Langsung ke konten utama

CARA TEPAT MENGAJARI ANAK MENABUNG

ilustrasi:pixabay.com


CARA TEPAT MENGAJARI ANAK MENABUNG

          “Bunda, adek mau punya jam tangan seperti punyanya Nayla dong. Itu lho, Bun yang ada lampu senternya, terus bisa juga dibawa nyebur waktu berenang. Bagus deh, Bun,” pinta salah seorang anak perempuan saya.
          Waktu itu kami sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan, jadi kemudian kami pun lalu melihat-lihat barang yang diinginkan oleh anak saya tersebut. Ternyata harga dari barang tersebut tidaklah murah. Saya pun kemudian berkata kepadanya,
“Kalau adek ingin jam tangan seperti itu, adek harus menabung dulu. Bila perlu adek tidak usah jajan dulu, ya.”
“Tapi nanti terkumpulnya lama, Bunda. Kalau sudah habis dibeli orang lain bagaimana?” ucapnya dengan nada khawatir.
“Jam tangan seperti itu dibuat dalam jumlah yang banyak oleh pabriknya. Jadi, adek tidak perlu khawatir kehabisan. Yang peanting mulai sekarang adek rajin nabung dulu, kalau masih kurang nanti akan bunda tambah,” jawab saya mencoba melegakan hatinya.
Anak saya itu pun mengangguk dan tersenyum lega.
          Seorang anak memang perlu diajarkan tentang cara menabung sejak masih dini, sehingga mereka nantinya dapat memenuhi keinginannya sendiri terhadap sesuatu dengan cara mengumpulkan uang sakunya yang disisihkan sedikit demi sedikit.
          Kapan saat yang paling tepat untuk mengenalkan dan mengajari anak tentang pentingnya mengatur keuangannya sendiri ini?
          Kita bisa melakukan edukasi secara bertahap dimulai dari ketika si anak sudah mulai mengenal berbagai macam nominal uang dan apa itu kegunakan uang.
          Pada umumnya, anak-anak itu lebih mudah belajar dengan cara melihat dan meniru. Maka dari itu, cara yang paling pas untuk mengajarkan tentang kemandirian keuangan kepada anak itu ya dengan memberikan contoh nyata.

AJARI ANAK UNTUK MENGHARGAI UANG RECEHANNYA
          Familiar dengan “celengan”? Sebuah benda kecil dengan lubang di tengah yang berfungsi untuk memasukkan uang receh? Semasa kecil dulu kita biasa menyimpan uang receh kita ke dalam celengan, kan? Maka tak ada salahnya mengajari anak untuk melakukan hal serupa.
          Jadikan celengan sebagai “bank kecil” mereka. Orang tua bisa memberikan celengan dengan bentuk atau gambar yang disukai oleh anak-anak. Biarkan mereka memilih sendiri celengan yang mereka sukai. Dorong mereka untuk rajin menyimpan uangnya di bank kecil milik mereka itu.

KENALKAN PADA ANAK TENTANG KONSEP PENGANGGARAN
          Orangtua bisa memulainya dengan memberikan uang saku kepada anak sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Dengan cara ini, anak diajarkan untuk menggunakan uangnya sesuai dengan jatah yang mereka terima.
          Untuk anak yang sudah lebih besar, orangtua bisa mulai mengajarkan tentang apa itu penganggaran. Ajari anak untuk membuat daftar belanjanya sendiri. Kenalkan kepada mereka tentang apa itu skala prioritas, sehingga mereka bisa belajar bijak menggunakan uangnya sendiri.

KENALKAN TENTANG KONSEP MENABUNG YANG BENAR
          Biasakan anak-anak untuk memenuhi keinginannya sendiri dengan cara menabung. Jangan lupa, tanamkan kepada anak tentang konsep menabung yang benar, yaitu bahwa menabung itu artinya “menyisihkan”, bukannya menyisakan. Jadi, ingatkan kepada anak agar selalu menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung terlebih dahulu setiap kali mereka baru saja menerima jatah uang saku.

AJARI ANAK UNTUK TIDAK LUPA BERBAGI
          Mengajari anak untuk mengelola dan menyimpan uangnya sendiri itu harus diimbangi dengan mengajarinya juga tentang peantingnya berbagi kepada sesama. Karena kalau hal ini terlewatkan, dikhawatirkan anak bisa menjadi pelit dan sulit berempati.
          Orangtua bisa menyampaikan kepada anak bahwa di dalam setiap rejeki yang diperolehnya itu teardapat hak orang lain juga. Maka dari itu, sering-seringlah untuk mengajak anak turut bersedekah atau membantu orang lain yang membutuhkan.

          Anak yang telah diajari mengelola uangnya sendiri dengan bijak sejak dini akan lebih bisa menghargai makna dari uang. Jadi, tak perlu ragu lagi untuk segera mulai mengajari anak-anak anda untuk menabung dan mengelola uangnya sendiri, kan?

Penulis,

Rara Radyanti

Komentar

  1. Nice sharing Mbak...
    Memang kalau sejak dini anak-anak kita ajarkan menabung nanti besarnya mereka akan lebih menghargai uang...Tidak sembarangan memakainya hingga hidupnya lebih terkelola. Insya Allah

    BalasHapus
  2. Sama-sama mbak Dian. Terima kasih juga untuk apresiasinya.
    Yup, itu intinnya, agar anak bisa menghargai nilai uang dan tidak sembarangan menggunakannya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIKA ANAK KITA MENJADI KORBAN BODY SHAMING

"Bunda, Adek ni jelek ya, Bunda?" "Ya enggak lah. Adek cantik." "Tapi temen Adek bilang kalau Adek jelek."
Lalu meluncurlah cerita-cerita pembully-an yang dilakukan oleh teman-temannya (kebanyakan sih yang laki-laki).
"Adek dikatain item, kiting, jelek!" ucapnya dengan raut sedih.
Deg!! Apalagi saya, ibunya. Jauuuh lebiih sediih. Rasanya pengen marah dan memaki-maki anak yang meledek gadis kecil saya.
"Siapa nama temen Adek yang bilang begitu? Anaknya siapa?" Pertanyaan itu nyaris keluar dari mulut saya, tapi untunglah masih bisa saya tahan.
Saya nggak ingin anak saya tumbuh menjadi seorang pembenci.
Kemudian saya raih tubuhnya, saya tatap matanya, dan saya elus kedua pipinya.
Hal pertama yang harus saya lakukan adalah membuatnya bisa menerima kondisi dirinya dengan baik. "Rambut Adek kan memang keriting, tapi Adek cantik dengan rambut seperti itu. Banyak lho, orang yang kepengen rambutnya dikeriting."
Lalu saya ceritakan bahwa se…

Meminta Maaf dan Memaafkan

Maaf "Kenapa tidak kamu saja yang minta maaf?"
"Kenapa aku begitu sulit memaafkanmu?
"Kenapa kata maaf itu begitu sulit terucap?"
"Ah, kenapa kita harus saling memaafkan?" Sebab, tak ada manusia yang sempurna di bumi ini. Siapa pun dia, pasti pernah melakukan kesalahan. Dear sahabat, menilai kesalahan orang lain itu mudah. Yang sulit itu adalah mengakui kesalahan diri sendiri. Biasanya, hanya orang yang berjiwa besar yang mampu melakukannya. Sahabat, marahkah kamu saat ada orang lain yang melukaimu? Atau melukai orang yang kamu sayangi? Marah saat ada yang menyakiti kita atau orang yang kita sayangi adalah reaksi yang wajar. Namun jangan disimpan hingga menimbulkan kebencian. Karena kebencian hanya akan membawa kedengkian.
Wahai sahabatku, kedengkian itu bisa melahirkan rasa dendam. Semua itu hanya akan mengikis seluruh amalan-amalan baik yang sudah dengan susah payah kita kumpulkan. Ketika timbul rasa dengki dalam hati, segeralah ingat Hadist Rasul ini…

Mengakui Kesalahan. Sulitkah?

BERBUAT SALAH ITU MANUSIAWI, karena melakukan kesalahan itu menandakan bahwa kita itu punya kekurangan, dan itu seharusnya bisa menjadi cambuk bagi kita untuk terus belajar memperbaiki diri. Kalau kita sadar telah melakukan sebuah kesalahan, ya akui saja. MENGAKUI KESALAHAN ITU MULIA, lho. Dengan mengakui kesalahan, secara tersirat kita telah menyatakan bahwa kita ini hanyalah manusia biasa yang senantiasa berbuat salah, karena yang tidak pernah bisa salah itu hanya Tuhan. Tapi mengakui kesalahan itu mestinya ya datang dari hati nurani terdalam, jangan cuma di bibir saja. Sulit memang melakukannya. Berat dan butuh waktu yang lama supaya bisa benar-benar iklhas saat mengatakannya.
Tapi ini jauh lebih baik daripada "tidak pernah merasa bersalah" sama sekali. Ketika kamu sama sekali tidak pernah merasa bersalah, itu artinya ada "sensor" di hatimu yang sudah tidak berfungsi lagi, sehingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mungkin hatimu perlu d…

Maling Teriak Maling

Lain di bibir lain di hati adalah ungkapan yang kerap dipakai untuk menunjukan sifat munafik seseorang. Ada juga yang menyebutnya dengan sebutan orang bermuka dua. Secara umum, orang yang bersifat munafik memilik ciri-ciri, yaitu bila berkata dia dusta, dan bila dipercaya dia khianat. Tak hanya itu, masih banyak ciri-ciri lain yang bisa kamu pelajari untuk mengenali para munafikun ini, diantaranya adalah: 1. FUJUR
Fujur adalah sebutan bagi orang yang tidak dapat mengendalikan emosinya, selalu ingin menang sendiri, tidak pernah mau menerima dan mengakui kesalahannya, dan senang menunjukkan sikap yang berlebihan, bahkan melampaui batas dalam menekan lawan-lawannya.
Orang fujur adalah munafikun yang selalu merasa dirinyalah yang paling benar, tanpa pernah mau berkaca bahwa sebenarnya justru dirinya itu sendiri yang berkubang dalam kesalahan demi kesalahan. 2. RIYA
Yaitu, sombong dalam bersikap dan berbicara. Orang munafikun jenis ini senangnya dengan sengaja menampakkan kebaikan yang di…

BALAS DENDAM TIDAK AKAN PERNAH BISA MENYELESAIKAN MASALAH

"Sekuat apapun kita menolak, yang ditakdirkan datang ke dalam hidup kita, akan tetap datang."
Seperti manusia-manusia keji itu... Sekuat apapun kita berusaha menghindari, kalau takdir mengharuskan mereka hadir dalam kehidupan kita, ya pasti akan datang. Seperti jamak kita ketahui, semakin hari, semakin banyak serigala-serigala berbulu domba di ladang kehidupan kita. Mereka itu lah manusia-manusia berhati iblis, yang tega menghancurkan dan meremukkan hati saudaranya sendiri.
Ada tukang tipu, tukang fitnah, tukang adu domba, tukang cabul, maling, pembunuh😱😱😱😱😱
yang bebas berkeliaran dengan korban-korban yang tak berani melakukan perlawanan. Sedih, terpuruk, kalut, dan putus asa, adalah wujud kekecewaan yang pasti dirasakan, ketika kita telah diperdaya oleh manusia-manusia iblis itu.
Apalagi kalau kita sampai dijerumuskan untuk ikut melakukan kemaksiatan itu. Oh, no...😱😱😱 Kalau kamu masih punya hati, ketika tersadar dari melakukan kesalahan, pasti bakal timbul perasaan men…