THE BEAUTY OF FORGIVENESS


Sebuah Kisah dari Buku YOU CAN LEAN ON ME

Dikhianati, dicampakkan, dan bercerai, adalah tiga hal yang paling ditakuti oleh wanita dalam sebuah pernikahan. Namun, dikhianati, dicampakkan, dan bercerai bahkan sama sekali tidak pernah terpikirkan saat sedang dilanda cinta hingga mengikat janji suci dalam sebuah tali suci berupa pernikahan.
                                                           **

Membina rumah tangga dan tumbuh tua bersama adalah mimpi sederhanaku, yang ingin kuwujudkan bersama laki-laki yang sangat kucintai itu, ketika dia datang melamarku. Hingga kemudian kami dikaruniai dua orang putra yang kini telah beranjak remaja dan seorang balita putri, membuat kehidupan rumah tangga kami semakin indah. Serasa lengkap sudah kebahagiaan kami.
Tidak berlebihan jika aku merasa telah menjadi istri yang baik. Orang-orang yang mengenalku bahkan menganggap aku sebagai contoh istri idaman, mungkin karena mereka menganggap bahwa semua kriteria istri idaman ada pada diriku.
Aku adalah istri yang sangat patuh kepada suami, aku selalu tulus menuruti semua perintah dan kehendaknya. Aku ikhlas melayani semua kebutuhannya. Aku juga selalu berusaha tampil cantik, rapi, dan wangi hanya untuknya.
Hampir tak pernah ada pertengkaran hebat di dalam kehidupan pernikahan kami. Hal itu karena aku hampir tak pernah membantahnya. Meskipun dia kerap kali melakukan kesalahan, selama hal itu bisa segera diatasi, tak menjadi soal buatku. Yang terpenting bagiku, hanya jangan sampai menyinggung egonya. Aku sangat mudah merasa memakhlumi dan memaafkan suamiku, karena rasa baktiku ini kepadanya.
                                                          **

Tetapi, akhir-akhir ini suamiku kerap pulang larut malam. Aku berusaha memakhlumi, mungkin banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikannya, sehingga membuat dia harus lembur hingga larut malam. Meskipun berusaha untuk tidak mencurigainya, tapi perasaan galau itu akhirnya datang juga menghampiriku. Bagaimana tidak galau, jika setiap pulang larut malam, ponselnya selalu dalam keadaan ‘off’. Sepertinya, ada hal-hal yang dilakukannya yang aku tak boleh mengetahuinya.
Setiap kali kutanyakan alasannya, dia hanya menjawab “Kan sudah malam, sayang. Nggak enak nanti kalau tiba-tiba ada yang nelpon, suara deringnya malah membangunkan anak-anak yang sudah tidur.”
Ah, aku yakin bukan itu alasan yang sebenarnya. Insting seorang istri yang kuat sedang menari-nari dalam diriku.
Kenyataannya, sampai pagi, bahkan sampai dia akan berangkat ke kantor, ponsel itu tidak kunjung dihidupkan olehnya.
Penasaran. Itu sudah pasti. Tapi tak banyak yang bisa kuperbuat. Aku bukan tipikal istri yang suka menyelidik. Aku hanya merasakan adanya ketidakjujuran di sini.
                                                                    **

Sampai pada suatu hari, tiba-tiba saja mata hatiku dibuka oleh sebuah telepon dari saudara dekatku yang mengatakan bahwa suamiku mempunyai seorang wanita idaman lain. Tentu saja kabar tak sedap tersebut membuatku terkejut, tapi aku tak bisa percaya begitu saja dengan omongan orang lain, sekalipun itu adalah saudara dekatku. Meskipun begitu, berita tersebut tetap saja membuat berbagai macam perasaan gundah berkecamuk di dalam hatiku.
Akhirnya, dengan kekuatan yang dengan susah payah kubangun, aku berusaha mencari tahu sendiri tentang kebenaran berita yang tak mengenakkan hati tersebut. Semua data-data kudapat dari hasil penyelidikan ke semua pihak yang memang membuktikan bahwa kabar pahit itu adalah sebuah kebenaran. Hancur sudah segala asa, cita dan cintaku ini. Sakit rasanya hatiku yang remuk redam ini.
Serasa masih tak percaya bahwa aku telah dikhianati. Bahkan dunia pun serasa runtuh setelah mendapati lelaki yang sangat kucintai dengan sepenuh hati itu telah menduakan cintaku.
Aku masih tak habis pikir, darimana awal dari perselingkuhan ini. Tak ada pertengkaran hebat di antara kami. Aku juga tak pernah melukai hatinya baik secara langsung ataupun tidak. Aku pun selalu menjaga setiap ucapanku, aku juga selalu menata setiap sikapku terhadapnya.
Kurunut berbagai peristiwa dalam hidupku beberapa bulan terakhir ini. Adakah tindakanku yang tanpa sepengetahuanku telah membuatnya tersinggung ataupun terluka? Nihil. Tak kutemukan kesalahan apapun.
 Apakah mungkin, perselingkuhan ini terjadi karena suamiku merasa telah bosan kepadaku? Aku terkulai lemas mendapati ada kemungkinan ini yang bisa jadi menyebabkan suamiku tidak lagi setia kepadaku.
                                                                **

Kubukakan pintu untuk mbak Wati, saudara yang telah membawa kabar ini kepadaku. Wanita yang usianya sebaya denganku itu langsung merangkulku.
“Sabar ya, Sinta," ucapnya kepadaku ketika kami sedang saling berpelukan.
Aku mengangguk sambil mengusap air mata yang tiba-tiba menetes ini.  Segera saja kupersilahkan dia untuk duduk.
“Sebenarnya aku tak sampai hati menceritakan semua ini kepadamu, Sin. Tapi aku lebih tak tega lagi melihat kamu terus-terusan dibohongi oleh Hendra,” ucap mbak Wati menjelaskan.
“Terima kasih, mbak Wati sudah mau menceritakan semua yang mbak ketahui kepadaku. Kalau bukan karena mbak Wati, aku tak akan mengetahui pengkhianatannya ini,” ucapku sambil terisak.
“Bagaimana reaksi Hendra setelah tahu bahwa kamu mengetahui pengkhianatannya ini?” tanya mbak Wati.
“Awalnya dia tidak mau mengaku, Mbak. Tapi setelah kutelepon wanita itu dihadapannya dengan menggunakan ponselnya, dia tak bisa mengelak lagi. Dia mengakui semua perbuatan yang disebutnya sebagai kekhilafannya tersebut, Mbak. Tentu saja hatiku hancur, Mbak,” jawabku dengan isak yang tertahan.
“Dia mencoba meminta maaf dariku, Mbak. Dia juga berjanji tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Tapi sampai sekarang aku belum juga memberikan kata maaf untuknya. Hatiku masih terlalu sakit untuk bisa memenuhinya, Mbak,” lanjutku masih dengan isak yang tertahan.
“Kamu masih percaya padanya, Sin? Apakah kamu yakin bahwa dia benar-benar tak akan menyakiti kamu lagi?” pertanyaan mbak Wati memunculkan keraguan itu lagi.
Aku memang masih ragu dengan kejujuran suami yang telah tega membohongiku itu. Bahkan sempat terlintas pikiran untuk meminta pisah saja darinya. Jujur saja, rasa jijik itu ada setiap kali mengingat dia pernah mendekap wanita lain. Tetapi anak-anak adalah kekuatanku. Mengingat anak-anak yang juga sangat membutuhkan ayahnya, membuatku menepiskan keinginan untuk berpisah.
“Kenapa kamu tidak menuntut cerai saja, Sin. Aku saja merasa sangat sakit dengan penderitaanmu ini, apalagi kamu yang mengalaminya sendiri. Kalau aku jadi kamu, tak akan kuberi kesempatan lagi pada suami yang telah terbukti mengkhianati kita. Anak-anak akan tetap bahagia kok, meskipun orang tuanya tidak lengkap. Mereka bisa melihat sendiri, betapa menderita ibunya akibat perbuatan tidak terpuji yang telah dilakukan bapaknya. Ingat juga, Sin, jangan mau nanti hanya menjadi babby sitter suami ketika dia sudah tidak berdaya lagi, sementara di masa mudanya dia enak-enakan menduakanmu. Biarkan saja dia dengan ‘another womannya’ itu. ‘Get lost’. Titik.” Kalimat sengit mbak Wati kontan saja membuatku terkejut.
“Kehilangan orang yang tidak menghargai kamu, itu lebih patut dianggap sebagai pelajaran hidup, bukan sebuah kehilangan,” ucap mbak Wati lagi.
Semua ucapan saudaraku itu membawa kebimbangan lagi di hatiku. Aku memang belum memberikan maaf pada suami yang telah berkhianat kepadaku, bahkan aku masih merasa jijik dengannya, tetapi aku sungguh mencintainya, dan tidak bersungguh-sungguh ingin berpisah darinya.
Aku rasa, aku hanya butuh menenangkan diri. Aku bukan tidak menyetujui pendapat mbak Wati, Aku menghargai semua pendapatnya itu. hanya saja, Aku menerimanya sebagai masukan untuk kemudian kujadikan bahan pertimbanganku dalam menentukan langkah selanjutnya.
“Semua keputusan ada di tanganmu, Sin. Mbak hanya bisa kasih saran saja. Ingat, Sin, sayangilah dirimu sendiri sebelum mulai menyayangi orang lain. Mbak pamit dulu,ya,” ucapnya sambil memelukku erat.
“Terima kasih, Mbak, sudah sangat perhatian kepadaku,” ucapku sambil membalas pelukannya.
                                                                 **

 Seperti sifat wanita kebanyakan, rupanya mbak Wati telah menceritakan aib yang terjadi pada rumah tanggaku ini kepada saudaraku yang lain. Untunglah, gosipnya hanya beredar di lingkungan keluargaku saja. Hal ini kuketahui ketika mbak Dini, saudaraku yang lain datang mengunjungiku dan menunjukkan rasa simpatinya terhadap permasalahan yang sedang kuhadapi ini.
“Aku baik-baik saja, kok, Mbak. Aku harus kuat untuk anak-anak,” ucapku ketika dia menanyakan kondisi perasaanku.
“Untunglah kalau begitu, mbak sangat prihatin mendengar kisahmu ini, Sin,” ucap mbak Dini.
“Aku hanya tak habis pikir, Mbak. Apa salahku sehingga dia tega mengkhianati aku?” kataku mengemukakan tanda tanya besar yang masih menggelayuti pikiranku ini.
Kulihat mbak Dini menghela nafas panjang.
“Tak ada yang salah padamu, Sin. Kamu adalah istri sempurna, tak ada cela yang tampak dari dirimu,” ucap mbak Dini.
Mbak Dini menatap lekat mataku, “kadang-kadang, lelaki berpaling kepada wanita lain, bukan karena sudah tidak mencintai istrinya lagi. Bukan juga karena merasa dirinya tampan dan dapat dengan mudah memikat wanita lain. Sebaliknya, mungkin karena lelaki itu sedang merasa ‘insecure’ terhadap dirinya sendiri. Entah karena merasa sudah semakin tua dan loyo sehingga merasa tak dapat lagi memuaskan hasrat istrinya, bisa juga karena sedang kehilangan pekerjaan, atau karena istrinya menghasilkan uang yang lebih banyak dibanding dirinya.”
Aku termenung mendengar ucapan mbak Dini. Mungkin ada hal-hal dalam ucapannya itu yang tak kusadari telah menyebabkan suamiku mengkhianatiku.
“Kamu yang paling tahu kondisi suamimu, Sin. Jadi saat suamimu tengah mengalami krisis kepercayaan diri, cobalah untuk merangkul dirinya. Beri perhatian lebih dan pujian yang mungkin jarang kau berikan. Seperti wanita, lelaki juga butuh dipuji. Kemudian, ajaklah dia melakukan hal-hal positif yang dapat meningkatkan rasa percaya dirinya,” ucap mbak Dini lagi.
Aku tersenyum mendengarkan ucapan mbak Dini ini. Sebuah nasehat yang menyejukkan. Advice seperti inilah yang sedang kubutuhkan. 
“Ingat, Sin, perselingkuhan bukan hanya ada karena ada niat, tetapi karena ada kesempatan. Jangan beri dia kesempatan untuk menduakanmu lagi,” ucap mbak Dini ketika berpamitan kepadaku.
                                                           **

Akhirnya, aku memilih untuk memaafkan suamiku. Mencoba berdamai dengan pengkhianatan yang pernah dilakukannya dan belajar menyusun kembali kepercayaan kepadanya, sehingga membuatnya merasa sangat dihargai.
Dia pun menyadari, bahwa hati yang pernah terluka karena dikhianati itu ibarat cermin yang pecah lalu diperbaiki dengan lem. Meski semua potongan sudah disambung dan diperbaiki serta akhirnya bisa dipakai lagi, tapi retakannya masih tetap ada. Pun demikian dengan hati, perasaan sedih, kecewa, dan sakit hati itu masih akan tetap ada dan akan bisa muncul kapan saja.
Karena sikapku yang memaafkannya, suamiku pun kini menjadi lebih menghargai dan menghormatiku.
Baru kusadari, kekuatan yang kuperoleh untuk bisa memaafkan ini tak lain adalah dari fondasi cinta yang kubentuk bersamanya ketika membangun rumah tangga ini. Fondasi cinta kami ini adalah ketika hati, pikiran, dan komitmen yang penuh kasih telah menjadi satu kesatuan, sehingga biduk rumah tangga ini bisa dijalankan dengan penuh keyakinan, dan pada akhirnya akan berbuah indah. Ketika maaf dan memaafkan itu harus ada, itu karena cinta dan memaafkan itu telah menjadi satu paket yang utuh.
Jika saja pada saat itu fondasi yang kami bangun hanya dibuat dari perasaan saja, mungkin cinta yang lahir akan sulit untuk memaafkan. Karena perasaan itu tidak pernah ada yang stabil, kadang bisa naik kadang bisa turun, kadang bisa ada bisa juga tiada, kadang bisa mekar tapi juga bisa menguncup. Padahal, semua cinta itu butuh kata maaf.
‘THERE IS NO LOVE WITHOUT FORGIVENESS, AND THERE IS NO FORGIVENESS WITHOUT LOVE’  -Bryant H.Mc.Gill-
                                **
(story 6 You Can Lean On Me) 









Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPS MENJAGA KOMITMEN DALAM PERNIKAHAN JARAK JAUH

Yati "Sum Kuning" Surachman, Legenda Hidup Indonesia

MINDER dan solusi mengatasinya