Kamis, 27 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

cerpen "Ibu, deritamu kini telah usai" Tribute For Mother

Tribute For Mother


IBU, DERITAMU KINI TELAH USAI

          “Pak, Rini besok harus membayar uang semester lho, Pak. Kalau terlambat nanti nggak bisa ikut ujian. Saat ini Ibu sudah tidak pegang uang lagi selain untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Semua sudah dipakai untuk membayar utang di warungnya bu Sri sama warungnya pak RT.” Sambil mengaduk gula di cangkir kopi pak Seto, bu Rahma menyampaikan permintaan tersebut.
          “Ya. Besok kan bapak sudah gajian,” jawab pak Seto singkat tanpa mengalihkan pandangan matanya dari lembaran koran yang sedang dibacanya.
          Bu Rahma tersenyum lega mendengar jawaban dari suaminya tersebut. Sambil membereskan meja makan, ibu berputra empat itu mencoba mengingat- ingat , kebutuhan apa saja yang harus segera didahulukan, mumpung besok suaminya menerima gaji.
          Meskipun bu Rahma tahu kalau seperti biasanya, gaji yang akan diterima suaminya tidak utuh lagi karena harus dipotong berbagai pinjaman di koperasi kantornya, tapi setidaknya ada yang bisa dipakai untuk membayar kebutuhan sekolahnya anak-anak. Sedangkan gaji dia sendiri sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah negeri, dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
          “Oya, Pak, si Aris juga bilang sama ibu kalau dia butuh uang untuk mengganti kampas sepeda motornya yang sudah aus. Kemudian Dani dan Sari juga harus membayar buku pelajaran di sekolah mereka. Angsuran buku matematika milik Sari malah sudah nunggak hampir dua bulan ini belum dibayar sama sekali, kasihan dia sampai malu sama teman-temannya,” ucap bu Rahma sambil meletakkan mangkuk sayur di meja makan yang baru saja dibersihkan itu.
          “Iya, catat saja semua yang harus dibayar,” jawab pak Seto singkat sambil melipat lalu meletakkan koran yang baru saja dibacanya itu.
          “Ya, mudah-mudahan saja cukup,” ucap pak Seto setelah menyeruput kopinya.
          Bu Rahma tersenyum lagi. Wanita berbadan subur itu merasa lega. Dalam pikirannya, setidaknya untuk bulan ini dia tidak perlu berutang lagi untuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.  

**

          Sore itu, sambil berjalan tergopoh-gopoh memasuki rumah setelah memarkir sepeda motornya, pak Seto berteriak memanggil-manggil istrinya. Bu Rahma yang sedang mencuci piring pun langsung menghentikan aktivitasnya dan pergi menghampiri suaminya.
          “Oalah, Bu, amblas semua, hilang, muspro, raib semua uang gaji bapak, Bu,” ratap pilu pak Seto sambil terduduk di lantai.
          Serasa bagai palu godam menghantam kepalanya, bu Rahma pun berkunang-kunang. Mulutnya terkatup rapat, tetapi matanya terbelalak sampai terasa mau lepas. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya seperti terhenti, tercekat di tenggorokan.
          Tubuh bu Rahma pun lunglai, selunglai tubuh suaminya yang bersimpuh di lantai. Campur aduk perasaannya, sedih ataukah marah, antara mau menangis ataukah berteriak.
          Akhirnya bu Rahma pun sama-sama bersimpuh di lantai mendekati suaminya itu. Tanpa menunggu pertanyaan dari istrinya, penjelasan pun meluncur dari mulut pak Seto.
          “Sepeda motor bapak tadi serempetan sama sepeda motor orang, Bu. Bapak terjatuh karena terperosok lobang yang cukup dalam di pinggir jalan dekat lapangan itu. Orang yang nyerempet bapak juga jatuh, tapi tidak apa-apa. Sepeda motor kami juga tidak apa-apa. Sudah damai, tidak ada masalah apa-apa. Setelah orang itu pergi, bapak baru sadar kalau amplop gaji yang bapak letakkan di saku kemeja bapak tidak ada, Bu. Bapak sudah bolak-balik mencari di sekitar tempat bapak jatuh tadi, tetapi tetap tidak ketemu. Apa mungkin diambil sama orang yang nyerempet bapak tadi, ya?” ucap pak Seto menjelaskan kronologis kecelakaan yang baru saja menimpanya.
          Bu Rahma tak sanggup mencerna dengan baik penjelasan suaminya itu. Dia hanya memikirkan kesulitan keuangan yang akan segera menderanya. Plak! Tiba-tiba saja seperti ada yang yang menampar dengan keras pipinya. “Astagfirulloh,” ucap bu Rahma beristighfar.
          “Sudahlah, Pak. Yang penting bapak tidak apa-apa. Apakah ada luka serius, Pak?” tanya bu Rahma sambil memeriksa tubuh suaminya itu. Wanita itu pun merasa lega manakala tidak didapatinya luka ataupun memar di tubuh lelaki pendamping hidupnya itu, meskipun di dalam hatinya perasaan sedih dan kecewa tak dapat dihilangkannya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi.
**

          “Bu, bapak mau keluar sebentar, ya. Bapak mau ke rumahnya pak Aji, siapa tahu beliau bisa membantu memberi pinjaman kepada kita. Mungkin bapak juga mau ke tempatnya pak Heru, kawan bapak SMA dulu. Kalau saja pak Aji tidak dapat membantu, pak Heru mungkin bisa kuandalkan,” pamit pak Seto kepada istrinya.
          “Kunci rumah, kubawa, Bu. Siapa tahu sampai larut malam baru bisa pulang. Ibu tidur saja, tak usahlah menunggu bapak,” ucap pak Seto kemudian.
          Bu Rahma mengangguk. Bu Rahma kemudian teringat akan utangnya kepada salah satu adiknya yang tinggal di ibu kota. Dia dulu berutang untuk membayar uang pangkal kuliahnya Rini. Meskipun adik bu Rahma mengatakan bahwa utang itu bisa dibayar kapan saja, tetapi rasanya kok tidak enak kalau nyicilnya saja tidak lancar.
**

          Di sebuah warung remang-remang di ujung sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari kediaman bu Rahma, terlihat sosok pak Seto sedang tertawa terbahak-bahak dengan botol tuak di tangannya, sedangkan di pangkuannya duduk seorang wanita dengan pakaian ketat dan rok mini. Di sekitarnya, duduk lelaki-lelaki lain dengan tingkah polah serupa dengannya. Kartu-kartu remi, botol-botol tuak, dan lembaran-lembaran uang bertebaran di atas meja.
          Sungguh tak disangka, ternyata pak Seto sedang bermaksiat. Rupanya cerita tentang kecelakaan yang menimpanya itu hanyalah kebohongan belaka. Uang gaji pak Seto raib di meja judi dan untuk memanjakan para perempuan penjaja cinta itu.
          Tak cukup sampai di situ, pak Seto masih melanjutkannya dengan arena perjudian lain, salah satunya dengan mempertaruhkan uangnya melalui judi toto gelap atau yang lebih dikenal dengan sebutan judi togel.
          Hampir tiap malam pak Seto menghabiskan waktunya di tempat maksiat itu. Kalaupun berada di rumah, judi togelnya tetap berlangsung melalui ponsel. Hari-harinya semakin kelam, kebohongan demi kebohongan terus direkanya agar perbuatannya itu tidak diketahui oleh sang istri.
**

          Namun, yang namanya bangkai, meskipun disembunyikan sedemikian rapat, baunya pasti akan tercium juga. Pun demikian dengan ulah pak Seto ini. Lambat laun bu Rahma pun mengetahuinya juga. Hal ini karena semakin banyak orang yang datang ke rumah mereka untuk menagih utang.
          Selama itu, pak Seto kerap berbohong dengan berbagai alasan kepada istrinya perihal gajinya yang tak pernah dia terima. Awalnya bu Rahma masih percaya, namun karena lama-kelamaan alasan yang dibuat suaminya itu terlalu mengada-ada sehingga bu Rahma pun sulit untuk percaya dan mulai mencium bahwa ada yang tidak beres dengan perilaku suaminya itu.
Selama itu pula, bu Rahma tidak pernah lagi menerima sepeserpun gaji suaminya. Semua biaya hidup dan biaya sekolah anak-anaknya, dialah yang mengusahakannya sendiri. Bu Rahma mulai berjualan apa saja yang bisa dijual, bahkan membuat es mambo yang dititipkan ke sekolah-sekolah. Bila sudah sangat mendesak, berutang pun dilakukannya. Meskipun selalu digelayuti perasaan malu, namun demi anak-anaknya bisa lancar bersekolah, apapun bu Rahma lakukan.
Entah, setan apa yang merasuki jiwa pak Seto sehingga tega melepaskan tanggung jawabnya terhadap keluarga yang seharusnya dia naungi. Semakin hari, lelaki itu semakin tak peduli dengan keluarganya. Bahkan ketika bu Rahma tergolek lemas tak berdaya karena penyakitnya.
**
          Rini dan ketiga adiknya duduk terpekur memanjatkan doa demi doa bagi kesembuhan sang ibu yang sedang kritis. Tetapi, menurut dokter, kondisi ibunya itu sudah sangat lemah dan tidak dapat dilakukan upaya apapun untuk memperpanjang usianya. Tentu saja hatinya berontak, dia masih sangat menginginkan kehadiran sang ibu. Namun, kemudian dia tersadar, mungkin ibunya sudah sangat lelah dengan beratnya penderitaan yang harus ditanggungnya.
          Rini pun kemudian berbisik di telinga sang ibu, “Kami ikhlas bila ibu harus pergi meninggalkan kami, Ibu. Ibu pasti akan lebih bahagia bila berada di sisi Allah. Biarlah Rini yang akan menjaga adik-adik. Kami minta maaf bila selalu menyusahkan ibu, ya. Kami pun telah memaafkan seluruh kesalahan ibu. Ah, bahkan ibu tak punya salah apa-apa kepada kami. Sudahlah, Bu. Ibu tenang-tenang saja, tak perlu lagi memikirkan beratnya hidup ini.”
**

             
Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis, namun kemudian saya mengundurkan diri karena ternyata saya dimintai sejumlah dana yang saya nilai jumlahnya tidak wajar.
Kecewa. Itu pasti. Namun bukan berarti saya lantas berputus asa, apalagi sampai berhenti menulis.

Ada hikmah yang bisa saya ambil. Ke depan, saya akan tetap terus menulis lebih baik lagi dan berusaha untuk lebih selektif lagi dalam mengikuti kompetisi serupa.

Rabu, 19 Oktober 2016

MINDER dan solusi mengatasinya




MINDER
dan solusi mengatasinya



Apa sih "minder" itu?
Apakah kamu sering mendengar istilah "Nggak PeDe"?

Ya. "Nggak PeDe" adalah akronim dari istilah "Nggak Percaya Diri". Dan "minder" adalah istilah lain dari sebuah perasaan "Nggak PeDe" tersebut.

Definisi "minder" secara umum adalah sebuah perasaan tertekan yang menyebabkan seseorang menjadi kehilangan rasa percaya diri.

Perasaan tertekan ini bisa timbul dari dalam diri seseorang itu sendiri ataupun dari luar diri/lingkungan/ orang di sekitarnya.

Pernahkah kamu mengalami perasaan tersebut?
Kalau saya sih iyes. Aslinya saya ini orangnya minderan *ho..ho..
Dimanapun saya berada, saya sering mengalami kesulitan menghilangkan perasaan yang satu ini.
Di sekolah. Ya, saya dulu suka merasa minder sama teman yang lebih pintar.
Di lingkungan sepermainan. Ya, saya dulu suka minder sama teman yang lebih lincah.
Di dunia kerja, di dunia model yang pernah saya geluti, di komunitas ibu-ibu arisan, dan lain-lain. Di mana saja deh, pokoknya.
Nggak enak banget kan?
Kata orang, hal tersebut karena saya kurang pandai bersyukur.
Betulkah?
Iya juga, sih. Tetapi kalau ditelisik lebih dalam lagi, ternyata banyak faktor lain yang menjadi penyebab timbulnya rasa "minder" itu, antara lain:

# Pola Asuh Orang tua Yang Terlalu Membatasi Kegiatan Anak.
Tak ada orang tua yang punya maksud buruk terhadap anak-anaknya. Setiap orang tua pasti selalu ingin melindungi anak-anaknya dan menjaga supaya anak-anaknya nggak celaka. Bahkan karena alasan itulah, sehingga banyak orang tua yang menjadi terlalu over protektif terhadap anak-anaknya. Mereka jadi terlalu membatasi gerak-gerik si anak. Mau ini nggak boleh, mau itu dilarang, pokoknya untuk melakukan hal-hal yang sekiranya agak tidak biasa, pasti akan selalu dilarang ataupun kalau dibolehkan selalu diikuti dengan persyaratan yang memberatkan.

Orang tua saya dulu juga seperti itu, banyak melarang saya melakukan ini dan itu, akibatnya saya menjadi merasa tertinggal dari teman-teman saya yang lain. Contohnya, ketika banyak teman-teman saya yang sudah bisa mengendarai sepeda motor, saya termasuk yang "terlambat bisa" karena orang tua saya melarang saya melakukannya.


#Orang tua Yang Kerap Marah dan Menyalahkan Tanpa Alasan Yang Jelas.

Nggak enak banget deh, dikit-dikit dimarahi. Misalnya nggak sengaja numpahin minum, langsung kena bentak. Atau kelupaan meletakkan suatu benda, langsung dimarahi, dikatain teledor lah, kan bikin anak langsung nyesek, ya.

Orang tua yang kurang pandai mengontrol emosinya dan mudah meledak-ledak alias gampang marah-marah pada hal yang sepele dapat mengurangi rasa percaya diri pada anak. Anak jadi gampang minder. Anak juga jadi nggak pernah punya inisiatif karena takut apa yang akan dilakukannya selalu salah di mata orang lain.


#Tak Pernah Mendapatkan Pujian

Terdengar cengeng. Ah, masak cuma karena nggak pernah dipuji langsung jadi minder, sih. Hei, ini bisa terjadi lho. Seseorang yang tak pernah mendapatkan apresiasi positif terhadap perbuatan baik yang dilakukannya, bisa kehilangan rasa percaya diri untuk berbuat baik lagi. Buat apa berbuat baik, toh tidak dihargai. demikian kira-kira perasaannya.

Akibat tak pernah mendapat pujian ini, bisa membuat seseorang jadi minder, dia akan selalu menganggap bahwa orang lain itu selalu lebih hebat dari dirinya.

Maka dari itu, setelah menjadi orang tua saya kerap memberikan apresiasi dalam bentuk pujian buat anak-anak saya ketika mereka telah berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Karena menurut saya, hal tersebut dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka. Kendatipun banyak juga yang berpendapat agar jangan terlalu sering memuji anak, kalau buat saya sih selama nggak terlalu berlebihan ya baik-baik saja.
# Bentuk Fisik Yang Tak Sempurna.

Ya. Kondisi fisik seseorang yang tidak sempurna cukup kuat menjadi alasan seseorang menjadi tidak percaya diri. Contohnya saya. Saya punya bentuk gigi yang sangat tidak sedap dipandang mata, selain gigi gingsul yang menonjol, gigi-gigi yang lain pun bentuknya tidak beraturan. Hal ini cukup membuat saya merasa minder. Saya nggak pernah bisa tertawa lepas kecuali di tengah orang-orang dekat saya. Setiap kali ada photo session saya juga selalu mengatupkan mulut. Seringkali saya melakukan hal-hal tersebut tanpa saya sadari. Mungkin karena alam bawah sadar saya yang menyuruh saya melakukan hal tersebut, ya. Kenapa? Dugaan saya, pasti karena lubuk hati terdalam saya mengatakan bahwa saya merasa malu dengan 'gigi' saya. He..he...


#Latar Belakang Pendidikan.

Meskipun hal ini sebenarnya tak perlu terjadi, tetapi bukan tidak mungkin seseorang jadi merasa minder karena faktor latar belakang pendidikannya yang mungkin tidak lebih tinggi bila dibandingkan dengan latar belakang pendidikan orang-orang lain di lingkungannya, entah itu di lingkungan kerja, lingkungan komunitas yang diikutinya, dan lain sebagainya.


# Kondisi Ekonomi

Kendati hal ini juga tak perlu terjadi, akan tetapi latar belakang kondisi ekonomi sosial seseorang justru sering menjadi penyebab timbulnya perasaan 'minder' dari orang tersebut. Orang tersebut jadi selalu merasa minder dalam bergaul. Kebanyakan karena takut dipandang sebelah mata atau takut dilecehkan.


# Trauma Akan Kejadian di Masa Lampau.

Pernah mengalami kegagalan? Beberapa orang mungkin bisa bangkit dari keterpurukan akibat kegagalan, tetapi sebagian orang yang lain ada juga yang nggak bisa 'move on' dari kegagalan yang pernah dialaminya. Dia yang nggak bisa 'move on' ini biasanya akan jadi minder untuk mencoba hal yang sama yang pernah menyebabkannya gagal tersebut.

**

Setelah mengetahui berbagai penyebab rasa minder, pastinya ingin tahu kan, seperti apa sih solusi untuk mengatasi perasaan tersebut? Dari pengalaman sendiri dan juga dari berbagai pengamatan, dapat saya simpulkan bahwa perasaan minder itu sebenarnya bisa diatasi dengan:

*Mengenali Diri Sendiri Dengan Sebaik Mungkin.

Dalam proses mengenali diri sendiri ini kita dituntut untuk bisa jujur terhadap diri kita sendiri, karena hanya dengan kejujuran maka kita bisa mengidentifikasi diri kita, apa saja kelemahan-kelemahan kita sekaligus apa saja kelebihan-kelebihan yang kita miliki dalam diri kita.

Ketika kita sudah berhasil mengidentifikasi diri kita itu seperti apa, kita bisa memilih strategi yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Kita jadi tahu bagaimana cara menyamarkan kekurangan diri kita dan menonjolkan kelebihan yang kita miliki.


*Berusaha Untuk Selalu Menghargai Diri Sendiri.

Sebelum mengharapkan orang lain untuk menghargai diri kita, sudah semestinya kita bisa menghargai diri kita sendiri. Cara sederhananya adalah dengan selalu berpikir positif bahwa diri kita ini patut untuk dihargai. Jangan pernah memandang rendah orang lain kalau kita tak mau dipandang rendah.


*Hadapi Setiap Rasa Takut Yang Timbul.


Merasa takut akan melakukan kesalahan, merasa takut tidak bisa tampil dengan baik, merasa takut tidak dapat memuaskan orang lain, dan berbagai rasa takut yang lain itu wajar dialami oleh siapa saja. Rasa takut yang berlebihan membuat kita bisa kehilangan rasa percaya diri alias minder. Bagaimana cara mengatasinya?

Setiap rasa takut yang datang itu jangan dihindari, tetapi sebisa mungkin dilawan. Melawan rasa takut, dapat meningkatkan rasa percaya dirimu. Cara melawan rasa takut adalah dengan meyakinkan bahwa dirimu "bisa". Semua akan lancar kalau kamu sudah berhasil mengenal dirimu dengan baik dan menghargainya.


*Pandai Atasi Kekurangan Diri.

Seringkali kita tidak mau mengakui kekurangan kita sendiri, kita justru kerap kali mengandalkan penilaian orang lain. Padahal sebenarnya, kitalah yang paling tahu apa dan bagaimana kekurangan kita itu. Kalau kita memperlakukan kekurangan kita dengan positif, niscaya akan dapat meningkatkan rasa percaya diri dari sisi yang lain. Nggak percaya?

Saya contohkan tentang kasus saya dan gigi gingsul yang saya ceritakan tadi, ya. Meskipun banyak yang bilang bahwa gigi gingsul itu menambah daya tarik, apa saya percaya begitu saja? Ya enggak lah. Dilihat dari sudut pandang manapun, gigi amburadul saya itu tetap nggak ada menari-menariknya..he..he.. Karena gigi yang tak sedap dipandang itu, saya jadi agak minder dalam bergaul. Ketika berbaur, saya jadi membatasi senda gurau yang dapat menyebabkan gigi saya terekspos dan menjadi bahan "rasan" orang lain. Apakah hal tersebut baik? Tentu saja tidak sepenuhnya baik. Tetapi saya ambil sisi positifnya saja. Saya jadi jarang ngobrol berlarut-larut yang kerap berakhir dengan gosip. Saya kemudian memang menjadi pribadi yang semi introvert, tapi bukan berarti saya tak pernah mengeluarkan suara saya. Pada akhirnya, saya berhasil menumpahkan isi hati saya melalui tulisan. Tulisan-tulisan saya kerap dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun portal online, saya bahkan telah menerbitkan buku. Bagaimana? Sudah berhasilkah kamu mengatasi kekurangan dirimu?


*Melupakan Kegagalan Di Masa Lampau.


"Belajar dari kegagalan dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama." adalah nasihat bijak andalan untuk melupakan kegagalan di masa lalu. Nggak bisa 'move on' dari kegagalan di masa lalu memang kerap membuat kita jadi merasa minder, lalu mengira bahwa kita pasti akan gagal lagi. Halloooww...kalau nggak dicoba bagaimana kita bisa tahu kalau kita bisa berhasil?

Sebisa mungkin memang kita jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama, tetapi bukan berarti kita jadi membatasi diri. Kalau kita terperangkap pada masa lalu terus, kita nggak akan pernah jadi kuat. Teruslah berpikir positif. Tekankan selalu pada diri sendiri bahwa kita bisa. Rileks, karena rileks bisa mengatasi kegugupan yang mungkin timbul. Jangan cemas, tak perlu harus sempurna, yang penting berusaha untuk bisa dan tidak gagal lagi.




Sulitkah mengimplementasikan solusi-solusi di atas?

Memang tak ada yang semudah membalik telapak tangan, akan tetapi teruslah berusaha mengatasi rasa mindermu.

Mari saling berbagi pengalaman bagaimana cara mengatasi rasa minder yang pernah kamu alami.














































KADUNG SELINGKUH

Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari ...