BERDAMAI DENGAN MASA LALU TANPA MENGUSIK EMOSI. BISAKAH?



Berdamai dengan masa lalu, apalagi masa lalu yang tidak menyenangkan memang bukanlah hal yang mudah. Karena berdamai dengan masa lalu itu bukan berarti menghilangkannya begitu saja dari kehidupan kita, bukan? Lagi pula, mana bisa ya masa lalu kok dihilangkan?? *ngernyitin jidat*
Kalau yang dimaksud itu 'melupakan', itu masih mungkin. Tetapi kalau kita nggak terserang amnesia, saya rasa kok ya sulit ya 'melupakan' tanpa menyisakan sedikitpun ingatan itu.

Ketika kita mengingat dan tak sengaja menemukan jejak yang telah kita tinggalkan, hal tersebut justru merupakan sebuah pelajaran yang berharga. 
Ingat dengan pepatah "Belajarlah dari kegagalan" ??
Itu artinya kita harus pernah gagal dulu kan? Kalau kita "pernah", artinya kita sudah melakukan sesuatu terlebih dahulu kan? dan "gagal" itu baru kita ketahui setelah kita melakukan sesuatu terlebih dahulu. *njelimet ya?*
Intinya, mengingat masa lalu itu bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kita.

Masa lalu yang tidak menyenangkan bukan berarti harus dimusuhi, kita bisa kok berdamai dengan masa lalu. Nah, untuk berdamai dengan masa lalu ini, terlebih dahulu kita harus berdamai dengan diri sendiri, karena dengan berdamai dengan diri sendiri, maka secara tak langsung kita akan mulai berdamai dengan segala kenangan akan masa lalu diri kita. 

Sebelum saya kasih trik untuk "berdamai dengan diri sendiri", saya ajak 'putar-putar' logika dulu, ya.
Ingatkah bahwa di masa lalu kamu pernah punya angan-angan?
Bahkan mungkin saja angan-angan kamu itu masih tetap saja sama hingga sampai saat ini.
Hal itu menandakan bahwa tidak semua angan-angan atau harapan itu bisa segera terwujud, kan?
Ketika ekspektasi tersebut tidak kunjung terwujud, kita menjadi kecewa. Rasa kecewa yang besar bisa jadi akan menimbulkan amarah.
Kita menjadi kecewa dan marah dengan diri kita sendiri.
Ketika kita marah dan kecewa, bukan tidak mungkin orang yang berada di sekitar kita akan menjadi pelampiasan perasaan kita itu. Tanpa kita sadari, segala sikap dan tutur kata kita menjadi tidak menyenangkan bagi orang lain.

Lalu bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri itu?
Untuk mewujudkannya, kita bisa menggunakan yang namanya "teropong hati" dengan cara terbalik. Caranya, teropong hatinya bukan untuk memandang yang di depan seperti fungsi teropong pada umumnya, tetapi dibalik, yaitu untuk memandang diri kita sendiri.
Jadi, memandang diri sendiri itu artinya adalah introspeksi diri.
Apakah selama ini kita telah mampu mengontrol pikiran, perkataan dan sikap kita?
Sudahkah kita menjadi sosok yang keberadaannya selalu membuat rindu orang lain karena apa yang menjadi pemikiran, perkataan dan sikap kita telah patut menjadi teladan bagi orang lain?
Ataukah sebaliknya, segala tindak tanduk kita justru sering  membuat orang lain merasa tidak nyaman, terlukai dan bersedih?

Ya. Kita memang boleh memiliki angan-angan, harapan bahkan mimpi sebesar dan setinggi apapun. Ketika semua itu tak kunjung mewujud, kemudian ada rasa kecewa yang timbul itu adalah hal yang wajar, namun hindarilah amarah. Karena halilintar amarah kita yang hanya sekejapan mata, bisa jadi melukai orang, dan luka itu dapat membekas di sepanjang hidupnya. Maukah kamu menjadi kenangan yang tak menyenangkan bagi orang lain?

Kesimpulannya, kita bisa berdamai dengan masa lalu dengan terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri. Tapi tanpa mengusik emosi? Rasanya tak mungkin. Justru harus melibatkan emosi, untuk mengontrol emosi agar tak muncul emosi yang berlebihan.

Bolehlah kalimat di bawah ini menjadi pengingat kita,
"Bahwa apa yang tertanam di benak orang lain tentang kita, bisa turut membentuk bagaimana diri kita di mata orang lain. Sama halnya dengan apa yang tertanam di benak kita tentang diri kita akan turut membentuk siapa diri kita."





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yati "Sum Kuning" Surachman, Legenda Hidup Indonesia

TIPS MENJAGA KOMITMEN DALAM PERNIKAHAN JARAK JAUH

MINDER dan solusi mengatasinya