Dilema Seorang Working Mom


Sepenggal Cerita dari Kumpulan Kisah Inspiratif di Buku YOU CAN LEAN ON ME

     Perasaan kok jealous banget ya kalau melihat ibu-ibu yang sedang  ngumpul-ngumpul seru itu. Rasanya jadi ingin ikut bergabung dengan mereka. Tapi aku hanya bisa melirik keriaan mereka saja dari balik kaca mobil ini. Pekerjaan menumpuk di kantor, belum lagi membayangkan wajah galak atasanku kalau melihat anak buahnya ada yang telat masuk kerja. Hufftt.
                               **
     Menjadi seorang ibu yang bekerja dengan segala resiko yang harus ditanggung, itu memang sudah menjadi keputusanku. Aku sudah bekerja sejak sebelum menikah. Ketika itu, aku menganggap bahwa bekerja adalah sebuah bentuk aktualisasi diri. Lulusan perguruan tinggi terkenal, cumlaude, dan masih muda pula. Tak ada alasan untuk tidak bekerja pada saat itu, ditambah lagi dengan diberikannya berbagai kemudahan padaku untuk segera bisa bekerja. Semua perusahaan yang kukirimi surat lamaran kerja memanggilku, tinggal aku saja yang akhirnya kebingungan memilih. Tetapi akhirnya perusahaan otomotif yang sangat bonafit inilah yang menjadi pilihanku.
     Demikian juga akhirnya ketika aku menikah, aku tak ingin meninggalkan pekerjaan yang telah kugeluti ini, meskipun bukan menjadi karyawan yang menduduki posisi strategis. Menurut pandanganku, pekerjaan ini cukup membanggakan bagi seorang wanita.
     Aku menikah dengan rekan satu kampus meskipun berbeda jurusan, usia kami tidak terpaut banyak. Dia belum bekerja pada saat itu. Tetapi keputusan kami untuk segera membina rumah tangga bersama sangat didukung oleh kedua pihak keluarga besar kami.       Setelah menikah, suamiku melanjutkan kuliah ke jenjang strata dua, sedangkan aku yang bekerja. Kami tidak pernah mempertentangkan kondisi ini. Kami bahagia dengan pernikahan ini.
Ketika kemudian anak pertama kami lahir, suamiku pun sudah bekerja meskipun hanya sebagai tenaga honorer di sebuah smp swasta.
     Pendapatan yang tidak seimbang, tidak pernah kupermasalahkan. Aku menyadari, gaji seorang tenaga honorer sangatlah tidak bisa diharapkan. Kami tetap bisa hidup bahagia dengan mengandalkan gajiku untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga.
Pada saat itu, kedua orang tuaku masih sehat semua, jadi ketika aku dan suami pergi bekerja, putri kami Sasha, kami titipkan kepada kakek neneknya itu. Karena mereka adalah orang tua kandungku, maka aku pun sangat tenang mempercayakan buah hatiku, cucu tersayang mereka.
Tapi ternyata Tuhan sangat mencintai nenek Sasha. Ibunda tercintaku itu telah dipanggil-Nya saat Sasha baru berumur 2 tahun. Ayahku yang kemudian sendiri, diajak oleh kakakku untuk tinggal bersamanya di kota lain. Mulai saat itu, aku sibuk mencari pengasuh untuk putri kecil kami.
Sebenarnya, mertuaku sudah menawarkan diri untuk mengasuh Sasha, tapi aku menolaknya. Alasanku waktu itu, karena tak ingin merepotkan mereka, dimana di rumahnya itu sudah ada tiga orang balita, anak dari adik iparku yang tinggal bersama mereka.
Tentu saja, dengan adanya pengasuh anak yang sekaligus mendobel pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, pengeluaran jadi bertambah. It’s oke, penghasilanku masih cukup untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga dan membayar gaji untuk asisten rumah tangga itu.
Tetapi, semakin bergulirnya waktu, ada sebentuk kecil rasa kesal yang muncul ketika menyadari suamiku tak kunjung mencoba menambah penghasilannya. Dia seperti pasrah saja dengan apa yang sudah dia dapat, seperti tak ada usaha lebih untuk membantuku memenuhi semua kebutuhan rumah tangga yang semakin besar saja jumlahnya.
Aku memang akhirnya tak bisa sepenuhnya menyalahkan suamiku, karena semakin lama semakin kupahami dirinya, bahwa ternyata dia bukan tak ingin berusaha menambah penghasilannya untuk membantuku, tetapi karena idealismenya yang sedemikian besar, sehingga membuat dia merasa tidak nyaman bila harus bekerja pada bidang pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Mau tak mau, memang akulah yang akhirnya harus menjadi ‘breadwinner’ bagi keluarga kecilku ini.
                            **
Peran ganda sebagai seorang ‘career woman’ dan juga seorang ibu, tak bisa kujalani dengan mulus tanpa bantuan Ratmi, asisten rumah tanggaku. Mulai dari mengurus rumah hingga harus selalu dalam keadaan bersih ketika aku pulang kerja, memandikan Sasha hingga dia harus selalu dalam keadaan wangi ketika mamanya pulang kerja, harus menyuapi Shasa sehingga aku tak perlu repot-repot lagi membujuk-bujuk anakku yang memang sulit makan itu, belum lagi urusan masak memasak dimana aku sangat bawel bila kudapati dia memakai MSG untuk masakan-masakan yang akan dihidangkannya kepada  kami. Semua pekerjaan itu selalu berhasil dia kerjakan meskipun tidak selalu memuaskan. Kalau dipikir-pikir, siapa sebenarnya yang berperan ganda di sini? Aku atau Ratmi, sih?
Parahnya, dengan semua aturan-aturan yang kuterapkan itu, aku seringkali tak ambil peduli bahwa sebenarnya betapa kewalahannya Ratmi menghadapi itu semua. Bahkan, seringkali disaat aku kelelahan sepulang dari kantor dan melihat ada yang belum beres, aku sering mengatainya ‘tidak becus’.  Keterlaluan sekali,ya?  Kalau dia tidak becus, kenapa aku menitipkan anakku kepadanya?  Jadi siapa sebenarnya yang tidak becus?  Aku selalu menyesal setelah mengatakan itu semua, namun penyesalan itu seringkali kuabaikan, untuk kembali kulakukan kesalahan yang sama.
Padahal, gaji yang kuberikan kepadanya bahkan tidak mendekati jumlah UMR. Hanya sedikit kompensasi yang bisa kuberikan kepadanya, karena gaji yang kami berikan kepadanya hanya mengandalkan dari gajiku saja. Maka, sebenarnya gajinya itu tidaklah sebanding dengan semua yang dia kerjakan. Tetapi, dia tetap sabar menghadapi kecerewetanku. 
Aku sering lupa menyadari, bahwa sebenarnya aku itu sangatlah beruntung mempunyai asisten rumah tangga seperti Ratmi. Tentulah sebuah ironi yang terjadi, dengan semua tugas ibu rumah tangga yang kubebankan padanya, aku menggajinya dengan jumlah yang minim. Sebenarnya sih, aku pernah ingin menambah gajinya, khawatir kalau-kalau dia tidak betah bekerja denganku, tapi tentu saja aku tidak bisa, mengingat hanya gajiku yang diandalkan. Gaji suamiku ya, dia pakai untuk kebutuhannya sendiri, untuk membeli rokok, kebiasaan yang tak bisa dihilangkannya sejak kuliah dulu, juga untuk membeli bahan bakar untuk kendaraannya, tapi sesekali dia masih ingat kok, untuk sekedar membelikan roti bakar sebagai oleh-oleh bagi putri kecilnya,Sasha.
                               **
“Hore, mama pulang, mama pulang!” seketika, teriakan Sasha, gadis kecilku yang setiap kali menyambutku sepulang bekerja, mampu menghilangkan rasa lelahku.
Sepulang dari bekerja, waktuku memang selalu kucurahkan untuk Sasha, menemaninya bermain dan sesekali membacakan buku cerita. Tak jarang, putri kecilku itu memperlihatkan kepandaiannya menyanyikan lagu baru. Alih-alih menyanyikan lagu-lagu anak yang diajarkan di sekolahnya, Sasha lebih sering menyanyikan lagu-lagu dewasa yang sama sekali tidak pernah kuajarkan kepadanya. Dapat ditebak, pasti Ratmi-lah yang mengajarinya. Lagi-lagi sebuah ironi, dimana aku yang seorang sarjana menyerahkan anakku pada seorang Ratmi yang tentu saja riwayat pendidikannya di bawah aku.
Kalau sudah begini, perasaan bersalahlah yang selalu muncul, karena aku tidak bisa setiap waktu berada dekat dengan anakku. Lalu, untuk menutupi rasah bersalah itu, biasanya aku hanya bisa menanamkan berbagai alasan pembenaran dalam hatiku. “Ah, yang penting itu kan kualitas, bukannya kuantitas. Jadi, walaupun waktuku hanya sedikit untuk berkumpul dengan anakku, tapi yang penting kualitasnya.”
                                  **
Persoalan menjadi semakin pelik setelah lahir putra keduaku, dimana Ratmi tiba-tiba meminta izin untuk tidak bekerja lagi kepadaku, justru di saat cuti melahirkanku akan segera berakhir. Sudah pasti, aku panik dan kebingungan dibuatnya.
Disaat-saat seperti itu, seringkali timbul keinginan untuk berhenti bekerja saja. Tetapi, mengingat penghasilan suamiku yang bahkan seujung jari gajiku saja tidak sampai, akhirnya keinginan itu menjadi ‘harus’ sirna.
Ibu mertuaku kembali menawarkan bantuannya. Kali ini, aku tak sanggup menolaknya. Uluran tangannya yang sangat tulus itu benar-benar sangat kubutuhkan. Memang sih, sebetulnya yang paling aman adalah menitipkan anak pada kakek dan neneknya, asalkan siap dengan segala konsekuensinya. Karena, biasanya faktor usia menyebabkan mereka cepat merasa lelah sehingga cenderung memberikan kebebasan.  Belum lagi, kakek dan nenek adalah penggembira andal bagi cucu-cucunya, di mana mereka akan merasa senang bila cucunya senang. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan sedikit sekali kakek nenek yang bisa memberikan pola asuh yang tepat, yang sesuai dengan keinginan kita untuk cucu-cucunya. Itu juga yang menjadi salah satu alasan, kenapa anak-anak yang biasa diasuh oleh kakek dan neneknya cenderung lebih manja bila dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak diasuh oleh kakek dan neneknya.
“Tega amat sih, kamu, Din, ngrepotin mertuamu. Di masa-masa tua mereka, seharusnya hanya mereka gunakan untuk ibadah saja. Eh, ini kamu malah nitipin dua bayi rempongmu,” kata-kata Merry sohib kantorku itu sangat telak memukul nuraniku.
“Gimana lagi..” ucapku singkat sambil menghela nafas panjang. Mencari asisten rumah tangga yang bisa dipercaya saat ini sungguh sangat susah, kalaupun ada, gaji yang diminta sungguh tak masuk di akal dan juga di kantongku. Suamiku, masih saja seperti dulu. Tak bisa diandalkan penghasilannya.
“Kamu enak, Mer, suamimu punya jabatan bagus, gajinya besar, belum lagi ditambah dengan gaji kamu sendiri,” ucapku pada Merry yang memiliki dua orang pengasuh untuk dua orang anaknya dan seorang asisten rumah tangga, khusus dia tugaskan untuk membereskan segala urusan rumah tangga.
Aku melihat Merry sebagai wanita yang sangat beruntung. Wajahnya sangat cantik, dengan body yang masih sangat ramping meskipun sudah berputra dua. Pandangan kagum seisi kantor, mulai dari office boy sampai manajer setiap kali dia datang membuktikan anggapanku itu.
“Tahu, nggak, Din... aku tuh sebenernya sudah lama kepengin resign.”
 Ucapan Merry kali ini benar-benar mengejutkanku. Aku sampai melotot memandang tak percaya kepadanya.
“Pernah nggak sih, kamu merasa kalau kita ini hanya buang-buang waktu saja di kantor ini?” tanyanya kemudian.
Aku tak menjawabnya, karena aku tidak sependapat dengannya. Bagiku, semua yang kulakukan ini tak ada yang sia-sia. Aku benar-benar mencari nafkah di sini. Jadi, apa maksudnya buang-buang waktu? Apanya yang sia-sia jika itu yang dimaksudnya?
“Sadar nggak sih, kamu, apa yang sebenar-benarnya kita lakukan disini? Begitu sampai kantor terus langsung nelpon asisten-asisten kita di rumah, kasih instruksi harus ini harus itu untuk mereka kerjakan, habis itu langsung ke kantin nyari sarapan karena lebih sering nggak sempet sarapan dari rumah, sesudah sarapan lanjut ngerumpi, yaa...seperti yang sedang kita lakukan ini, lalu nanti sebelum makan siang kembali nelpon ke rumah lagi buat ngecek anak, habis makan siang sibuk benerin make up, trus lanjut ngerumpi lagi, gituuu terus. Kadang terlihat sibuk di depan komputer padahal sedang browsing baju model terbaru, baca-baca berita gosip, facebook-an, hingga nge-game. Coba saja cek email-email kita. Ada berapa yang kita kirim setiap harinya, dan berapa banyak yang benar-benar untuk urusan kantor? Hh.... Seakan-akan ngurusin kerjaan itu cuma sambilan saja. Yang penting beres. Toh, atasan cuma melihat hasil akhirnya saja kan?” Merry nyerocos panjang lebar.
“Kadang aku merasa, daripada begini terus mendingan aku di rumah saja sama anak-anak.” Kali ini ada raut sedih terpancar dari wajah cantik Merry.
Sebetulnya, ada benarnya juga apa yang dikatakan Merry itu. Tapi aku tidak boleh punya pikiran seperti itu, setidaknya tidak ketika aku menjadi seorang ‘breadwinner’ bagi keluarga kecilku. Kalau Merry, tentu dia tidak akan menemui banyak kesulitan ketika harus resign. Gaji suaminya sendiri sudah lebih dari cukup, kalau masih dirasa kurang, dia tinggal memperkecil jumlah asisten rumah tangganya yang ada tiga orang itu. Setidaknya, itu yang dapat kupikir tentang keinginan resign-nya Merry.
“Kalau tanpa kamu harus bekerja, gaji suamimu sudah sangat cukup bahkan lebih, kenapa kamu masih bekerja?” akhirnya aku bertanya juga kepada temanku itu.
“Sejak melahirkan anak pertama, sebenarnya aku lebih ingin menjadi ‘staying at home mommy’ saja, Din. Tetapi aku takut mendapat cibiran dari keluarga besar suamiku, terutama saudara-saudara perempuannya yang semuanya adalah ‘career woman’ itu.” Merry mulai menceritakan alasannya mengapa hingga sampai saat ini dia masih juga bekerja.
“Apa betul, wanita yang bekerja di luar rumah alias working mom seperti kita ini menjadi punya nilai lebih di mata keluarga besar?” tanyaku pada Merry.
“Nggak juga, sih, Din....tapi... kakak-kakak iparku itu lho, Din, mereka itu seakan-akan selalu meremehkan ibu-ibu yang hanya berdiam diri saja di rumah. Kelihatan banget, Din, dari cara mereka memandang ibu-ibu lain saat ada pertemuan, seperti arisan atau pertemuan keluarga, misalnya. Padahal ibu-ibu rumah tangga itu kan nggak berdiam diri, ya? Sebagian besar dari mereka hanya tidak ikut ambil bagian dalam mencari nafkah saja.  Dan yang nggak ketinggalan menyebalkan juga teman-teman kuliah dulu, dimana setiap ketemu yang ditanya pasti ‘sekarang kerja dimana?’  Seolah-olah adalah sebuah kesalahan bila kita tidak bekerja,” jawab Merry.
“Ah, abaikan saja pandangan-pandangan yang meremehkan itu, Mer. Menurutku, siapa saja orang yang suka meremehkan orang lain itu hanyalah orang yang tidak pernah belajar caranya menghargai. Jadi, nggak perlu kamu ambil pusing, say,” ujarku menghiburnya. Sebenarnya sih, ini sekaligus ‘self reminder’ buatku sendiri.
“Tahu, nggak, Din...aku sering merasa bersalah sama suamiku kalau sedang di kantor seperti ini,” kata Merry mengejutkanku lagi.
“Memangnya ada apa?” tanyaku penasaran.
“Setiap hari kita dandan habis-habisan, luntur sedikit kita dempul lagi, pudar sedikit kita sibuk poles sana poles sini, wangi tubuh kita menguap dikit aja kita semprat semprot parfum lagi, seakan-akan kecantikan kita ini kita persembahkan buat orang lain yang notabene adalah suami orang. Padahal, kecantikan kita ini kan hak suami kita. Iya, kan, Din?” ucap Merry membuatku tersenyum.
“Memangnya kalau kita ke kantor apa tidak boleh tampil cantik?” kataku membela diri. 
“Yaa, kalau kamu merasa seperti itu, berarti kamu harus dandan lebih oke lagi dong buat suami kamu,” ucapku melanjutkan pembelaan diriku tadi.  Tak kuduga, Merry meresponnya dengan sangat serius, bahkan dengan disertai  setetes air mata.
“Iya sih, tapi lebih seringnya justru kita nggak dandan sama sekali saat di rumah. Iya, kan, Din? Kamu seperti itu juga, kan, Din?” tanya Merry yang kemudian kuiyakan dengan senyuman.
Ucapannya itu memang tidak salah. Kita memang lebih sering tampil apa adanya di depan suami kita, sedangkan di depan rekan kerja, kita mengerahkan segenap pesona kita didukung dengan aneka ragam kosmetik. Aku agak tergelitik dengan percakapan kami ini. Tapi untunglah, sejauh yang kutahu, suamiku lebih senang melihatku tampil alami tanpa make-up, jadi aku beruntung tidak menjadi pusing dengan dilema jenis ini.
“Belum lagi sikap kita dengan rekan-rekan kerja pria. Sepertinya kita ini bergaul tanpa melihat batasan. Kita sering nggak sadar kalau yang sedang kita hadapi itu suami orang,” gumam Merry lirih.
“Kita kan memang sudah sangat akrab satu sama lain, Mer. Jadi wajar kalau seperti tak ada jarak. Yang penting kita tahu batasan-batasan yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan,” ujarku menanggapi gumamannya itu. Aku bersyukur bahwa akhirnya dia menyadari kalau selama ini dia telah berlaku agak terlalu genit terhadap rekan kerja pria.
“Tahu, nggak, Din? Apa yang membuatku benar-benar ingin resign dari pekerjaan ini?” aku hanya diam mendengar pertanyaannya kali ini. Aku tahu, sebentar lagi dia akan menjawab sendiri pertanyaannya itu.
“Kemarin Aurel memintaku datang ke sekolahnya untuk menyaksikannya bertanding renang. Kamu tahu apa jawabanku, Din?” tanyanya lagi tanpa membutuhkan lagi jawaban dariku.
“Aku menjawab, mama nggak bisa, sayang. Mama kan harus kerja, cari uang buat Aurel, supaya bisa beli mainan, beli susu, jalan-jalan ke mall,” katanya kemudian.
“Tahu, nggak, Din, itu artinya aku sudah membohongi anakku. Kenyataannya, uang gajiku habis untuk kupakai beli tablet biar bisa asyik facebook-an, buat beli hp android terbaru biar nggak kalah sama si hebring Sisi dari divisi sebelah, terus juga buat beli baju-baju online. Itu juga seringnya ditombokin sama suami. Aku nggak mau lagi membohongi anakku, Din.” Merry mengatakan hal itu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Aku sangat memahami perasaan temanku itu. Aku pun sering mempunyai pikiran yang sama dengannya. Hanya saja, secara ekonomi, Merry jauh lebih beruntung daripada aku. Setidaknya itu menurut pandanganku. Sedangkan menurut Merry, akulah yang lebih beruntung karena keluarga besarku, khususnya keluarga besar dari pihak suamiku tidak pernah memandang rendah status ibu rumah tangga, juga tidak memandang lebih tinggi pada wanita yang berstatus ‘career woman’.
                            **

Akhirnya, temanku Merry benar-benar resign dari kantor tempat kami bekerja. Aku turut bahagia untuknya. Keinginannya untuk bisa lebih dekat dengan anak-anaknya akhirnya terkabul.
Meskipun telah berhenti bekerja, tidak menjadikan hubungan persahabatan kami ikut berhenti. Kami masih sering bertemu untuk sekedar ngobrol-ngobrol. Kini justru aku yang sering curhat sama dia, menceritakan betapa seringnya aku dilanda rasa bersalah karena tidak dapat mendampingi perkembangan anak-anak secara penuh.
“Sudahlah, Din, nggak penting kita itu seorang ‘working mom’ atau ‘staying at home mom’. Yang paling penting itu adalah bagaimana kita bisa menjadi ‘the best mom’ buat anak-anak kita.” ucap bijak Merry.
Tumben, teman cantikku ini bisa menjadi ‘wise woman’ sejak statusnya telah berubah menjadi ‘ full time mother’. Tapi memang benar sekali apa yang baru saja dikatakan olehnya itu. Kalau dalam istilahku, ‘bukan kuantitas, tapi yang terpenting itu adalah kualitasnya’. Kualitas kita dalam berinteraksi dengan anak-anak-lah yang harus diutamakan.
                              **

 “Mama, besok ada lomba mewarnai di sekolah. Mama bisa datang nggak, Mam?” Sasha, putri kecilku, sungguh telah berhasil menyentil ego keibuanku dengan pertanyaannya itu.
“Mama sangat ingin bisa datang, sayang, tapi mama harus bekerja. Sasha tahu itu, kan?" Jawabku sambil membelai lembut rambutnya.
Perasaan gamang seperti ini selalu muncul saat buah hatiku begitu membutuhkan kehadiranku sementara aku tak dapat memenuhi permintaannya tersebut. Teringat dengan cerita Merry pada saat dia dihadapkan pada posisi yang sama denganku, dimana pada saat itu Merry telah tidak jujur pada putrinya. Tidak demikian denganku.  Aku sungguh-sungguh dengan alasan yang kuberikan kepada putriku, karena aku memang benar-benar bekerja untuknya.
Sungguh, sebenarnya aku pun ingin mengikuti langkah Merry yang telah berhenti bekerja untuk bisa total merawat buah hatinya. Berulangkali kusampaikan keinginan itu kepada suamiku, tapi dia merasa belum siap. Meskipun kerap merasa kesal, tapi toh akhirnya aku mengalah lagi.
“Dek Dina, Asrul itu memang ya seperti itu. Mungkin karena ayah dan ibu kami mencontohkan seperti itu.  Dek Dina tahu, ayah mertuamu itu seorang pensiunan pegawai negeri sipil dengan gaji pas-pasan, sedangkan ibu adalah seorang pengusaha. Meskipun hanya berupa warung manisan, tapi pendapatannya jauh lebih besar dari gaji ayah. Ayah pun jadi seperti tak ada keinginan untuk menambah penghasilan, karena tahu bahwa dengan penghasilan ibu saja semua kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi. Tak jauh beda dengan yang terjadi antara kamu dengan Asrul,” jelas mbak Siwi, kakak iparku, ketika akhirnya aku menyampaikan keluh kesahku tentang sikap adiknya yang seperti lepas tanggungjawab terhadap keluarga kecil yang dibinanya ini.
Semuanya kini menjadi lebih masuk akal bagiku. Bukan hanya alasan berpegang teguh pada idealisme saja, tapi juga karena apa yang dicontohkan oleh sosok-sosok panutan dalam kehidupan suamiku itu.
Mungkin karena terinspirasi dengan kehidupan pernikahan mertuaku, terutama ibu mertuaku yang sangat menginspirasiku, aku pun mulai bertekad untuk bisa memiliki usaha sendiri yang bisa kujalankan di rumah, sehingga waktuku menjadi lebih banyak untuk bisa berkumpul dengan anak-anakku. Mungkin bukan berupa warung manisan seperti yang dilakukan ibu mertuaku. Aku ingin memiliki usaha lain, kalau bisa sih sebuah usaha mandiri, tapi aku menyadari bahwa aku tidak memiliki skill tertentu yang bisa kuekspresikan dalam sebuah usaha mandiri. Hmm, mungkin aku bisa mencoba bisnis waralaba terlebih dahulu sebagai permulaan. Tapi, bisnis waralaba juga bukan jenis bisnis yang bisa membuatku menjadi pengusaha mandiri? Atau, mungkin menjadi reseller?? Atau...bisnis ini...atau..bisnis itu...berbagai kemungkinan jenis usaha mulai menjadi pertimbanganku.
 Ah, untuk saat ini, itu baru sebatas angan-anganku. Mungkin aku harus mencoba jenis usaha yang bisa kukerjakan sambil tetap menjadi pegawai kantoran. Sampai usaha yang kubangun bisa mandiri, aku baru akan resign.
Semua itu memang baru sebatas angan-angan. Tapi harus segera kuyakinkan, bahwa angan-angan itu berbeda dari lamunan. Lamunan akan segera buyar begitu kita tersadar.  Perlahan namun pasti, angan-angan itu akan segera menjadi kenyataan, karena aku melihat kebahagiaan tersembunyi di balik angan-angan itu. Kebahagiaan memang bukan berarti telah sempurna segalanya, tapi bahagia adalah ketika kita memutuskan untuk melihat semua secara sempurna. Iya, kan?
                            **

(story 1 You Can Lean On Me)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPS MENJAGA KOMITMEN DALAM PERNIKAHAN JARAK JAUH

Yati "Sum Kuning" Surachman, Legenda Hidup Indonesia

MINDER dan solusi mengatasinya