Senin, 27 Februari 2017

Si Gugup dan Si Grogi yang Bikin Keki




Pernah mengalami gugup? Tiba-tiba saja jadi grogi, ngomong jadi nggak jelas dan terbata-bata alias nggak beraturan, bahkan diikuti dengan salah tingkah. Pokoknya malu-maluin, deh.
Saya pernah banget tuh ngalamin hal seperti itu. Rasanya seperti ingin segera melenyapkan diri..hi..hi..#nutupMukaPakeSerbet
Ceritanya waktu itu saya lagi dapet tugas menjadi leasson officer-nya salah satu bank BUMN terbesar di Indonesia.
Sebagai orang yang bertugas menjadi salah satu ujung tombaknya perusahaan, tentu saja saya dan rekan-rekan sudah dibekali ilmu yang cukup. Namun demikian, siapa yang bakal menyangka kalau ternyata meskipun sudah dibekali ilmu, tapi tetep saja kalau yang namanya ‘grogi’ menghampiri, semua ilmu tadi jadi lenyap, menguap tak berbekas sama sekali.
Jadi ceritanya begini, waktu itu memang ada jadwal kunjungan bapak Menteri ke pameran perbankan, di mana saya sedang bertugas pada saat itu. Kami sebagai petugas dari bank milik BUMN terbesar di negeri ini tentu saja sudah mempersiapkan wakil terbaiknya. Sang wakil (bukan saya) sudah berlatih keras untuk dapat menguasai seluruh materi perbankan agar saat pak menteri berkunjung bisa lancar mendampingi.
Lha dalah, dasar sedang apes..ketika pak menteri datang, lha kok beliau malah  menghampiri saya, padahal saya sudah berusaha nyempil-nyempil (sedikit bersembunyi) agar tidak menarik perhatian pak menteri.
Lha ketika pak menteri sudah berada tepat di hadapan saya, mana bisa lagi saya menghindar dari beliau…#mengingatKejadianItuDenganKeringatMembanjiri.
Yang namanya public figure, ke mana beliau melangkah, puluhan wartawan dengan kamera dan kilatan lampunya yang menyilaukan (namanya juga di indoor) selalu mengikuti.
Hyakdesss…#rasanyaSepertiDitinju..waktu pak menteri ngajak ngobrol, saya grogi setengah mati…#ampuuun, Maakk…malunya… Apalagi kejadian itu diliput dan disiarkan langsung oleh TVRI, entah dengan stasiun TV yang lain.
Pikiran saya tiba-tiba saja kosong melompong..blank…semua materi yang saya pelajari menguap entah ke mana. Saya menjawab pertanyaan dari pak menteri dengan sangat terbata-bata, nggak beraturan, cenderung malah nggak jelas…ha..ha..ha..hiks #Saya ketawa sambil nangis, kalau mengingat semua itu.
Nggak cukup sampai di situ penderitaan saya. Pas udah pulang, ibu saya langsung menyambut dengan pertanyaan,  “Kowe ki mau ngomong opo karo pak Menteri?”
“Ha emboh…” jawab saya singkat.
Ibu saya pasti melihat dari siaran langsung di TVRI. Nyeseekk… apalagi pas ketemu temen-temen.
“Hei, aku tadi nonton kamu di tivi lho. Wah elok, karo pak menteri, yo?”
Jelas, bagiku ucapan teman-teman itu seperti cemoohan…(ngenyek) istilah jawanya. Uissiiin saya…
Kejadian singkat yang mungkin segera dilupakan oleh orang lain (khususnya pak menteri..he..he..) buat saya bagaikan keloid di tubuh. Nggak bisa ilang.
Bahkan cukup berpengaruh terhadap perilaku saya. Hingga saat ini, saya selalu grogi kalau harus berbicara di depan orang banyak.

Cukup ya, ceritanya. Sekarang saya mau bahas apa sih gugup itu?
Gugup atau grogi adalah masalah mental yang sering dialami sebagai reaksi tubuh terhadap stres. Namun, pada orang tertentu keadaan tersebut dapat timbul tanpa ada stres yang nyata. Orang yang mudah gugup dan gelisah dapat disebabkan oleh sistem saraf yang terlalu aktif, katanya sih.

 Apakah kamu pernah gugup, grogi, ngomong nggak beraturan atau nggak jelas?
Penyakit gugup aka grogi ini bisa timbul sewaktu-waktu ketika seseorang tampil berbicara di depan umum atau khalayak ramai, berpidato, presentasi, dan lain sebagainya. Biasanya, belum juga maju udah gemetaran, keringat dingin dan demam panggung.  Kalo udah gitu, ilang semua deh yang mau kita sampeiin ke orang-orang. Persis kejadian yang menimpa saya dengan pak menteri di atas..hi..hi..

Secara psikologis, sebenarnya hal yg membuat gugup adalah pikiran ragu-ragu yang kita miliki. Semestinya sih kamu harus mengurangi pikiran-pikiran tersebut dan menutupinya dengan sesuatu yg bisa membuatmu percaya diri.
Untuk bisa melakukan hal tersebut, sebenarnya ada hal yang  dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

1.    FOKUS PADA TUJUAN AWAL
Kadang hal-hal konyol seperti bagaimana orang lain berfikir tentang penampilanmu dapat membuatmu gugup. Solusinya adalah abaikan itu dan fokuslah pada tujuan awal kamu berada. Sebagai contoh saat sedang interview untuk mendapatkan pekerjaan, fokuslah pada pertanyaan yang diajukan dan bagaimana kamu bisa menjawab dengan baik.

2.    CARILAH TEMAN YANG MENDUKUNGMU
Cara paling mudah untuk menghilangkan gugup adalah dengan mencari teman yang dapat membantumu untuk tetap fokus pada masalah yang sedang dihadapi.

3.    BUAT DIRIMU SIBUK
Adanya waktu kosong merupakan salah satu penyebab kamu menjadi gugup. Tetap fokuskan pikiranmu atau alihkan perhatian kepada sesuatu yang membuatmu tenang.

4.    TAHU APA YANG AKAN KAMU KATAKAN
Kamu harus siap dengan rencana apa saja yg akan kamu lakukan dan menyiapkan langkah pencegahan atau solusi atas kemungkinan yg akan terjadi.

5.    BERSIKAP DAN BERFIKIR POSITIF 
     Ketika kamu berfikir tentang sesuatu, hal itu akan cenderung menjadi kenyataan. Segala sesuatu yang kamu lakukan sebelumnya bermula dari pikiranmu. Berfikirlah positif tentang apa yang membuat kamu gugup dan itu akan mengurangi rasa gugup.

6.    BERUSAHALAH BERPENAMPILAN BAIK YANG MEMBUAT KAMU NYAMAN DAN BISA MENAMBAH KEPERCAYAAN DIRI
Mengenakan pakaian yang baik dapat menambah kepercayaan diri dan mengurangi kegelisahanmu.  Hal tersebut juga akan menunjukkan bahwa kamu menghormati dirimu sendiri dan orang lain di sekitarnya. Beneran ini, mah. Because banyak orang yang bilang "love from the first sight." So, nggak ada salahnya mulai memperhatikan penampilan, khususnya buat kamu yang masih jomblo..he..he..

Kelihatannya sih nggak susah, ya. Seandainya pada waktu itu saya sudah memiliki ilmu ini, pasti kejadiannya nggak bakal se ‘memalukan’ itu…hiks…






Jumat, 24 Februari 2017

BEAUTIFUL LIVING PLAIN




“Mami, mobil mami dijual ya, Mi?” pelan suara kak Riko menyampaikan usulannya itu, namun bagai petir menggelegar di telingaku.
“Kok, mobil mami. Kenapa nggak mobil papi saja,” protesku.
Aku tahu, dia pasti sedang mengalami kesulitan dana sehingga sampai mengusulkan untuk menjual mobil. Tapi kenapa harus mobilku?
“Papi akan iklankan juga mobil papi, tapi harapan kita ada di mobil mami. Mobil mami kan masih baru, masih lebih mudah menjualnya, lebih cepat laku bila dibandingkan dengan menjual mobil papi. Mobil papi ini susah lakunya, Mi. Dikatakan mobil tua, kok belum tua sekali, jadi kecil kemungkinan dilirik sama penggemar mobil tua,” jelasnya.
“Lalu, untuk mengantar anak-anak ke sekolah, belanja, mengantar pesanan-pesanan mami, mami harus naik apa, Pi?” tanyaku masih memprotes usulannya itu.
“Yaa, naik sepeda motor lah, Mi. Toh, mami dulu juga naik sepeda motor kemana-mana. Apa mami sekarang malu kalau harus naik sepeda motor lagi? Kalau mami malu dan tidak mau mengendarai sepeda motor lagi, mami bawa saja mobil papi, biar papi yang bawa sepeda motor.”
Jawaban kak Riko membuatku kecut.
“Mami nggak mau bawa omprengan begitu, papiii...” sungutku sebal dengan percakapan ini.
Bagaimana tidak sebal. Masih belum lama aku menikmati city car impianku ini setelah sebelumnya aku hanya mengendarai minibus second yang katanya mobil sejuta umat itu.
Memang sih, dulu aku pernah mengendarai sepeda motor, tapi itu dulu sekali, sebelum anak-anak bersekolah, juga sebelum aku berkutat dengan bisnis home bakery-ku ini.
Setelah bisnisku mulai berkembang, aku menukar mobil sejuta umat secondku itu dengan city car cantik yang telah sejak lama kuidamkan. Bangga rasanya saat mengendari mobil cantik ini.
Mobil cantik ini membuatku menjadi lebih percaya diri. Sejak saat itu, pergaulanku pun menjadi lebih luas. Bermula dari niatan ingin mengenalkan bisnis home bakeryku ke kalangan high class, aku malah jadi turut berkubang di dalamnya.
Bergabung dengan club-club para ‘the have’ itu dengan bangga kulakukan. Mendekati para sosialita, meski hanya menjadi bayangan mereka, sukarela kulakukan.
Dengan bermodal city car keluaran terbaru, yang bagi para mommy kaya itu mendapatkannya hanya seenteng menjentikkan jari, aku mulai mengekor mereka. Mengikuti berbagai kegiatan, khususnya arisan dengan nominal menakjubkan yang mereka selenggarakan, mulai merubah gaya hidupku.
Suamiku sempat protes dengan keputusanku mengikuti arisan-arisan itu, tapi selalu berhasil kubantah dengan alasan “Dapetnya gede, Pi.”
Huh, memang besar jumlah uang yang didapat ketika menang arisan, tapi biaya untuk persiapan arisan itu sendiri jauh lebih besar. Selain harus menyiapkan uang arisan berjumlah lumayan fantastis, urusan penampilan pun tak urung harus menguras isi kantong.
Bagaimana tidak, baju yang kukenakan pun haruslah yang terbaru, malu rasanya kalau memakai baju yang sudah pernah dipakai di acara arisan sebelumnya. Pasti ada saja omongan yang tak sedap didengar.
Mommy-mommy berduit itu pun tidak bisa dikelabui dengan merk-merk palsu. Tas-tas brandednya seharga jutaan rupiah, bahkan ada yang kabarnya sampai puluhan juta rupiah. Belum lagi baju dan sepatu merk ternama yang tak pernah absen mereka pamerkan, ditambah lagi perhiasan-perhiasan yang mereka kenakan, bunyi gemerincingnya bagaikan tamborin.
Kadang terbersit juga rasa heran, darimana saja uang yang mereka dapat? Kok seperti tidak ada habis-habisnya. Mungkin saja suami-suami mereka itu adalah tambang uang, keringatnya adalah uang, bahkan mungkin kalau sedang sakit pilek saja, ingus yang keluarpun berupa uang.
Meskipun untuk tetap bisa eksis mengikuti gaya hidup gemerlap mereka aku harus megap-megap mencari dana ekstra, bahkan terkadang sampai harus berbohong kepada kak Riko, tapi aku enggan untuk menyudahi. Aku mulai menikmati gaya hidup seperti ini.
Seperti kebanyakan perempuan kalau sedang berkumpul, kami tidak pernah lupa untuk selalu selfi-selfian di setiap kesempatan, lalu posting foto-foto tadi ke media sosial. Seruuu, bangga bisa unjuk diri kalau aku habis nongkrong di restoran mewah, juga di kafe-kafe keren. Rasanya ‘wah’ banget setelah nunjukin ke audience kalau aku baru saja menyantap hidangan-hidangan berkelas yang hanya dapat dijumpai di hotel bintang lima. Bangga, kan?
So, permintaan kak Riko untuk menjual mobilku sudah tentu kutolak mati-matian.
“Pokoknya mami nggak mau jual mobil mami!” ujarku dengan wajah cemberut.
“Kenapa sih, bisnis papi pailit terus? Cari pinjaman atau apa sana, tapi jangan jual mobil mami!” dengan semangat uring-uringan kuprotes kak Riko yang bisnisnya terlihat kekurangan dana itu.
Kulihat kak Riko hanya menghela nafas, dia diam tak berbicara lagi menghadapi aku yang tengah marah ini.
Apa kata sobat-sobat tajirku itu kalau aku membawa gerobak kak Riko? Terlebih lagi kalau aku hanya membawa sepeda motor, mereka pasti tidak akan sudi lagi menerimaku ke dalam komunitas mereka.
**

“Mama Farel, jangan lupa besok arisan di tempat mama Reyna, ya,” ujar mama Bella mengingatkanku.
Arisan yang ini adalah arisan lain yang kuikuti.  Arisan ibu-ibu biasa, hampir seperti arisan PKK ibu-ibu di komplek tempat tinggalku. Pesertanya adalah ibu-ibu dimana putra bungsuku Farel bersekolah. Selain untuk menjalin keakraban sesama wali murid, arisan ini juga digunakan ibu-ibu itu sebagai lapak bisnis.
Beraneka ragam barang dagangan saling mereka tawarkan, mulai dari kue-kue, makanan ringan, pakaian, jilbab, aksesoris, sepatu, tas, mainan anak, peralatan dapur, hingga barang elektronik.
Mungkin pada awalnya ibu-ibu ini menganggap semua aktivitas jual beli ini bisa menjadi salah satu cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan.  Tapi apa jadinya ya, kalau semuanya jadi saling jual dan saling beli. Semua ini jadi tak lebih seperti ajang barter barang dagangan saja. Terasa konyol memang, terkadang sampai sesuatu yang tidak kubutuhkan sama sekali pun jadi harus kubeli.
“Buat apa lagi sih, Mi? Mau ditaruh dimana lagi?” protes demi protes suamiku sering kutanggapi dengan senyum datar saja.
**

Sepatu Syeila sudah terasa sesak dipakai, idem dito dengan sepatu Kayla yang selain sudah kesempitan bahkan terlihat sedikit jebol. Maka, pada akhir pekan itu kami memutuskan untuk berbelanja sepatu baru bagi kedua putriku itu.
Segera saja kami mulai asyik berburu sepatu di pusat perbelanjaan terbesar dan terbaru di kota kami.
“Mami, coba lihat-lihat yang di sebelah sana, deh. Lagi diskon besar,” kata kak Riko sambil menunjukkan deretan rak sepatu dengan papan bertuliskan ‘diskon 50%’ di bagian tengah sebelah atas rak sepatu itu.
“Iiihh, papi...masak beli sepatu diskonan seperti itu sih, itu kan sepatu model-model lama,” ujarku menolak usulannya itu.
Dasar suamiku itu maunya yang murahan saja, dia juga nggak paham dengan mode, batinku.
Tapi apa yang terjadi, kedua putriku justru menghambur ke papi mereka. Mereka terlihat asyik memilih-milih sepatu di rak diskonan itu. Huh!
Papinya anak-anak terlihat tersenyum memandangku. Kubalas pandangannya itu dengan senyum kecut.
Akan tetapi hal berbeda kulakukan saat berbelanja kebutuhan bulanan di supermarket. Trolly belanjaan itu kupenuhi barang-barang dengan harga promo. Berburu minyak goreng dengan harga termurah, memilih toiletris yang sedang banting harga hingga membeli susu berhadiah lunch box.
Kebiasaanku yang satu ini selalu ditertawakan oleh kak Riko.
“Ini bukannya diskonan semua, Mi?” tanya kak Riko menyindirku.
“Papi, nih. Ini semua kan barang habis pakai, Pi. Siapa juga yang mau memperhatikan, kita pakainya apa? harganya berapa?” jawabku.
“Nah, itu juga yang papi maksud, Mi. Tak perlu kita memusingkan apa kata orang tentang apa yang kita pakai. Tidak semua orang itu orang iseng yang suka memperhatikan apa yang digunakan orang lain. Ngerti maksud papi, Mi?” kata kak Riko membuatku sedikit berpikir akan ucapannya itu.
Sebetulnya aku paham dengan maksud perkataan kak Riko itu, tapi masih saja kubantah ucapannya itu.
“Kalau apa yang kita pakai itu terlihat ya harus diperhatikan dong, Pi. Belanjaan mami ini kan nggak kelihatan pemakaiannya. Siapa yang peduli mami goreng ayam pakai minyak goreng merk apa? Siapa juga yang mau nanya-nanya mami nyuci bajunya pakai deterjen merk apa? Nggak ada, kan, Pi?”
Kak Riko diam. Entah karena jawabanku yang tak terbantah atau karena dia tidak ingin terlihat ribut di tempat umum.
**

Malam itu, kembali kak Riko menyampaikan keinginannya untuk menjual mobilku. Tentu saja, kembali pula aku bersungut cemberut dibuatnya. Jawabanku masih tetap sama “tidak mau”.
“Oke. Nggak masalah kalau mami tetap tidak mau,” ucap kak Riko sangat tegas kali ini. Hal ini dapat kurasakan dari intonasi suaranya.
“Tapi mami harus bayar sendiri sisa angsuran mobil itu,” ujarnya kemudian.
“What?” aku terkejut mendengarnya. Tega-teganya dia. Suami macam mana ini?
“Penghasilan mami kan hanya cukup untuk modal beli bahan-bahan kue lagi, Pi. Pesanan kue Mami juga tidak terlalu banyak. Papi tahu sendiri, kan? Pesanan kue-kue Mami hanya ramai di bulan-bulan tertentu saja,” balasku.
“Papi, segenting apa sih permasalahan yang terjadi pada bisnis papi? Kok kekurangan uang sampai segitu parahnya?” aku bertanya seakan menyalahkan kak Riko yang tidak becus mengurus bisnisnya itu, sampai-sampai dia menuntut aku yang harus berkorban. Jengkel sekali rasanya. Tapi jawaban kak Riko betul-betul di luar dugaanku.
“Usaha Papi baik-baik saja. Bisnis Papi nggak bangkrut, Mi. Tapi akan segera menjadi bangkrut kalau saja Mami tidak juga mau berubah,” ujarnya membuatku agak bingung. Berubah yang bagaimana, maksud dia itu.
“Sekali ini saja, tolong dengarkan kata-kata Papi. Jangan dibantah dulu kalau Papi belum selesai bicara,” tegasnya lagi.
“Selama ini, siapa yang harus membayar angsuran mobil Mami? Papi, kan?”
“Selama ini, tetiba tanggal gajian karyawan Mami, Mami selalu bilang kalau pemasukan belum mencukupi untuk membayar mereka. Lalu, siapa yang selalu nombokin bisnis Mami ini? Papi, kan?”
“Selama ini, tetiba tanggal pembayaran angsuran pembelian alat-alat bakery mami itu, mami juga selalu mengatakan alasan yang sama. Lalu, siapa yang membayar, Mi? Papi lagi, kan?”
“Lalu, kemana hasil dari bisnis Mami selama ini?”
“Papi yakin, Mami habiskan untuk ikut arisan ini arisan itu yang sama sekali tidak pernah terlihat hasilnya itu. Mami juga pakai untuk beli ini beli itu yang lebih sering tak ada manfaatnya itu. Iya, kan, Mi?”
“Mami, Papi bukannya mau menuntut hasil dari bisnisnya Mami. Penghasilan dari bisnis mami adalah haknya mami. Namun alangkah baiknya jika Mami bisa bersikap bijak. Mami harus bisa memilah, mana yang penting, kurang penting, dan yang tidak penting sama sekali buat Mami. Mami harus bisa memahami mana yang baik, mana yang kurang baik, dan mana yang tidak baik sama sekali untuk Mami. Semata-mata untuk kebaikan Mami. Untuk Mami, bukan untuk Papi, Mi. Mami paham maksud Papi, kan, Mi?”
Aku hanya bisa tertunduk diam. Semua yang dikatakan kak Riko itu adalah kebenaran.  Benar adanya bahwa aku ini memang boros. Penghasilanku selalu habis demi menuruti gengsi. Gengsi kalau nggak gaul sama mami-mami gaul itu, gengsi kalau nggak pakai sandang berkelas, gengsi kalau nggak mengendarai mobil keren. Selama ini, aku selalu beranggapan bahwa aku bebas menggunakan pendapatanku karena itu memang hakku.
“Mami..” kak Riko menatap lekat-lekat mataku. Hal itu justru membuatku semakin menunduk. Tak berani kutatap kedua bola matanya itu.
“Bisakah Mami untuk tidak memikirkan apa yang disebut ‘apa kata orang’ itu? Apakah Mami bisa menjamin, bahwa orang-orang lain itu selalu memikirkan apa yang akan Mami pakai?  Enggak, Mi.
Jadi, berhentilah untuk selalu memikirkan apa kata orang, Mi. Bahkan, belum tentu orang lain-orang lain itu akan mengatakan hal yang kita pikir akan mereka katakan. Paham maksud Papi, Mi?”
Ingin rasanya aku menangis membenarkan semua ucapannya itu.
                              

“Jadi, boleh ya, Mi mobilnya dijual?  Atau Mami mau bayar sendiri sisa angsurannya?” kak Riko kembali bertanya.
Kuhela nafas ini dalam-dalam, mencoba meyakinkan kembali akan kebenaran  jawaban yang akan kuberikan.
“Dijual saja, Pi.” jawabku lesu dengan tetap menundukkan kepala ini.
Entahlah, sejak percakapan ini berlangsung, leher ini seakan tak sanggup untuk kutegakkan. Leher ini serasa turut merasakan malu atas segala tingkahku.
“Ikhlas, ya, Mi?” tanya kak Riko mencoba meyakinkan dirinya akan kebenaran jawaban dariku.
Aku hanya sanggup mengangguk mengiyakan. Bahkan menatap mata suamiku sendiri rasanya aku tak sanggup. Rasa malu yang hadir setelah ditunjukkannya segala kesalahanku olehnya, membuat lidahku kelu. Tak sanggup aku membantah setiap ucapannya kali ini, padahal biasanya aku selalu mendebatnya.
“Mami, mulai saat ini dan untuk seterusnya, kita harus lebih serius lagi memikirkan dan mempersiapkan masa depan anak-anak kita, Mi.”
Kak Riko tampak serius sekali dengan ucapannya kali ini.
“Rencana Papi untuk nanti kalau mobil mami jadi dijual, Papi akan membeli sebuah sepeda motor. Mami mau kan berkendara dengan sepeda motor lagi? Kalau Mami masih malu, Mami pakai saja mobil Papi, biar Papi yang bawa sepeda motor. Setuju, kan, Mi?”
“Sesudah itu, sisa uang yang ada ingin Papi bagi, Mi. Pertama kali untuk melunasi semua pinjaman-pinjaman Mami, lalu separuh sisanya gunakanlah untuk tambahan modal usaha Mami, kalau masih ada sisa lagi, ingin Papi buatkan tabungan pendidikan untuk anak-anak kita, Mi. Sepakat, ya, Mi?” pinta kak Riko.
Sekali lagi, aku hanya sanggup untuk mengangguk, sembari tetap menundukkan kepala ini.
Diluar semua rasa kecewaku yang pernah singgah padanya, harus kuakui bahwa kak Riko adalah suami tangguh yang Tuhan hadirkan untukku.
**

Dengan sistem oper kredit, akhirnya city car cantik itu berhasil dijual dalam tempo yang tak terlalu lama. Sebagai gantinya, kak Riko membelikanku sebuah sepeda motor matic lumayan cantik dengan warna merah yang cukup menarik.
Tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya, ternyata semua berjalan biasa-biasa saja, tidak ada yang mencibir tentang kendaraan apa yang kupakai sekarang.
Benar sekali apa yang pernah suamiku katakan, bahwa apa yang kita khawatirkan akan dikatakan orang lain tentang kita, bahkan belum tentu dipikirkan oleh orang lain itu. Dengan kata lain, itu hanyalah prasangka buruk kita saja.
Terbukti, tidak ada suara sumir tentang kendaraan baruku ini. Kalaupun ada, aku bahkan tak ingin ambil pusing untuk menghiraukannya.
Dengan bersepeda motor, kini akupun merasakan nyamannya leluasa berkendara. Tentu saja, dengan bersepeda motor kini aku jarang terjebak kemacetan, karena dengannya bisa kulalui jalan-jalan kecil yang sebelumnya tak pernah bisa kulalui dengan kendaran roda empat.
Berkendara dengan sepeda motor juga menghemat pengeluaran. Bayangkan, dengan tujuan dan rute perjalanan yang sama, selisih jumlah bahan bakar yang harus dibelanjakan pun ternyata sangat signifikan bila dibandingkan berkendara dengan mobil. Belum lagi jika terjebak kemacetan. Berapa banyak bahan bakar yang menguap sia-sia? Artinya pula, berapa rupiah yang terbuang percuma?
Kini akupun tidak merasa gengsi lagi ketika harus menggunakan mobil lawas kak Riko untuk pergi berbelanja bahan-bahan kue, mengantarkan pesanan-pesanan kue, atau sekedar mengantar jemput anak-anak sekolah kala hujan turun. Tak kuhiraukan lagi tampilan luarnya, kini bagiku yang terpenting adalah fungsinya.
**

Kini, tak lagi pernah kurasakan resah seperti perasaan resah saat akan tiba tenggat waktu pembayaran hutang, karena hutang-hutang itu tak ada lagi.
Kini, aku juga tak perlu risau lagi memikirkan dari mana akan dapat suntikan dana untuk membayar arisan-arisan heboh yang justru membuat boros itu. Aku telah belajar untuk lebih selektif memilih arisan mana yang lebih bermanfaat untuk kuikuti.
Kini, aku juga tak pernah lagi merasakan gundah jika tak ada baju baru, tas baru, sepatu baru, dan perangkat sandang baru lain.  Aku juga sudah belajar untuk pintar mengkombinasikan ketersediaan sandang yang sudah kumiliki sehingga terlihat belum pernah kupakai.
Akupun kini telah belajar untuk bisa mengerem nafsu gila belanja itu. Kusadari, belanja itu memang mengasyikkan, tapi ternyata jauh lebih mengasyikkan kalau kita paham dengan kebutuhan berbelanja. Hal ini kusadari ketika pada suatu waktu disaat sedang kubongkar isi lemari, kudapati di sana banyak sandang, dan aneka pernak pernik yang baru satu kali kupakai, bahkan ada beberapa di antaranya yang bahkan belum pernah kupakai sama sekali, karena pada saat itu membelinya disebabkan oleh penyakit lapar mata, bukan karena kebutuhan.
Kusadari dengan bahagia kini, bahwa ternyata menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan itu super nikmat. Sederhana itu ternyata sangat indah.
Merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki membuat hidup terasa lebih tenang dan kita akan merasa sangat nyaman menjalaninya.
Merasa tenang, karena tak ada tekanan-tekanan yang kerap membuat risau kehidupan, seperti hutang misalnya, entah itu berupa angsuran kredit mobil, rumah, dan berbagai penunjang kemewahan duniawi lain.
Merasa nyaman karena tak banyak beban pikiran yang menghimpit. Tidur di rumah sederhana terasa nyaman, mengendarai kendaraan sederhana pun rasanya baik-baik saja.
Hidup sederhana itu indah, karena kita tak lagi silau dengan kemewahan dunia yang semu. Kesederhanaan membuat kita dapat melihat keindahan di setiap hal yang tidak mewah sekalipun.
Menjalani hidup dengan kesederhanaan telah memberikan aku ruang untuk berpikir lebih dalam atas makna kehidupan ini.

(story 5, You Can Lean On Me)

Kamis, 23 Februari 2017

JEALOUS ITU NGGAK DELICIOUS




Satu Kisah Inspiratif dari Buku YOU CAN LEAN ON ME

Dia masih cantik. Sangat cantik malah. Padahal usianya beberapa tahun di atasku, tiga orang putranya pun sudah besar-besar. Badannya masih saja langsing, seperti tak ada perubahan sama sekali. Malah semakin bertambah cantik saja.
Bandingkan dengan diriku. Putraku baru dua dan masih balita semua, tapi bentuk tubuhku sudah seperti ibu-ibu berputra lima. Gendutnya minta ampun. Lebih tepatnya sih, hanya pipi yang tembem, lengan yang gembil, perut buncit, paha yang kempal dan pantat yang lebar. Agak terlalu hiperbola sih penggambaran tentang fisikku sekarang, tapi apalagi itu namanya kalau bukan gendut. Perubahan fisik yang membuatku menjadi tidak begitu percaya diri lagi.
Tiba-tiba dada ini menjadi bergemuruh. “Mas Ivan tidak boleh tahu. Mas Ivan tidak boleh menemukan akun facebook perempuan ini!” jerit suara hatiku.
Teringat semasa remaja dulu, bagaimana mas Ivan yang meskipun sekarang telah menjadi suamiku, tapi dulu begitu menginginkan perempuan itu.
Teringat betul olehku, saat mas Ivan yang kala itu adalah sahabat kakakku, sering meminta bantuan kakakku untuk membuatkan surat cinta bagi gadis pujaannya itu. Aku tahu, karena waktu itu kakakku sering meminta pendapatku tentang isi suratnya.
Masih terekam jelas olehku, bagaimana girangnya mas Ivan ketika cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Semua kisah itu jelas masih membekas di memori otakku, terlebih karena sejak mas Ivan dekat dengan perempuan itu, hubungannya dengan kakakku menjadi sedikit renggang, waktunya dihabiskan untuk berduaan terus dengan kekasihnya itu, sedangkan kakakku justru menjadi semakin dekat denganku karenanya.
Kenangan itu menari-nari di kepalaku, dan hentakannya seakan menendang nuraniku. Aku tahu, aku sedang dilanda cemburu yang amat sangat.
Tiba-tiba saja aku segera tergerak untuk men-stalking akun facebook-nya mas Ivan. Langsung saja kuintip daftar pertemanannya. Jantungku berdentum-dentum tak beraturan, darah ini mendidih begitu cepat saat kutemui profil perempuan itu berada di daftar pertemanannya. Itu artinya, mereka telah terhubung kembali.
Tak kusangka, mas Ivan sudah berteman dengan perempuan itu tanpa persetujuanku, padahal dia tahu, diantara beberapa perempuan yang pernah dekat dengannnya, hanya dialah satu-satunya yang paling tidak kusukai. Entah apa alasannya, aku begitu ‘illfeel’ dengan perempuan yang satu ini.
Berjuta rasa curiga langsung menderaku.  Sudah berapa lamakah pertemanan di dunia maya ini berlangsung? Kenapa mas Ivan tidak pernah menceritakannya padaku? Pasti ada apa-apa diantara mereka. Sudahkah mereka bertemu secara langsung?
 Membayangkan mereka berjumpa, bertegur sapa mesra satu sama lain, saling mengingat kisah mereka di masa lalu?
Oh, Tuhan. Aku tidak kuat membayangkan semua itu.
Begitu saja air mata ini berjatuhan tak terbendung lagi. Kubantingkan badan suburku itu di kasur, kubenamkan wajah sembab itu di antara bantal-bantal empuk di sana. Isak ini tak dapat kukendalikan lagi. Semakin menjadi-jadi saja.
Putra-putra kecilku kubuat kebingungan dengan keadaanku ini.
“Mama, kenapa?” tanya si sulung yang belum genap empat tahun usianya itu.
“Mama anis, mama atit, kakak,” dengan suara cedalnya itu, putra bungsuku berusaha menjelaskan kondisiku kepada kakaknya.
Masih dengan terisak, segera kupeluk kedua buah hatiku. Mereka tak akan pernah mengerti tentang sakit yang sedang diderita oleh mamanya. Meskipun tidak memahami tentang apa yang terjadi dengan mamanya, mereka seperti mengerti perasaanku. Tangan-tangan mungil keduanya mengelus pelan rambutku. Bergantian mereka memelukku. Mereka berusaha menghiburku, berusaha menghentikan tangisanku, persis seperti yang biasa aku lakukan kepada mereka jika mereka menangis. Oh, sayangku, permata hati mama, hanya kalianlah pelipur lara mama.
                                  **

Sore itu mas Ivan pulang dan aku hanya diam saja. Diam saat menyambutnya, diam saat mengambilkan pakaian gantinya, juga diam saat menemaninya makan malam. Semua rutinitasku untuknya tetap kujalani meskipun dalam diam, dengan wajah muram tentu saja.
Seharusnya mas Ivan menyadari bahwa ada yang berbeda pada diriku, tapi dia cuek saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Sungguh kesal aku dibuatnya. Maka, akupun mulai uring-uringan dalam diam. Maksudnya, meskipun tidak berbicara sepatah katapun, tapi semua kulakukan dengan setengah mengamuk, pintu kamar kututup dengan keras, kursi kugeser dengan kasar, perkakas dapur kuletakkan dengan serampangan sehingga menimbulkan bunyi klontang-klontang. Tentu saja, aksiku ini cukup menarik perhatiannya untuk segera menegurku.
“Mama kenapa, sih?” tanya mas Ivan memprotes tingkahku itu.
Aku masih tetap diam dengan wajah cemberut.
“Ditanya kok diam saja, sih, Ma?” tanyanya sambil beranjak mendekatiku.
Masih dengan aksi diamku, wajahku semakin mengerucut saja.
“Papa salah, ya, Ma?”
Malah kujawab pertanyaannya itu dengan berlari ke kamar dan membenamkan lagi wajahku dalam bantal. Tangisku mulai pecah.
Bodohnya aku, menganggap seakan mas Ivan bisa langsung mengetahui isi hatiku. Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau aku hanya diam saja, tak mengindahkan setiap penasarannya. Sama sekali tak kusadari kebodohan ini karena aku telah larut dalam kubangan emosi.
“Mama kenapa, sih? Papa salah apa? Ngomong dong, Ma,” tanya mas Ivan yang kini sudah berada di sampingku, menyentuh pundakku, berusaha membalikkan tubuhku, tetapi aku justru semakain kuat membenamkan wajah sembabku.
“Ya, sudah, kalau mama tidak mau bilang ada apa,” kata mas Ivan sambil beranjak pergi meninggalkanku yang masih terisak.
Laki-laki memang tidak peka perasaannya. Dalam amarahku yang tidak jelas baginya ini, aku ingin dia datang memelukku, tak perlu mendesakku dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum siap kujawab. Eh, dia malah pergi meninggalkan aku tanpa ada usaha menghibur sama sekali. Apa semua laki-laki memang begitu? ‘Nggak peka’.
Isakku semakin menjadi. Aku tahu, tangisku itu percuma saja, dia tidak akan pernah tahu ‘Ada apa?’ jika aku tidak segera menjelaskan hal apa yang membuatku menangis. Baginya, tangisku mungkin tanpa sebab, tapi bagiku, aku menangis disebabkan karena dia.
Maka, ketika aku sudah mulai bisa mengendalikan isakku, kuhampiri mas Ivan yang tengah asyik dengan smartphonenya itu. Melihat smartphone itu berada di tangannya, hatiku malah jadi tak tenang lagi. Jangan-jangan dia sedang bertukar pesan dengan perempuan itu. Kukuatkan hatiku, kumantapkan langkah kakiku mendekatinya. Aku mulai duduk disampingnya. Kulirik dengan ujung mataku smartphone itu, ada kelegaan bahwa ternyata dia hanya sedang membaca sebuah berita di surat kabar online.
“Sudah nangisnya? Ada apa sih, Ma, pakai nangis-nangis nggak jelas gitu?” tanya mas Ivan sambil meletakkan smartphonenya.
Aku memulai lagi aksi cemberutku, tapi kali ini kubulatkan tekad untuk bertanya perihal pertemanannya dengan perempuan itu di dunia maya.
“Memangnya salah, ya, Ma? Papa kan nggak ada apa- apa lagi sama perempuan itu.” Mas Ivan bertanya sambil juga membela dirinya.
“Salah !” sangat yakin aku menjawabnya, dengan intonasi tinggi pula.
“Papa kan tahu kalau mama paling tidak suka dengan perempuan itu. Harusnya papa bilang dulu sama mama.” Suaraku semakin meninggi penuh emosi, seraya menahan tangis yang hampir meledak lagi. Aku memang cengeng, dengan hal yang remeh temeh saja aku mudah mengalirkan air mata, apalagi dengan hal yang sangat sensitif seperti ini.
“Memangnya papa harus selalu lapor dulu sama mama dengan siapa saja papa berteman?” suara mas Ivan mulai meninggi juga.
“Dengan perempuan itu, ini harus, Pa.” Tak dapat kutahan lagi emosiku. Kesal, marah, sedih, bercampur menjadi satu. Bulir air mata itu mulai menetes di pipi.
“Papa tak habis pikir, picik sekali cara berpikir mama,” ucap mas Ivan sambil pergi meninggalkanku yang masih terisak.
Tangisku semakin menjadi, air mata deras membanjiri. Cushion yang tadi kupeluk itu, kini basah sudah karena tangisku.
Mas Ivan memang tidak berperasaan. Meskipun kesal, tidak seharusnya dia begitu saja meninggalkan aku. Membelaiku saja tidak, apalagi memelukku. Padahal hanya itulah yang kubutuhkan saat sedang kesal seperti ini.
Sekuat tenaga kuredakan tangisku, berjalan memasuki kamar tidur Adit dan Alif, kedua putra kecilku. Kupandangi mereka yang tengah tertidur pulas. Hanya ada kedamaian yang kutemukan di wajah-wajah imut itu. Bergantian, kukecup kening mungil mereka, lalu perlahan kurebahkan badanku di antara keduanya. Malam ini, aku hanya ingin tidur bersama kedua malaikat kecilku ini. Tak peduli dengan mas Ivan yang juga tak peduli dengan perasaanku, biarlah dia tidur sendiri saja malam ini.
                                   **

“Mama masih marah?” mas Ivan bertanya dengan menyunggingkan senyumnya.
Aku hanya tersenyum kecut, diam tak menjawab pertanyaannya itu.
“Mama, mama, seperti anak kecil saja. Sudah, jangan ngambek lagi,” ujarnya enteng sambil mencium keningku sebelum pergi bekerja.
Begitu santainya dia menanggapi permasalahan ini. Kesal, marah, sedih berkumpul menjadi satu kembali, tapi kali ini aku hanya diam saja, berusaha menahan emosiku demi menjaga suasana hatinya di pagi ini.
                                  **

Baru saja kututup pintu ketika kusadari smartphone mas Ivan tertinggal. Kuamati benda itu, tergelitik untuk mengambilnya. Tak hanya itu, kuperiksa setiap pesan yang ada. Jantungku seakan berhenti berdetak ketika kujumpai pesan singkat itu. Sebuah pesan sederhana, tapi bagaikan belati tajam yang menghujam jantungku.
“Apa kabar, Indah? Kamu tak banyak berubah, ya. Masih saja cantik seperti dulu. Semakin dewasa, semakin memesona saja.”
Ah, kamu bisa saja, Van.”
“Sekarang tinggal dimana, In?”
Bla......bla......bla...... Mata ini berkaca-kaca membaca pesan singkat itu. Mas Ivan sungguh keterlaluan. Tega-teganya dia memuji wanita lain.
Tak berapa lama, kudengar suara pintu pagar yang sedang dibuka. Mas ivan kembali, dia pasti sudah menyadari bahwa smartphonenya tertinggal.
Segera kubukakan pintu, dan aku yang saat itu tak dapat menahan emosi, segera meluapkannya.
“Apa ini, Pa?” singkat saja pertanyaan yang kuutarakan dengan penuh amarah itu.
Mas Ivan tidak menjawab. Direbutnya smartphone itu dari tanganku. Aku tak dapat menahannya, mungkin karena aku kurang kuat menggenggam benda itu.
“Mama jangan kekanak-kanakan, ya,” ucapnya sambil memandangiku dengan tajam, lalu secepat kilat pergi lagi meninggalkanku yang hanya bisa diam membeku menatap kepergiannya.
Ingin kuledakkan tangisku lagi kalau saja tidak kudengar suara Adit dan Alif memanggilku. Kuhampiri mereka. Segera aku tenggelam dalam aktifitas pengasuhanku. Sejenak kulupakan kesedihan ini. Adit dan Alif benar-benar pelipur lara yang sempurna bagiku.
                                **

Karena tak dapat menahan lara ini, sengaja kujumpai kak Juna, kakak semata wayangku. Kuceritakan seluruh gundah yang sedang menimpaku. Kutanyakan, seberapa jauh hubungan mas Ivan dengan perempuan itu di masa lampau. Walaupun akan terasa sakit mendengarnya, aku mencoba untuk siap.
“Ah, itu hanya perasaan cemburumu yang berlebihan saja, Mbim,” ucap enteng kak Juna. Kak Arjuna biasa memanggilku Mbimbim, padahal namaku sangatlah cantik, yaitu Dewi Arimbi, seperti nama tokoh pewayangan.
“Iya, aku tahu aku cemburu. Wajar, kan Kak, namanya juga cinta,” ujarku membela diri.
“Cemburu itu wajar, karena cemburu adalah cinta. Yang bisa merusak itu adalah cara yang buruk saat menghadapi cemburu. Ya, seperti caramu itu, Mbim. Uring-uringan nggak jelas.” Kak Juna berucap sambil menatapku lekat.  
“Tahukah kamu, Mbim, bahwa rasa yang selalu mengikuti kemanapun cemburu pergi itu adalah curiga. Mereka seperti tak dapat dipisahkan. Saat cemburu datang, pasti ada curiga disitu. Jika cemburu itu adalah rasa sayang, maka curiga adalah rasa tak mau kehilangan,” ujarnya lagi. Matanya mulai menerawang, tak lagi menatapku seperti tadi. Entah apa yang sedang dibayangkannya.
“Kamu cemburu karena tak ingin kehilangan Ivan yang kau kira telah kau menangkan hatinya itu, kan?” tanyanya kemudian.
“Aku memang benar-benar telah memenangkan hatinya, mas. Sampai kemudian perempuan itu datang lagi,” jawabku penuh dengan rasa geram yang kutahan.
“Aku takut akan kehilangan hatinya, Kak,” lanjutku.
“Kamu akan benar-benar kehilangan hatinya kalau tetap kamu teruskan model cemburumu yang seperti itu. Memang betul jika dikatakan cemburu itu adalah rasa takut akan kehilangan, tapi cemburu yang berlebihan justru akan menyebabkan kehilangan. Kakak tahu kamu sedang marah, tapi yakinlah, marahmu itu bukan karena buruknya keadaan, tapi sekedar karena suasana hatimulah yang sedang buruk. Sekarang pulanglah, temui keluargamu, bicarakan baik-baik apa yang menjadi ganjalan hatimu itu dengan suamimu. Jangan terbawa emosi,” kata kak Arjuna memberikan sarannya.
                                 **

Seperti tak pernah terjadi apa-apa, sore itu kami sudah bersikap seperti biasa. Ini semua karena anak-anak yang saat ini sedang sangat manja dengan kami. Adit selalu mengikutiku dan menirukan semua hal yang kulakukan, sementara Alif selalu menempel pada papanya. Dengan suara cedalnya yang lucu, apa saja bisa menjadi pertanyaan, dan papanya selalu menanggapi semua celoteh anak itu.
Rasanya tak ingin merusak kedamaian ini. Tapi bayang-bayang perempuan bernama Indah itu terlalu mengusikku. Tak dapat kutahan gelisah ini bila tak ada kejelasan mengenai hubungan mas Ivan dengan perempuan itu. Kucoba untuk mengikuti saran kak Arjuna, maka kuberanikan diri membahas hal itu lagi dengan suamiku itu. Dengan sangat berhati-hati, karena takut kembali larut dalam emosi.
“Kalau memang bisa membuat mama lega dan tidak uring-uringan lagi, akan papa hapus pertemanan papa dengannya. Akan papa hapus nomer kontaknya dari telepon selular papa.”
Aku tak menduga, juga tak percaya dengan yang kudengar pada ucapannya itu.
“Tapi sebelum papa hapus, ada yang ingin papa tunjukkan sama mama,” katanya membuatku penasaran.
“LIhatlah dia, Mama. Perhatikan foto-fotonya!” Pinta mas Ivan. Pikiran negatif itu masih menguasaiku saat mas Ivan membuka facebook perempuan dari masa lalunya yang bernama Indah itu, dan memintaku untuk mencermati album fotonya. Untuk apa mas Ivan memintaku untuk memperhatikan foto-foto perempuan yang sangat tidak kusukai itu? Meskipun dengan rasa cemburu yang sangat panas membakar, tetap kulihat juga foto-foto itu.
“Dia cantik ya, Ma? Mama cemburu karena dia cantik, kan?” pertanyaan suamiku itu bagaikan mata pisau yang menancap di jantungku.
“Tapi bagi papa, tidak ada yang lebih cantik selain mama.” Mas Ivan mulai dengan rayuan gombalnya.
“Sini, Ma,” ujarnya sambil menarik tubuhku untuk lebih mendekat lagi kepadanya.
“Lihat foto-foto ini dengan seksama, Ma. Dia terlihat begitu bahagia dengan keluarganya. Coba mama perhatikan foto-foto mesra dia dengan suaminya, juga dengan anak-anaknya. Cermati ekspresi bahagia keluarga itu. Apakah mungkin dia akan meninggalkan semua itu hanya demi papa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua kebahagiaan yang telah diperolehnya itu?” tanya mas Ivan kepadaku dengan raut wajah yang serius.
Kupandangi foto-foto yang diupload perempuan itu di akun facebooknya. Wajah-wajah ceria penuh dengan kegembiraan dengan latar belakang tempat-tempat liburan terkenal di luar negeri. Disneyland, menara Eiffel, patung Liberty, air terjun Niagara, pantai Pattaya.  Ooh, keluarga bahagia ini telah berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat indah yang bahkan memimpikannya saja aku tak pernah.
Kemudian mas Ivan beralih ke akun facebooknya. Dia membuka album foto miliknya, memperlihatkan kepadaku foto-foto yang telah dipostingnya.
“Lihat, Ma. Perhatikan dengan cermat ekspresi wajah papa di setiap foto yang ada. Saat papa menggandeng mesra tangan mama, menggendong penuh sayang Adit dan Alif, meskipun hanya berlatar belakang halaman rumah kita. Papa nampak sangat bahagia, kan, Ma? Jadi, untuk apa papa mengorbankan kebahagiaan yang tiada tara ini hanya untuk perempuan lain yang bahkan tidak pernah mengharapkan papa.” Mas Ivan menatapku lekat ketika mengatakan semua itu.
Tiba-tiba aku malu harus mengakui bahwa aku malu kepada mas Ivan. Menyadari betapa kelirunya aku. Perang batin dalam diriku akibat cemburu yang keliru ini telah meluapkan emosiku dengan tidak terkontrol. Seluruh rasa cemburu itu benar-benar telah menyita perhatianku dan menguras tenagaku untuk hal-hal yang sebenarnya tak perlu ini.
Kuteteskan air mata ini, menyadari betapa konyolnya aku yang telah marah pada mas Ivan hanya karena dia telah bertemu dengan kekasih masa lalunya di dunia maya.
Berderai air mata ini, menyadari betapa bodohnya aku, telah mencurigainya dan meragukan cintanya yang luar biasa ini kepadaku.
Rasa cemburu ini sungguh terlalu. Tak henti-hentinya kukutuk diriku sendiri. Rasa cemburu itu sungguh tidak nyaman. Gelisah terus, curiga terus, galau tak berkesudahan. Nggak enak banget.
“Mama masih cemburu sama papa? Orang nggak ganteng gini kok dicemburuin,” ujar mas Ivan memaksaku untuk tersenyum dengan kalimat yang baru saja diucapkannya.
Aku diam menatapnya. Sambil menggenggam tanganku, mas Ivan berkata,
“Itu nggak perlu, Ma. Percayalah dengan papa. Di hidup papa, hanya ada mama dan anak-anak. Seluruh perjuangan papa, hanya untuk mama dan anak-anak.”
“Papa seneng deh dicemburuin sama mama. Papa jadi ge-er, nih. Papa jadi semakin yakin kalau mama tuh sayang banget sama papa, cinta banget sama papa. Tapi besok-besok jangan seperti itu lagi, ya. Senep mata papa lihat mama mewek melulu, mama juga capek kan?  Rugi, Ma, buang-buang air mata mama. Janji, ya, jangan mewek-mewek lagi,” lanjutnya berujar sambil menyentil mesra hidungku yang memerah itu.
                                 **

Termenung merenungkan semua yang baru saja kulewati, semakin mendewasakan pikiranku akan dalamnya makna mencintai dan dicintai.
Setiap cinta itu memiliki setetes cemburu di dalamnya, tetapi tetesan cemburuku terlalu banyak, membanjiri sanubariku, hingga hampir saja merusak nalarku.
“Banyak cinta yang datang sekedar menghampiri, tetapi hanya cinta mama yang bisa menetap dan papa merasa nyaman menjadi orang yang mama cintai,” ucap mas Ivan sambil membelai mesra rambutku.
Ya. Mulai saat ini dan untuk seterusnya, aku harus selalu mempercayai suamiku yang telah berjuang hanya untuk aku dan anak-anak kami.
Ya. Mulai saat ini dan untuk seterusnya, aku harus mengikhlaskan seluruh masa lalunya. Aku harus membesarkan hati untuk tidak mempermasalahkan segala kejadian yang telah terjadi di masa lalunya.
“Tak perlu lagi mama memikirkan hal yang selalu membuat mama sedih. Hanya akan membuat tidak nyaman hidup ini, Ma. Karena hidup hanya satu kali, mama lebih pantas tersenyum daripada menangis,” ucapnya sambil mengecup penuh kasih kening ini.
Kusadari sepenuhnya kini, bahwa rasa cemburu ini sungguh keliru, membuat segalanya terasa tak nyaman, tapi ternyata aku memerlukan singgahnya rasa cemburu ini untuk menyadari semuanya. 
(story 3, You Can Lean On Me) 

                                

Minggu, 12 Februari 2017

JUST ALL ABOUT CONSIST, MOM



Satu Cerita yang diambil dari Buku Kumpulan Kisah Inspiratif YOU CAN LEAN ON ME

“Jeng, gimana, minuman dietnya sudah habis belum?” tanya mbak Dipa.
“Belum, mbak, tinggal sedikit lagi,” jawabku.
“Efeknya sudah terasa kan, jeng? Itu produk bagus banget lho, jeng. Nanti kalau sudah habis pesennya sama mbak lagi, ya,” ujar mbak Dipa berpromosi.
“Oke.” kataku menutup perbincangan pendek itu.
Sebetulnya, ingin kukatakan bahwa produk diet dagangannya itu tidak banyak berpengaruh pada program penurunan berat badan yang sedang kujalani. Sudah harganya super duper muahal, hasilnya pun tidak seheboh testimoni-testimoni yang disertakan diiklannya.
Menurut testimoni para pemakainya sih, katanya berat badan bisa turun lebih dari 5 kilogram, bahkan ada yang bisa turun lebih dari 10 kilogram setelah mengkonsumsi minuman tersebut hanya satu box saja, dengan anjuran cara pemakaian yang tepat tentu saja.
Memang sih, berat badanku sudah mengalami penurunan sejak meminum minuman diet itu, tapi cuma turun sekilo, ha...ha..padahal sudah hampir habis satu box, lho. Tidak terlalu ngefek kan? Lebih tepatnya lagi, nggak ngefek sama sekali buatku.
“Itu karena jeng Hana tidak mengimbanginya dengan olahraga teratur dan banyak minum air putih,” jelas mbak Dipa ketika akhirnya kusampaikan juga keluhanku saat jumpa dengannya di sekolahnya anak-anak.
“He..he..iya, mbak, habisnya nggak suka olah raga, sih. Lagi pula mana sempet,  mbak,” jawabku sambil nyengir.
Tentu saja, mbak Dipa pasti akan membela produk dagangannya itu habis-habisan. Jadi, percuma saja jika aku memprotes ketidak ampuhan minuman diet dagangannya itu.
“Kurang teratur olahraga bagaimana,” batin hatiku memberontak, sedangkan aktivitas harianku itu saja bisa dikatakan sudah lebih dari olahraga. Selalu bangun paling pagi, bahkan terkadang lebih pagi dari si kukuruyuk. Menyiapkan sarapan pagi, langsung dilanjutkan beberes rumah. Kadang cuma sempat menyapu saja, sih, tidak sempat mengepel lantai karena harus segera membangunkan anak-anak, memandikan, sekaligus mendadani mereka supaya selalu tampil rapi saat akan berangkat sekolah. Setelah semua siap, langsung memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, menghidupkan mesin itu kemudian kutinggal mengantar anak-anak ke sekolah. Bahkan tidak sempat mandi pagi terlebih dulu. Iyaa, tiap pagi memang begitu. Jarang sekali bisa mandi pagi saat akan mengantar anak-anak ke sekolah mereka. Sepulang dari mengantar anak sekolah, biasanya langsung ke pasar. Nah, aku merasakan sisi positifnya nggak mandi pagi itu tuh ya saat ke pasar ini, jadi ‘feel free’, bebas pilih-pilih ikan tanpa khawatir sama bau amisnya...he..he..
Sepulang dari pasar, setelah meletakkan belanjaan ke lemari pendingin, barulah menjemur pakaian, dilanjutkan sesi olahraga berikutnya, yaitu mengepel lantai. Mengepel lantai itupun baru aku lakukan kalau pulang dari pasarnya tidak kesiangan, kalau kesiangan, yaa, acara ngepelnya lewat deh. Kok bisa kesiangan ya? Yaa, bisa saja, karena terkadang suka lupa waktu kalau sudah ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu di sekolahnya anak-anak..he..he..
Setelah semua beres, baru deh mandi pagi, terus bangunin si papa.
Kok sudah sesiang ini baru bangunin papa?
Iyaa, soalnya si papa jam ngantornya agak siang, jadi selepas sholat shubuh biasanya dia terus tidur lagi. Aku tidak pernah memprotes kebiasaan bapaknya anak-anak yang suka bangun siang ini karena dia kan kerjanya suka sampai malem. Nah, ritual membangunkan si papa ini mesti dalam kondisi wangi, biarpun si papanya bau jigong..hi..hi..
Mengambilkan handuknya, menyiapkan semua keperluannya, sampai menemani sarapan pagi, semuanya mesti dilayani. Si papa memang paling manja. Lebih manja daripada anak-anaknya.
Setelah si papa pergi kerja, baru deh dvd aerobik, salsa, zumba, dan teman-temannya itu kusetel. Kuikuti seluruh gerakannnya dengan seksama dari awal hingga akhir dengan kondisi pintu rumah terkunci rapat. Rasanya malu saja kalau sampai ada yang memergoki aku sedang senam aerobik, berjoget salsa ataupun berzumba ria, apalagi kalau yang memergoki itu si papa. Maluuu, habisnya si papa suka ngledekin sih.
Melatih kebugaran dengan berolah tubuh seorang diri dengan panduan dvd seharusnya rutin kulakukan setiap hari. Aku pasang target untuk bisa terus menjalani senam ini secara rutin, setidaknya lima hari dalam seminggu mulai dari hari senin hingga hari jumat (meskipun pada kenyataannya ternyata hanya setengah rutin ..he..he..)
Dengan semua aktivitas tadi, aku masih dibilang kurang teratur olahraga? Kurang apa lagi, coba? Mungkin perlu ditambah dengan jogging, ya. Tapi kalau bukan pas hari libur mana sempat. Tapi nggak ada salahnya sih dicoba dulu, setiap sabtu dan minggu pagi mulai rajin jogging.  Maka segeralah kubulatkan tekad itu dalam hati.
Dan di sabtu pagi yang ceria itu, kubangunkan si papa lebih pagi dari biasanya.
“Pa, kita jogging ke taman sama anak-anak, yuk?”
Kusampaikan segera maksudku itu ketika kulihat si papa sudah mulai menggeliat terbangun dari tidur nyenyaknya.
“Papa sudah jogging tadi, ma,” jawabnya.
“Hah, kapan? Kok mama nggak lihat papa pergi. Lihat papa bangun saja baru sekarang ini, pa,” tanyaku tak percaya dengan ucapan suamiku itu. Dia pasti hanya bercanda, batinku. Dan.... Benarlah dugaanku,
“Sudah, Ma, barusan papa tadi jogging di dalam mimpi. Nih, masih ngos-ngosan nafas papa,” jawabnya sambil menarik selimut dan kembali memejamkan matanya.
Kutinggalkan si papa dengan hati mendongkol. Dan kejadian persis sama seperti itu terulang lagi keesokan harinya. Rasa dongkolku semakin bertumpuk-tumpuk. Dasar si papa, paling males kalau diminta beraktifitas di pagi hari.
Batal sudah niat untuk rajin jogging. Sebetulnya bisa saja aku berangkat jogging seorang diri, tapi kalau papanya saja masih terlelap seperti itu, siapa yang menjaga anak-anak?
                             **

Aerobik setengah rutin kujalani, keinginan untuk rajin jogging tiap hari libur   sirna sudah, yang ada badan menjadi bertambah subur.
“Weekend itu family time.” Begitu kata si papa. Jadinya ya, tiap hari sabtu atau hari minggu itu adalah moment untuk keluarga, kumpul-kumpul bersama suami dan anak-anak dalam suasana yang sedikit berbeda dari hari-hari biasanya, dan kumpul-kumpul itu terasa tidak lengkap kalau tidak ada acara makan-makannya. Entah itu masak sendiri atau jajan di restoran, pokoknya kalau weekend masakannya harus istimewa. Istimewa itu adalah makanan yang kaya kalori bertabur lemak, dan kalau anak-anak tidak menyantap habis makanan mereka, siapa yang biasanya menghabiskan? Yaa.. Siapa lagi kalau bukan si mama..ha..ha... Kalau begitu terus, semakin menggunung saja perut si mama.
Berat menanggung gendut ini, apalagi jika teringat celoteh si kecil kala itu,
“Kakak, kita mau punya adik lagi, ya?” tanya Dinda, putri kecilku kepada Nanda kakaknya, dan Nanda hanya tersenyum saja sambil melirikku, bergantian matanya memandangi perutku, lalu mataku, seakan menanti aku yang akan menjawab pertanyaan adiknya itu.
Malangnya aku, aku hanya bisa tersenyum kecut, sementara si papa cengar cengir meledekku.
Itu belumlah seberapa. Yang lebih sakit menusuk hati adalah ketika di suatu kesempatan yang lain, ketika si papa berkata “Mama, kok sekarang perut sama dada sama mancungnya ya?”  wuaaaaa, meskipun kutahu kalau itu hanya candanya, sakitnya itu lho, sampai menembus ubun-ubun. Jadi kepikiran terus bagaimana caranya mengempeskan perut yang kian membuncit oleh timbunan lemak ini. Pil diet, susu diet sampai korset pelangsing yang harganya muahal selangit itu sudah kucoba semua. Hasilnya, nihil.
                                    **

“Jeng Hana, minuman dietnya mau nambah lagi nggak? Khusus untuk pembelian bulan ini ada bonus istimewa lho, jeng,” ujar mbak Dipa menawarkan lagi dagangannya itu kepadaku.
“Oya, bonus apa itu, mbak?” tanyaku
“Ini lho, jeng Hana, beli satu box minuman pelangsing dapat bonus lima sachet susu ini,” mbak Dipa menjelaskan sambil menunjukkan sachet susu berwarna jingga muda itu.
“Susu ini banyak khasiatnya, jeng. Antara lain, menghindarkan dari penyakit osteoporosis, membuat organ wanita kita sehat dan kulit menjadi putih merona,” jelasnya lebih lanjut dengan penuh semangat dagangnya.
Ayaaiyaaa... Aku mulai sedikit tergoda, nih.
“Jadi berapa harganya, mbak, kalau sedang promo seperti ini?” tanyaku lagi.
“Masih sama, jeng,” jawabnya singkat.
“Nggak ada diskon nih, mbak?” tanyaku semakin penasaran.
“Ya, nggak ada lah, jeng, kan sudah dikasih bonus. Ambil lagi, ya, jeng, minuman dietnya,” katanya setengah mendesakku.
“Hmmm, aku pikir-pikir dulu deh, mbak. Besok aku kabari ya, mbak,” ujarku kemudian yang masih menimbang-nimbang antara keinginan dan ketersediaan dana.
“Sudahlah, dibawa saja dulu barangnya,” mbak Dipa semakin mendesakku.
“Aduh, mbak, hari ini aku hanya bersepeda motor, mana masih harus mampir ke pasar dulu, takutnya nanti malah terjatuh dan hilang.” Akhirnya kutemukan jawaban untuk menolak dengan halus desakannya yang maha kuat itu.
“Oke, deh,” mbak Dipa menyerah kali ini.
Kurasa, alasanku tadi cukup mengena.
                                   **

Karena sedikit tergoda oleh penawaran mbak Dipa pagi tadi, maka kukorek-koreklah semua dompet yang ada, memeriksa jumlah uang belanja yang masih tersisa. Hmmm...sepertinya tidak mencukupi ini, tapi sayang kalau harus menarik tabungan. Bisa-bisa si papa malah marah. Atau, lebih baik jika meminta tambahan dana dari papa saja, ya. Tapii, nanti si papa malah jadi tahu kalau aku lagi diet, nanti diledekin lagi deh. Haduuuh, maka berkecamuklah segala ragu itu.
Tapi malam itu, sesudah selesai makan malam, saat si papa sedang santai bersama gadgetnya, akhirnya jadi juga kusampaikan keinginanku meminta tambahan dana kepada si papa untuk membeli minuman diet dagangannya mbak Dipa yang menggoda itu.
“Jadi, selama ini mama diet, ya?” tanya si papa dengan senyum nyengirnya.
“”Sudah ada hasilnya belum? Kok masih seperti biasa?” senyum nyengirnya semakin menjadi.
“Papa kira kalau habis minum susu diet terus jadi kembali sweet seventeen, gitu.” candanya.
Nyengirnya itu lho, bikin senewen.
“Sudah ah, pa, jangan bercanda terus. Mama serius. Mama baru mengkonsumsi sebanyak satu box, jadi ya wajar dong kalau belum terlihat hasilnya,” sanggahku memprotes candanya itu.
“Berapa harga satu boxnya, ma?”
Akhirnya pertanyaan yang kutunggu-tunggu itu keluar juga dari mulutnya. Lalu kubisikkan harga minuman diet itu, dan persis seperti dugaanku, mata si papa langsung melotot ke arahku.
“Mahal banget, ma. Mama pernah membeli satu box. Dari mana dapat uangnya, ma? Kata mama, uang belanja tidak pernah ada sisa, bisnis baju online mama juga sedang tidak mama jalankan. Iya, kan, Ma?” Pertanyaan si papa segera menciutkan nyaliku.
“Yaa, dari menyisihkan uang belanja. Sebenarnya masih ada sisa sedikit sih, Pa. ” Kujawab pertanyaan itu sambil tertunduk. Aku pasrah apabila si papa nanti akan marah padaku.
Diam.
Kulirik si papa. Dia balas melirikku. Kuturunkan pandangan mataku, masih takut si papa akan meledakkan amarahnya.
“Memangnya kenapa sih mama ingin diet?” pelan suara si papa.
Bayangan amarah yang menggelegar itu segera sirna. Wajah si papa datar saja.
Tapi pertanyaan itu cukup berhasil membuatku menitikkan air mata.
“Supaya mama langsing lagi seperti dulu, pa,” jawabku dengan isak tertahan.
“Supaya papa tidak melirik perempuan yang selangsing mama dulu, pa.” Kali ini isak itu tak dapat kutahan lagi.
Membayangkan betapa langsingnya aku dulu. Membayangkan betapa mesranya kami saat itu.
Si papa menggeser posisi duduknya mendekatiku, kemudian merangkul pundakku, mendekatkan kepalaku ke pundaknya. Refleks, akupun menyandarkan kepalaku ke pundaknya.
“Papa nggak keberatan mama menjadi gendut, yang penting mama sehat. Mama menjadi gendut karena melahirkan anak-anak papa. Bayangkan, di perut ini dulu ada Nanda, kemudian Dinda, putri-putri cantik kita,” kata si papa sambil mengelus perut buncitku.
“Pinggul mama yang melebar, pantat mama yang jadi membesar, itu semua karena mama sudah menjadi wanita sempurna buat papa,” katanya lagi sambil mencium keningku.
Berderai air mata ini dengan isak-isak yang tertahan itu. Terharu banget dengan uraian papa ini.
“Lagi pula, kita ini sudah semakin menua, mama. Metabolisme semakin melambat lajunya. Yang penting mama sehat. Itu saja yang papa minta dari mama. Papa tidak bisa membayangkam bagaimana repotnya kalau sampai mama jatuh sakit,” lanjut si papa.
“Sudah, nggak usah pakai mewek begitu,”katanya sambil melonggarkan pelukannya.
Kuhapus air mataku. Kok jadi melow begini, ya. “Dasar cengeng” umpatku dalam hati pada diriku sendiri.
Si papa melanjutkan bicaranya,
“Mama kan bisa tuh, menyisihkan uang belanja, teruskan saja, ma. Nah, kalau sudah mencapai setengah dari harga treadmill yang waktu itu pernah kita lihat, nanti papa tambahin, deh.”
“Papa mau kita beli treadmill, ya, pa? Beneran, pa?” tanyaku setengah tak percaya dengan ucapan si papa yang baru saja kudengar.
Keinginan untuk membeli treadmill ini jauh hari yang lalu sudah pernah kusampaikan kepadanya, tetapi kala itu si papa hanya berujar,
“Ah, nanti juga cuma akan jadi pajangan.” Itu artinya si papa tidak setuju. Tapi kali ini, aku seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya.
“Bukan agar supaya mama menjadi langsing, tapi supaya mama jadi rajin berolahraga, supaya mama bugar dan sehat selalu. Lagi pula, supaya papa juga bisa ikut olahraga kapan saja papa sempat,” jelas si papa seolah menghapus semua keraguan dan ketidakpercayaanku barusan.
Aku yakin, pada saat itu pastilah mataku memancarkan binar-binar kebahagiaan, pastilah juga senyumku mengembang, ada kelegaan membuncah di hati dengan akhir perbincangan kami ini.
                                 **
Tepat sekali apa yang tersirat dari pesan suamiku tercinta, bahwa mama itu tidak boleh sakit, karena mama adalah andalan anak-anak, karena mama adalah andalan papa. Tak perlu berlapar-lapar hanya agar langsing. Kalau pola makannya tidak tepat, berat badan malah akan jadi seperti permainan yoyo, naik turun, naik turun terus. Belum lagi tekanan darah yang bisa turun drastis.
Berlapar-lapar itu penderitaan. Bukan hanya derita perih menahan lapar, tapi juga derita dari efek sambungannya.
Kata si papa, dalam keadaan lapar, tidak ada asupan nutrisi, sehingga tubuh akan berusaha menghemat energi yang ada dengan cara menurunkan laju metabolisme, termasuk juga menurunkan laju pembakaran kalori. Yang akan terjadi, lemak malah jadi tidak terbakar. Belum lagi ditambah dengan faktor usia, dimana memasuki usia tertentu, metabolisme tubuh mulai berjalan lamban.
Tak perlu langsing dengan cara yang tak benar bila dapat menyebabkan sakit. Tak perlu juga buang buang uang untuk hal-hal yang belum pasti manfaatnya.
Diet itu adalah masalah konsisten. Meskipun produk diet yang dikonsumsi itu harganya selangit, entah itu pil diet, susu diet, korset pelangsing, atau berbagai produk diet lain, kalau pemakaiannya tidak konsisten, apalagi diikuti dengan pengaturan pola makan yang juga tidak konsisten, ya percuma saja. Bisa-bisa bukan berat badan yang turun, tapi saldo tabungan yang terus menurun jumlahnya...he..he..
Terus kalau membeli treadmill yang harganya tidak murah itu apa juga bukan buang-buang uang namanya?
Akan jadi buang-buang uang kalau hanya jadi pajangan di rumah. Tapi akan sangat terasa sekali manfaatnya kalau rutin dipakai. Sekali lagi, ini masalah konsisten juga, sih. Tapi supaya aku tidak menjadi ragu dengan keputusan untuk akan membeli treadmill, aku mencoba mencari perbandingannya. Coba dibandingkan dengan kalau kita jogging di taman, di mana di sana penjual beraneka ragam makanan menggiurkan bertumpah ruah, terutama di hari minggu pagi. Biasanya sepulang dari joging, yang ada lapar mata, lapar perut, dan beraneka pemuas lapar tersedia. Coba tebak apa yang akan terjadi?  Yup, pulang jogging itu belum afdol kalau belum membeli nasi uduk, lontong sayur, bubur ayam, dan berbagai kudapan lain.
Hitungan sederhananya nih, seandainya jogging selama satu jam itu mampu membakar kalori sebanyak 300 kalori, tapi ketika setelah jogging kita langsung menyantap nasi uduk plus gorengan penuh minyak, itu artinya kita memasukkan lagi kalori ke tubuh kita kurang lebih sebanyak 600 kalori. Sama saja  bohong, kan? Gimana mau turun berat badannya?
Tapi akan lain ceritanya kalau niat jogging itu buat refreshing, menjalin kebersamaan dengan keluarga. Yaa, ‘lets do it’ saja.  Malah bisa jadi alternatif pengisi family time.
Back to treadmill. Yang pasti, kalau sudah ada alat itu, acara aerobik, salsa, dan zumba ngumpet-ngumpetnya bisa kutinggalkan dulu..hi..hi..
Tapiii, selama menunggu uang terkumpul hingga bisa terbeli sebuah treadmill, apa yang harus aku lakukan supaya tidak bertambah gendut? Apa harus jadi super gendut dulu untuk bisa punya treadmill? Gundah itu kembali berkecamuk, mengaduk-aduk pikiranku.
“Pa, selama belum ada treadmill, mama mesti gimana dietnya? Paling tidak bagaimana menjaga agar tidak bertambah gendut, pa?” tanyaku yang pada akhirnya menyampaikan juga kegundahan itu.
“Yaa, biasa saja, sih, ma. Kalau mama selama ini merasa sulit untuk merubah pola makan, ya tidak usah dirubah. Tetaplah pada pola makan mama, bagusnya sih dikurangi sedikit demi sedikit porsinya. Mama jangan tidak makan nasi sama sekali, kalau mama sama sekali tidak makan nasi malah tidak bagus jadinya, Ma, karena mama kan sudah terbiasa makan nasi dari kecil, nanti sekalinya mama ketemu nasi lagi bersama lauk super enak kesukaan mama, bisa- bisa mama jadi tidak bisa mengontrol diri. Inget, Ma, dendam yang seperti itu justru bisa merusak.”
“Terus, Ma, mama tidak usah lagi menyediakan secara sengaja aneka stock camilan, kecuali menjelang lebaran. Selama ini kan mama hobby banget tuh nyetok-nyetok camilan, alasan mama, buat jaga-jaga kalau nanti ada tamu. Tamu kita juga tidak tiap hari datang, Ma. Kalau pun ada tamu, belum pernah ada kan ceritanya ada tamu kita yang sampai menghabiskan satu toples camilan? Selama ini yang akhirnya menghabiskan stock-stock camilan itu siapa? Mama, kan? Kalau mama tidak keberatan dengan saran papa, mulai sekarang mama tidak usah lagi membeli stock camilan. Kalau ada tamu, pas ada camilan ya dihidangkan, kalau tidak ada juga tidak apa-apa.”
“Terus, Ma, mama juga sebaiknya tidak usah lagi menghabiskan sisa makanan Dinda yang tidak habis. Selama ini hal tersebut menjadi kebiasaan mama, kan? Alasan mama, sayang, masih banyak kok dibuang. Kalau mama memang tidak tega membuang sisa makanan Dinda, saran papa nih, Ma, mama sebaiknya jangan makan dulu sebelum selesai menyuapi Dinda, karena kalau mama sudah makan dulu, dan ketika makanan Dinda tidak habis kemudian mama yang menghabiskan, itu berarti mama makannya jadi dobel- dobel, kan?”
“Satu lagi, Ma, mama masaknya sedikit-sedikit saja, cukup sekali makan kita saja, Ma. Kalau masih ada sisa lauk kan biasanya mama yang suka menghabiskan, alasan mama, sayang, sudah capek-capek masak, dan itu artinya makan mama jadi tambah dobel, kan? Memang jadi terkesan pelit karena hanya masak sedikit, tapi nggak apa-apa, yang penting cukup.”
Si papa ngomong panjang lebar dan aku hanya bisa tertunduk diam. Meskipun panjang lebar seakan seperti ocehan, semua yang dibicarakannya itu bener banget. Menohok banget. Tak ada satu bagianpun yang bisa kubantah.
Menjadi tidak gendut itu sebenarnya sangat sederhana. Seandainya saja semua itu bisa konsisten kulakukan, bahkan treadmill pun mungkin aku tak butuh.
Ah, papa, selama ini ternyata kamu memperhatikan kebiasaan-kebiasaanku yang kurang baik, yang tak pernah kusadari betapa menyiksanya dampaknya itu padaku.
Terima kasih papa. Mama sayaaang banget sama papa.  

(Storry 2 You Can Lean On Me)



KADUNG SELINGKUH

Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari ...