaimana diri kita di mata orang lain. Sama halnya dengan apa yang tertanam di benak kita tentang diri kita akan turut membentuk siapa diri kita."





Jumat, 15 April 2016

EKSIS TERUS DENGAN BERBAGAI JEJARING SOSIAL HINGGA MEDIA DARING

TWITTER

Bermula dari pertanyaan seorang teman yang ingin memfollow akun twitter saya, saya pun mulai berpikir hingga kemudian berkeinginan mengaktifkan kembali akun twitter saya yang sejak saya buat pada tahun 2008 yang lalu hingga sekarang sama sekali tidak pernah aktif.

Saya pun mencoba menengok kembali akun twitter saya tersebut. Seingat saya, dulu saya mempunyai dua orang follower, lha kok sekarang malah jadi tinggal satu follower??!!
Setelah saya telusuri, ternyata follower yang hilang itu adalah suami saya sendiri..ha..ha..#ngenes.
Setelah memilin-milin anak rambut yang cukup lebat di dahi saya (ini kebiasaan saya kalau lagi serius mikir karena bingung..he..he..), saya pun menjadi makhlum, kenapa suami saya enggan menjadi follower saya. Lha wong tiap hari dia sudah cukup 'eneg' mendengar cuitan saya, kok masih harus membaca twitt-an saya di medsos..ha..ha..(padahal saya sama sekali belum pernah nge-twitt..*teeett*..bingung kan??.. lha wong saya sendiri juga bingung kok..ha..ha..)

Sebenarnya, kenapa sih saya enggan ber-twitter ria??
Eemmm...pada dasarnya, saya ini orangnya suka "nggambleh" (nggambleh di sini bukan berarti omong kosong lho ya.. Karena nggamblehnya saya ini meskipun 'ngalor ngidul' tetapi selalu ada ujung dan pangkalnya, jadi bukan sembarang nggambleh. Lagi pula nggamblehnya saya ini bukan dalam bentuk omelan, tapi tulisan yang jelas lebih terarah karena ada maksud dan tujuannya..*halah*)
Seperti yang kita ketahui bersama, kalau di twitter itu dibatasi hanya sampai 140 karakter saja, padahal saya kalau 'nggambleh' bisa lebih dari 500 karakter..ha..ha.. Dari situ saja sudah langsung bisa ditebak kan, kenapa saya tidak tertarik untuk bertwitter ria??
Tapi, mungkin nih, dengan twitter saya bisa belajar untuk berkicau dengan lebih singkat, jelas dan padat, iya kan?

Oke deh, apabila mempunyai akun twitter itu memang menjadi salah satu syarat agar bisa dianggap 'kekinian', saya akan mulai aktif berkicau. Bila perlu, akan saya buat akun baru..he..he..
Masak sih, penulis buku nggak punya akun twitter?? Nggak kekinian banget, kan??..ho..ho..ho..


FACEBOOK

Media sosial favorit saya adalah facebook. Lha ya jelas, "kenggamblehan" saya benar-benar bisa tersalurkan melalui jejaring sosial nomer satu di dunia ini. Ditambah lagi, saya ini seorang perantauan yang tak banyak kawan di tempatnya merantau ini *sedih banget yak?!*. Tak ayal, kehadiran facebook menjadi sangat berarti bagi saya. Saya sampai punya dua akun untuk facebook ini. Yang pertama saya buat di tahun 2008, sedangkan yang kedua di tahun 2014.

Pertama kali aktif di facebook, teman-teman saya malah belum banyak yang punya facebook. Jadi, waktu itu teman-teman saya malah kebanyakan artis..he..he..habisnya saya bingung mau add siapa, lha wong dicari-cari di mesin pencari, yang ketemu hanya segelintir teman saja. Saat itu, para artis itu juga belum banyak pengikutnya, jadi dengan mudah saya dikonfirm menjadi teman mereka..he..he..

Saya memutuskan untuk berhenti sejenak dari dunia maya, khususnya media sosial berjudul facebook ini di tahun 2010. Waktu itu, saya baru saja melahirkan anak ketiga, ditambah lagi suami mau melanjutkan studi ke jenjang strata tiga. Saya yang saat itu harus menjalani LDR-an sama suami, ditambah lagi harus merawat tiga orang anak yang masih kecil-kecil seorang diri (di perantauan pula), mantap mengambil keputusan untuk 'stop' eksis di jejaring sosial manapun.
Fokus merawat anak sembari menjalankan bisnis di dunia nyata. Thats it. Dan ternyata saya sukses.

Lha sekarang, setelah anak-anak tumbuh besar, si bungsu juga sudah mau masuk SD, saya malah kecanduan facebook lagi.
Facebook ini memang zat adiktifnya kuat sekali..he..he.. Saya sampai pernah "sakau" waktu mencoba mendeactive-kan akun facebook saya. Jadi, ya udah deh..daripada saya sakau lagi, mendingan saya facebookan terus aja..ha..ha..
Lagipula, facebook bisa menjadi obat pegel-pegel yang maha mujarab saat dilanda kejenuhan akut..ha..ha..(apa hubungannya, yak?? *milin-milin anak rambut lagi*)


INSTAGRAM

Nah, ini dia media sosial tempat berbagi foto yang paling populer saat ini. Instagram mempunyai kelebihan untuk bisa mengedit foto yang akan diunggah agar terlihat lebih bagus dan profesional. Untuk itulah, media sosial yang satu ini saya khususkan buat narsis-narsis-an saja..he..he..
Eh..tapi selain buat narsis, IG ini ternyata asyik juga buat 'diselancari'. Apalagi, saya menjadi followernya "Dagelan" yang cukup menghibur dengan meme-meme lucunya. Lumayan lah buat obat jenuh.


PATH

Aplikasi jejaring sosial yang saya nilai memiliki nilai eksklusif tersendiri karena bisa menjaga nilai keintiman dalam pertemanan. Jumlah yang dibatasi hanya 150 pertemanan menunjukkan ke-eksklusif-an aplikasi itu sendiri.
Path memang media sosial yang paling pas untuk digunakan sebagai ruang berbagi momen-momen indah dan berharga kepada orang-orang terdekat. Tetapi, justru karena ke-eksklusif-annya inilah yang justru membuat saya malah menjadi 'ewuh pakewuh' (silakan cari sendiri artinya di google translate..he..he..)
Ya udah deh... karena merasa kurang 'merdeka' dengan aplikasi ini, akhirnya saya memutuskan untuk menonaktifkan Path saya.


GOOGLE+

Karena saya punya tiga buah akun, maka otomatis akun google+ saya pun ada tiga..he..he..
Media ini saya nilai masih terlalu rumit bagi saya. Tetapi, karena menjadi seorang blogger, maka mau tak mau saya masih harus terus mempelajari cara penggunaannya..ha..ha..(mumet??..sebagai ibu-ibu yang katakanlah masih 'gagap' tekhnologi, terus terang saya masih 'mumet'..he..he..)


Sebetulnya masih sangat banyak media sosial lain, tetapi cukup ini saja dulu yang ingin saya bahas. Kini saya mau membahas media komunikasi daring.


Setelah terhubung dengan teman-teman melalui media sosial, untuk lebih mengakrabkan diri, kita membutuhkan media komunikasi daring. Nah ini, apalagi buat kamu yang menjalankan bisnis berbasis network marketing, media komunikasi daring sangat dibutuhkan. Iya, kan?
Kalau di facebook, kita mengenal messenger. Nggak asing, kan dengan istilah "inbox ya, sist.."..he..he..
Tadinya saya malas banget buat mengaktifkan messenger, habisnya suka ada chat tak pantas dari orang tak dikenal, sih. Tetapi sejak saya menerbitkan buku, messenger menjadi aplikasi wajib buat saya. Soal chat yang tidak pantas, abaikan saja. Nah, dari inbox inilah biasanya terus berlanjut ke Whats App.
Kini, siapa yang tak kenal Whatss App? Bahkan BBM pun kalah populer dengan aplikasi ini. Bila sudah mendownload aplikasi WA ini, maka cukup dengan menyimpan nomer ponsel teman yang juga memiliki aplikasi WA, kita bisa langsung terhubung. Tidak seperti BBM yang harus menggunakan PIN terlebih dahulu.
Dengan WA, kita juga bisa melakukan panggilan. Terus terang, sekarang ini media komunikasi daring WA inilah yang paling sering saya pakai, bahkan fasilitas SMS di ponsel pun menjadi sangat jarang digunakan.
Selain WA, saya juga pengguna aplikasi LINE. Saya menggunakan LINE atas permintaan beberapa teman, adapun penggunaannya, WA masih lebih intens dipakai..ho..ho..ho..
Waktu masih LDR-an sama suami, untuk melakukan video call, kami memanfaatkan Skype. Kini, setelah ada aplikasi Tango, aplikasi Skype nggak ada lagi di ponsel saya..he..he..
Sebenarnya masih banyak aplikasi-aplikasi media komunikasi daring lain yang pernah saya download, seperti We Chat dan Kakao Talk. Tetapi pada akhirnya aplikasi-aplikasi tersebut saya buang dari ponsel saya. Buat apa?? Toh juga jarang dipakai..ha..ha..


Sepertinya, media jejaring sosial dan media komunikasi daring ini masih akan terus bertambah macamnya deh. Mungkin saat ini saya bisa bilang kalau saya tetap setia sama yang satu, tapi bisa jadi lain waktu saya kesengsem sama aplikasi lain. Who knows? Iya, kan??
Lha wong saat ini saja sudah banyak teman yang menyarankan saya untuk memasang aplikasi SnapChat. 
"Oke deh, saya pertimbangkan dulu, ya. Tapi sepertinya saya lebih tertarik untuk mendownload aplikasi Tumblr deh.. Secara, saya lagi belajar jadi blogger gitu loh!!! ..ha..ha..ha..






KADUNG SELINGKUH

Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari ...