Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019
Bersuami tapi Rasa Menjanda



"Kalau suami tidak memberi nafkah, istri berhak untuk tidak menaatinya."
Ibu itu mengirimiku link youtube kajian seorang ustad.

Lalu kubuka link-nya, di sana, dijelaskan bahwa secara syariat, memang demikian adanya. Tapi juga bukan berarti pembenaran untuk melakukan perlawanan.

"Saya bukan istri nyebelin, mbak. Tapi saya sebal karena selalu dianggap salah."
Ibu itu mengajak saya membahas tulisan saya yang saya beri tajuk "Jangan jadi Istri Nyebelin".

Kemudian mengalirlah cerita tentang apa yang menimpa rumahtangganya. Tentang bagaimana sang suami memaksanya untuk turut bekerja mencari nafkah, karena "katanya" penghasilan suami hanya cukup untuk membayar utang. Padahal selain gaji, si suami memiliki pendapatan lain.
Si ibu pun berwirausaha untuk bisa mencukupi kebutuhan rumahtangga.
Selain bekerja, pekerjaan-pekerjaan rumahtangga tetap harus dia kerjakan sendiri, sementara sang suami tak pernah membantunya sama sekali…

Kenapa Laki-laki Susah Sekali Mengakui Kesalahan

Kenapa Laki-laki Susah Sekali Mengakui Kesalahan?



Bagi laki-laki, mengakui kesalahan itu tak ubahnya seperti manusia lemah. Ketika hal itu dilakukan, ia akan merada menjadi orang yang kalah.
Kalaupun akhirnya ia bersedia melakukannya, biasanya disertai dengan embel-embel, "tapi ...".
Kenapa?
Karena di dalam lubuk hatinya, ia tak ingin dikalahkan.
Inilah yang membuat laki-laki begitu sulit menundukkan egonya.


Tapi sayangnya, pernikahan bukanlah kompetisi. Di mana akan ada yang menang dan ada yang kalah.
Pernikahan juga bukan sebuah persidangan. Di mana yang salah harus dihukum.
Pernikahan adalahsebuah komitmen, dalam sebuah perjalanan panjang mengarungi bahtera kehidupan. Di dalamnya, kata " maaf" adalah sebuah bahasa cinta. Maka ketika harus disampaikan, sampaikanlah tanpa "tapi ...". Sampaikanlah tanpa harus mendetailkan siapa yang paling salah dan siapa yang paling benar.

Pasanganmu bukan sainganmu. Dia  pendampingmu, yang akan bersamamu dalam suka dan…

JANGAN JADI ISTRI NYEBELIN

Menjaring jawaban tentang apa yang membuat istri tampak menyebalkan di mata suami dan sebaliknya, apa yang membuat suami tampak menyebalkan di mata istri, yang kejaring kebanyakan jawaban-jawaban dari para istri.

Entahlah, apakah karena laki-laki memang banyak nyebelinnya, ataukah karena wanita lebih mudah menumpahkan uneg-uneg-nya?
Hi ... Hi ....

Ngomong-ngomong soal sifat menyebalkan ini, bener banget kata bulikku, bahwa tiap pasangan pasti punya sisi menyebalkannya masing-masing. Tetapi, demi sebuah kebersamaan, ya masing-masing mesti bisa saling menerima dan mesti sama-sama setuju untuk hidup bersama dengan hal itu. Ini yang dinamakan dengan menjaga komitmen.
.
.
Saya menikah "baru" mau 19 tahun. Masa-masa sebel sama kelakuan suami itu sudah lama lewat. Yaa ... meskipun masih kambuhan juga, sih, tapi udah jarang banget. Udah paham banget sama beliau sak njobo njerone 😊😊

Sakjane, yo ... Kalau kita ini "eling" bahwa Gusti Allah itu memberikan kenikmatan yang s…
Smart Muslimah
Part 1

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina.”

Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu adalah salah satu kewajiban kita sebagai manusia yang dikaruniai akal dan pikiran. Meskipun tidak harus benar-benar belajar sampai ke negeri tirai bambu, kita wajib menuntut ilmu, sejak dari buaian bunda, hingga kelak jasad dimasukkan ke liang lahat.

Menuntut ilmu, tidak harus selalu melalui jenjang pendidikan formal, karena ilmu bisa diraih di mana dan dari mana saja. Apalagi sekarang, dimana kemajuan teknologi begitu pesat,  membuat ilmu jenis apapun menjadi lebih mudah dicari maupun disampaikan.
Sebagai seorang wanita, apalagi yang berstatus sebagai seorang ibu, orang yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, memiliki ilmu menjadi sebuah kewajiban. Apalagi kehidupan akan selalu berkembang, wawasan seorang ibu pun haruslah bertambah luas.

Namun, dalam menuntut ilmu, seyogyanya diimbangi dengan iman yang kuat, karena iman yang kuat akan memfilter ilmu yang kita serap. Ba…

Sudah Sehatkah Jiwa dan Ragamu

Sudah Sehatkah Jiwa dan Ragamu

“Ada dua macam kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Banyak orang yang tidak menyadari betapa berharganya nikmat sehat itu. Ketika sedikit saja ada anggota tubuh yang sakit, anggota tubuh yang lain akan ikut merasakan. Misalnya saja sakit gigi. Saat ada salah satu gigi sakit, semua jadi terasa tidak nyaman. Mau makan sakit, bicara pun tak nyaman, sehingga emosi jadi tak terkontrol. Kalau sudah begitu, semua aktivitas jadi terganggu. Belum lagi ketika memeriksakan gigi yang sakit, alangkah kagetnya mendapati biaya yang harus dikeluarkan ternyata mahal sekali. Di saat seperti itulah, baru akan terasa kalau sehat itu nikmat. Ini baru sekadar sakit gigi, bagaimana dengan penyakit lain yang lebih parah?

Maka dari itu, sebisa mungkin, jagalah kesehatan, karena menjaga itu sejatinya lebih mudah dan murah daripada mengobati. Apalagi sebagai wanita yang pada dasarnya memiliki kondisi fisik yang …

Beauty Inside Beauty Outside

Beauty Inside Beauty Outside

“Mirror mirror on the wall, who’s the fairest of them all?”
Dan Evil queen pun murka saat babang mirror memberitahu kalau ada yang lebih cantik dari dirinya, karena kecantikannya pure terpancar dari dalam hati. Lalu si evil queen pun mengutus pemburu buat menghabisi nyawa si cantik.

Hi ... Hi ... Saking terobsesinya si evil Queen sama kecantikan, sampai memiliki kekhawatiran seperti itu, ya?

Tak hanya evil queen, manusia pun begitu. Beberapa wanita kerap merasa tersaingi manakala dirasa ada wanita lain yang lebih menarik perhatian dibandingkan dengan dirinya. Kendati tak seekstrem evil queen tentunya, yang sampai mau bunuh-bunuh segala itu.

Sebenarnya, cantik itu yang seperti apa, sih?

Kecantikan lahiriah seorang wanita itu relatif, karena nggak ada batasan yang pasti mengenai pengkategoriannya. Tiap orang tentunya memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam memandang sebuah kecantikan. Cantik menurut seseorang, belum tentu cantik di mata orang yang lain. M…

Wanita Mulia Menghiasi Diri dengan Rasa Malu

Wanita Mulia, Menghiasi Diri dengan Rasa Malu
Jika laki-laki lebih mengedepankan akal daripada perasaannya, wanita berperilaku sebaliknya. Mereka cenderung mendahulukan perasaannya ketimbang akal sehatnya. Kecenderungan ini membuat wanita mempunyai tabiat rasa malu yang lebih besar daripada lelaki. 
Namun, rasa malu yang sebaiknya di kedepankan tentu saja rasa malu yang dapat memotivasi seorang wanita untuk senantiasa meninggalkan perbuatan buruk, serta menghindari hal-hal yang bisa merugikan orang lain, ya.
Di dalam jiwa seorang wanita muslim, hendaklah memiliki rasa malu yang tidak hanya sebatas kepada sesama manusia, tetapi lebih utama jika rasa malunya itu karena malu kepada Allah SWT. Kalau rasa malu hanya kepada sesama manusia, biasanya sih, manusia tersebut hanya akan meninggalkan tindakan buruk di saat ada orang lain yang menyaksikan. Tetapi, jika merasa malu karena Allah, maka kapan saja dan di mana saja, perilakunya akan selalu terkontrol. Hal ini karena akhlak baik telah terbe…

Istri adalah Tanggungjawab Suaminya

Istri adalah Tanggungjawab Suaminya


Setelah ijab kabul diucapkan, tanggung jawab terbesar suami sebagai pemimpin keluarga adalah, “Bagaimana menyelamatkan istrinya dari siksa api neraka.” Dengan kata lain, begitu menyandang gelar “suami”, laki-laki berkewajiban mendidik istrinya, baik itu mendidik perilakunya, maupun akhlaknya.

Kenapa?

Karena sejak saat itulah suami mulai menanggung dosa-dosa istrinya. Di akhirat nanti, para suami akan ditanyai tentang istrinya dan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang kini dipimpinnya itu.

***


Demikian saya dengar dari seorang ustadz di salah satu channel religi sebuah stasiun radio. Sang ustadz mencontohkan cara Rasulullah mendidik istrinya. Salah satu contohnya, yaitu dengan mendidik Aisyah untuk tidak pelit. Dengan demikian, Aisyah pun menjadi orang yang dermawan. Dengan didikan dari Rasulullah, Aisyah jadi paham bahwa dengan bersedekah, hartanya tidak akan pernah berkurang.

Rasulullah juga mendidik istrinya untuk rajin melaksanakan qiyamul…