Kamis, 24 Oktober 2019



Smart Muslimah
Part 1

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina.”

Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu itu adalah salah satu kewajiban kita sebagai manusia yang dikaruniai akal dan pikiran. Meskipun tidak harus benar-benar belajar sampai ke negeri tirai bambu, kita wajib menuntut ilmu, sejak dari buaian bunda, hingga kelak jasad dimasukkan ke liang lahat.

Menuntut ilmu, tidak harus selalu melalui jenjang pendidikan formal, karena ilmu bisa diraih di mana dan dari mana saja. Apalagi sekarang, dimana kemajuan teknologi begitu pesat,  membuat ilmu jenis apapun menjadi lebih mudah dicari maupun disampaikan.
Sebagai seorang wanita, apalagi yang berstatus sebagai seorang ibu, orang yang akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya, memiliki ilmu menjadi sebuah kewajiban. Apalagi kehidupan akan selalu berkembang, wawasan seorang ibu pun haruslah bertambah luas.

Namun, dalam menuntut ilmu, seyogyanya diimbangi dengan iman yang kuat, karena iman yang kuat akan memfilter ilmu yang kita serap. Bayangkan, apa yang akan terjadi bila ilmu tidak diimbangi dengan iman?

Tanpa iman, orang cenderung akan menyalahgunakan ilmu yang dia dapat, misalnya untuk membodohi orang, mengadu domba, memutarbalikkan fakta, dan perbuatan lain yang akan merugikan orang lain. Namun, orang yang beriman tapi tak berilmu juga akan mengalami kesulitan, misalnya mengalami kesalahan-kesalahan dalam beribadah, baik kesalahan kecil maupun yang bersifat fatal.

Demikian pentingnya menjadi wanita yang berilmu, maka ada baiknya agar kita mau belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Maksudnya, yaitu dengan menjadikan siapa saja yang kita temui dalam kehidupan kita ini sebagai “guru”, dan sebagai pelajaran, serta pengalaman yang berharga.

Meskipun ada internet yang biasa disebut orang sebagai “mbah google” yang bisa menjawab berbagai pertanyaan, tetapi bertanya kepada orang yang telah berpengalaman jauh lebih baik. Karena google itu hanya mesin, hanyalah sebuah sarana yang memberikan kemudahan. Sedangkan  pengalaman manusia memiliki “rasa” yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh mesin pencari.

Belajar pada siapapun, selama itu berada pada koridor kebaikan, tak masalah. Belajar ilmu apapun, tidak akan pernah ada ruginya. Paculah diri untuk terus semangat menimba ilmu. Dan jangan pelit dengan ilmu. Kalau kita telah memiliki ilmu, gunakanlah ilmu itu sebaik mungkin untuk menginspirasi orang lain. Ilmu yang bermanfaat adalah bekal seseorang yang bisa dibawa mati.

“Jika mati salah seorang di antaramu, terputuslah segala amal perbuatannya, kecuali tiga perkara, yaitu amal jariyah, olmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.” (HR. Muslim)
**


Karena keterbatasan, baik itu karena keterbatasan akses, kondisi sosial, maupun kondisi finansial, banyak wanita yang tidak bisa menuntut ilmu melalui bangku pendidikan formal hingga ke jenjang yang tinggi. Namun sebenarnya itu bukanlah sebuah penghalang untuk kemudian dijadikan alasan tak mau menuntut ilmu. Sungguh merugi bagi mereka yang enggan belajar. Padahal dengan mempelajari banyak hal, otak kita jadi lebih terlatih untuk berpikir cerdas.

Dengan berbagai kemudahan di era digital ini, rasanya tak ada lagi celah alasan untuk tidak belajar. Bagi seorang muslimah, semua bentuk pembelajaran itu ada nilai ibadahnya. Yang namanya ibadah, tentulah berpahala. Ini adalah janji  Allah.

“Barang siapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya untuk meraih jalan ke surga.” (HR. Tirmidzi)

Masih enggan untuk menuntut ilmu?

Sebaiknya jangan.

Sadarilah bahwa ilmu adalah kunci untuk mendapatkan kebahagiaan, baik di dunia mauoun di akhirat kelak. Hanya orang yang berilmu saja yang akan berhasil dalam mengarungi kehidupan ini. Karena orang yang berilmu pasti akan paham, apa saja yang harus dia lakukan dalam hidup ini, terutama bagaimana harus memecahkan masalah-masalah yang terjadi.

Seorang wanita, apalagi jika sudah berstatus sebagai seorang istri, pasti akan menemui banyak problematika hidup yang datang silih berganti seperti tiada habisnya. Tentu saja, untuk memecahkan berbagai problem tersebut diperlukan pola pikir yang bijak dan wawasan yang luas agar tercipta sebuah solusi yang harmonis.

Bayangkan kalau kita sebagai istri, sangat sempit wawasannya karena enggan menuntut ilmu?

Pastilah akan menjadi orang yang nggak mudah menangkap persoalan, sehingga lambat dalam menemukan solusi yang dibutuhkan. Hal seperti ini bisa mengganggu kelancaran komunikasi antara suami dan istri, lho. Komunikasi yang terhambat, tentu saja akan menggaggu keharmonisan.

Selain itu, wanita yang sempit wawasannya karena enggan menambah ilmu, berpotensi untuk disepelekan oleh orang lain. Hal tersebut bisa membuatnya menjadi minder. Kalau dibiarkan saja, rasa minder tersebut lama kelamaan akan membuat diri menjadi merasa terkucilkan, padahal diri sendirilah yang mengucilkan diri. Sungguh sangat disayangkan bila hal itu sampai terjadi.

Jadi, duhai sahabat wanitaku, sesibuk apapun dirimu, sempatkanlah untuk meng-up-grade ilmu. Banyak baca buku, baca berita, nonton tayangan edukasi, ikut kursus-kursus keterampilan, dan lain sebagainya. Terpenting, belajarlah dari pengalaman berharga, baik pengalaman orang lain maupun pengalaman diri sendiri.

(bersambung)

Jumat, 18 Oktober 2019

Sudah Sehatkah Jiwa dan Ragamu








Sudah Sehatkah Jiwa dan Ragamu

“Ada dua macam kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Banyak orang yang tidak menyadari betapa berharganya nikmat sehat itu. Ketika sedikit saja ada anggota tubuh yang sakit, anggota tubuh yang lain akan ikut merasakan. Misalnya saja sakit gigi. Saat ada salah satu gigi sakit, semua jadi terasa tidak nyaman. Mau makan sakit, bicara pun tak nyaman, sehingga emosi jadi tak terkontrol. Kalau sudah begitu, semua aktivitas jadi terganggu. Belum lagi ketika memeriksakan gigi yang sakit, alangkah kagetnya mendapati biaya yang harus dikeluarkan ternyata mahal sekali. Di saat seperti itulah, baru akan terasa kalau sehat itu nikmat. Ini baru sekadar sakit gigi, bagaimana dengan penyakit lain yang lebih parah?

Maka dari itu, sebisa mungkin, jagalah kesehatan, karena menjaga itu sejatinya lebih mudah dan murah daripada mengobati. Apalagi sebagai wanita yang pada dasarnya memiliki kondisi fisik yang jauh lebih lemah daripada lelaki, kita harus bisa menjaga kesehatan dengan baik. Ditambah lagi kalau kita telah berstatus sebagai seorang istri yang memiliki segudang tanggungjawab, seperti mengurus rumah, mendidik anak, dan melayani suami. Tentu saja untuk bisa melakukan semua tanggungjawab itu, tubuh dan pikiran kita harus selalu dalam kondisi yang sehat. Maka menjaga kesehatan menjadi sebuah keharusan bagi wanita. Dan peduli untuk selalu menjaga kesehatan itu juga termasuk salah satu cara kita mensyukuri karunia Illahi, lho.

Apakah menjaga kesehatan itu sulit?

Tentu saja tidak. Apalagi Rasulullah telah memberikan banyak tuntunan bagaimana cara yang tepat agar kita senantiasa dapat menjaga kesehatan, diantaranya:

1. Rutin bagun pagi
Udara pagi yang masih segar karena belum banyak polusi, dan sinar matahari pagi yang menyehatkan, terbukti dapat membuat badan kita menjadi sehat. Selain itu, dengan bangun pagi, kita juga  jadi tidak tergesa-gesa dalam beraktivitas, sehingga kegiatan kita jadi lebih berkualitas. Coba bandingkan kalau kita bangun siang/ kesiangan. Semua aktivitas jadi dilakukan dengan penuh ketergesa-gesaan. Tentu saja kondisi seperti ini akan memengaruhi emosi jadi negatif.

2. Rajin berolahraga
Sudah terbukti bahwa olahraga yang teratur dapat menyehatkan tubuh. Jenis olahraga yang dipilih pun tak perlu yang mahal, cukip dengan jalan sehat atau lari pagi, terbukti dapat menstabilkan stamina. Kalau jalan sehat dan lari pagi tidak memungkinkan, karena sebagai istri biasanya aktivitas di pagi hari itu banyak sekali, tak perlu risau. Melakukan aktivitas yang banyak melibatkan olah tubuh pun sudah cukup, misalnya menyapu dan mengepel.

3. Mengonsumsi makanan sehat dan halal.
Memastikan apa yang kita konsumsi itu sangatlah penting, karena semua asupan yang masuk ke dalam tubuh kita, akan menjadi darah dan daging. Jadi, pastikan asupan makanan kita berasal dari bahan yang halal dan cara mendapatkan yang halal pula. Jangan sekali-kali mendekati asupan yang haram sekalipun hanya dengan dalih mencicip. Karena mengonsumsi sesuatu yang diharamkan, tidak hanya merugikan kesehatan tubuh, namun juga berpotensi merugikan kesehatan rohani.
Selain mengonsumsi asupan yang halal, cara mengonsumsinya pun telah dianjurkan oleh Rasulullah, yaitu dengan “makan sesudah lapar, dan berhenti sebelum kenyang.” Dengan cara seperti ini, tidak hanya menyehatkan badan, namun juga bermanfaat untuk mengontrol nafsu makan. Menurut Rasulullah, makan itu hanya sebagai sarana penyambung hidup, seperti dalam sabdanya,
“Sepertiga perut itu untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk napas/udara.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Dengan menerapkan pola makan seperti yang dianjurkan oleh nabi, selain menyehatkan, juga bermanfaat untuk menghindarkan diri dari kecenderungan menuruti hawa nafsu, yang bisa menyebabkan kita jadi konsumtif.

4. Rajin berpuasa
Manfaat puasa telah diakui oleh dunia medis sebagai kegiatan ibadah yang menyehatkan. Pada saat berpuasa, tubuh memberikan waktu kepada alat pencernaan untuk beristirahat sejenak dari kegiatan mencerna yang hampir tiada henti.

5. Menjaga silaturahmi
Memangnya, apa hubungannya menjaga kesehatan dengan silaturahmi?
Tentu saja ada hubungannya.
Dengan melakukan silaturahmi, maka tali persaudaraan akan semakin erat terjalin. Dengan tali persaudaraan yang kuat, toleransi dan rasa saling membutuhkan akan terjaga, sehingga akan terjalin keinginan untuk saling menolong, saling menghargai, saling berbagi, dan tentu saja ini akan membawa dampak positif bagi kesehatan jiwa dan raga kita. Inilah yang dimaksud bahwa dengan menjaga silaturahmi, maka akan luas rezekinya, dan panjang umurnya (sehat).

Sekarang, mari kita tanyakan pada diri, apakah tubuh kita sehat?
Apakah jiwa kita bahagia?

Jiwa yang sehat ditandai dengan emosi yang terkontrol, tidak mudah marah, uring-uringan, dan sedih berkepanjangan. Di dalam jiwa yang sehat, akan selalu terpancar aura positif. Aura positif membuat wanita menjadi jauh lebih bahagia. Wanita yang bahagia, mudah menularkan virus-virus bahagia kepada orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, mari kita menjadi wanita bahagia.


Rara radyanti

#wanita
#sehatjiwaraga
#bahagia




Rabu, 16 Oktober 2019

Beauty Inside Beauty Outside



Beauty Inside Beauty Outside

“Mirror mirror on the wall, who’s the fairest of them all?”
Dan Evil queen pun murka saat babang mirror memberitahu kalau ada yang lebih cantik dari dirinya, karena kecantikannya pure terpancar dari dalam hati. Lalu si evil queen pun mengutus pemburu buat menghabisi nyawa si cantik.

Hi ... Hi ... Saking terobsesinya si evil Queen sama kecantikan, sampai memiliki kekhawatiran seperti itu, ya?

Tak hanya evil queen, manusia pun begitu. Beberapa wanita kerap merasa tersaingi manakala dirasa ada wanita lain yang lebih menarik perhatian dibandingkan dengan dirinya. Kendati tak seekstrem evil queen tentunya, yang sampai mau bunuh-bunuh segala itu.

Sebenarnya, cantik itu yang seperti apa, sih?

Kecantikan lahiriah seorang wanita itu relatif, karena nggak ada batasan yang pasti mengenai pengkategoriannya. Tiap orang tentunya memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam memandang sebuah kecantikan. Cantik menurut seseorang, belum tentu cantik di mata orang yang lain. Meskipun begitu, setiap wanita memiliki kecantikan dan daya tariknya sendiri-sendiri, karena Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Namun pendapat mengenai kecantikan wanita, mungkin berbeda bagi laki-laki. Hampir semua laki-laki memiliki persepsi yang sama mengenai kecantikan fisik wanita. Hal tersebut sangatlah manusiawi. Bahkan, Al-Quran menerangkan bahwa ada kecenderungan yang kuat bagi laki-laki untuk menyukai wanita yang cantik dan menjadikannya sebagai kesenangan dunia.

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-,binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hiduo di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.” QS. Ali Imran:14.

Seperti jamak diketahui, banyak lelaki yang menilai kecantikan fisik wanita itu dilihat dari  kulitnya yang putih dan mulus, wajah menarik dengan hidung mancung, bibir merekah, bulu mata yang lentik, dan bentuk tubuh yang ideal, serta memancarkan aura memesona bagi setiap mata yang memandangnya.

Bahkan Rasulullah pun secara manusiawi mengakui kecantikan istrinya, Aisyah. Hal tersebut tampak dari panggilan yang beliau berikan kepadanya, yaitu “ya khumaira”, yang artinya adalah wahai yang pipinya kemerah-merahan. Ini tentu menggambarkan adanya kecintaan pada fisik Aisyah dengan kulitnya yang begitu putih, sehingga pipinya pun jadi tampak merah merona.

Maka beruntunglah wanita-wanita yang telah Allah karuniakan kecantikan fisik sejak lahir. Janganlah menjadi sombong karenanya, tetapi gunakanlah karunia itu untuk meraih ridho-Nya. Tetaplah rendah hati dan tidak sombong dan selalu menjaga diri dengan baik. Apalagi buat yang sudah berstatus sebagai istri. Karena kantikan seorang istri adalah perhiasan bagi suaminya, maka jadikanlah itu sebagai jembatan meraih ridha-Nya.

Namun di dunia ini, tidak semua wanita dilahirkan dengan kondisi lahiriah yang sempurna kecantikannya. Tetapi jangan jadi risau, karena ada kecantikan lain yang lebih memesona bila dibandingkan dengan kecantikan fisik, yaitu kecantikan hati (inner beauty).

Kecantikan fisik itu sifatnya hanya semu belaka, sedangkan kecantikan hati jauh lebih abadi. Selain itu, kecantikan hati juga merupakan kunci kebahagiaan. Wanita yang memiliki kecantikan hati, akan lebih memesona banyak orang, karena kecantikannya begitu tulus, sehingga auranya terpancar dari dalam lubuk hatinya.

Kecantikan hati biasanya terlahir dari mereka yang memiliki akhlak yang baik. Dan akhlak yang baik ini hanya tercipta bagi mereka yang memiliki dasar agama yang kuat. Agama islam mengajarkan umatnya untuk selalu berperilaku baik dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga seorang muslimah yang berakhlak mulia, tidak akan mudah terjebak dalam pusaran dunia hedonis dan sifat-sifat materialistis yang tentunya lebih melihat kecantikan fisik daripada kecantikan hati.

Demi terlihat cantik dan sempurna fisiknya, kini banyak wanita berlomba-lomba mempermak penampilannya dengan cara instan, seperti operasi plastik. Tentu saja ini menandakan kalau orang tersebut tidak bisa mensyukuri karunia Allah. Apalagi kalau kecantikan fisik itu tidak dibekali dengan kecantikan hati, dikhawatirkan malah akan membawa kehinaan bagi si wanita itu, misalnya dengan mengeksploitasi kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya demi mendapatkan kesenangan dunia. Naudzubilahimindzalik.

Kecantikan memang anugerah dari Allah yang harus disyukuri, maka dari itu tidak boleh ada wanita yang tidak merasa cantik. Kendati tidak cantik secara lahiriah, kecantikan hati bisa dibentuk dengan akhlak yang baik. Semudah itu, sahabatku.

Ah, seandainya saja wanita tahu bahwa kecantikan sejati itu bersumber dari kecantikan hati, maka mereka tidak perlu bersusah payah merogoh kocek demi mempermak karunia sempurna yang Allah berikan padanya. Meski tidak cantik secara lahiriah, tetapi kalau hatinya cantik, maka aura memesona akan membuatnya menarik dan disenangi di manapun wanita tersebut berada. 

Karena itu, duhai, sahabat-sahabat wanitaku, selain menjaga kecantikan lahiriah, hendaklah selalu menghiasi diri dengan kecantikan hati. Selalu menjaga perilakunya, juga lisannya, sehingga di manapun berada, senantiasa selalu menyejukkan hati siapa pun yang berada di sekitarnya.
**

Tak dapat dipungkiri, wanita yang cantik baik lahir maupun batinnya memanglah menjadi idaman lelaki untuk dijadikan pendamping hidupnya. Wanita yang lahiriahnya sudah cantik sejak dari lahir, hendaknya selalu mennsyukuri karunia tersebut dengan rajin merawat diri, dan mengimbanginya dengan kecantikan hati yang bisa dibentuk dengan ketakwaan dan akhlak mulia.

Sedangkan wanita yang merasa kecantikannya biasa-biasa saja, tak perlu risau. Asah terus kecantikan yang ada di dalam hati, sehingga auranya akan terpancar keluar. Ibarat batu permata, kilauan cahayanya baru akan tampak setelah diasah.

Yang terpenting adalah selalu bersyukur. Syukuri apa yang ada pada diri, karena semua itu adalah karunia Illahi. Rasa syukur itu biasanya akan diwujudkan dengan selalu menjaga karunia tersebut. Merawat kecantikan, salah satu caranya adalah dengan merawat kesehatan. Dengan tubuh yang sehat, ibadah bisa semakin khusyuk, hati pun tenang  dan gembira, sehingga selalu termotivasi untuk terus berbuat baik. Tentu saja hal tersebut akan dapat memancarkan aura kecantikan dari dalam diri.

Ya, Islam memang sangat mencintai umatnya yang suka menjaga dan memelihara kesehatan dan keindahan dirinya. Namun demikian, dalam berpenampilan hendaknya tetap menyesuaiakan dengan etika dan aturan dalam agama. Sebaiknya, jangan sampai timbul tabarruj atau senang berlebih-lebihan dalam berpenampilan, karena hal tersebut justru akan mengundang fitnah dan berpotensi memancing orang lain untuk melakukan kejahatan terhadap dirinya.

Sahabat-sahabat wanita, mari menjaga kecantikan diri dengan menjaga kesehatan, baik kesehatan jiwa maupun kesehatan raga. Keduanya secara tidak langsung akan membantu mengeluarkan aura cantik yang terpendam dari dalam diri. Dengan raga yang sehat, akan membuat ibadah menjadi lebih berkualitas. Dengan ibadah yang semakin baik, jiwa pun selalu terjaga kesehatannya. Dengan jiwa yang sehat, aura negatif akan menyingkir. Sifat iri, dengki, dan berbagai sifat buruk lain akan enggan menempati hati.

Siapkah menjemput cantiknya dirimu?



Rara radyanti

#Wanita
#Cantikjiwacantikraga





Selasa, 15 Oktober 2019

Wanita Mulia Menghiasi Diri dengan Rasa Malu


Wanita Mulia, Menghiasi Diri dengan Rasa Malu

Jika laki-laki lebih mengedepankan akal daripada perasaannya, wanita berperilaku sebaliknya. Mereka cenderung mendahulukan perasaannya ketimbang akal sehatnya. Kecenderungan ini membuat wanita mempunyai tabiat rasa malu yang lebih besar daripada lelaki. 

Namun, rasa malu yang sebaiknya di kedepankan tentu saja rasa malu yang dapat memotivasi seorang wanita untuk senantiasa meninggalkan perbuatan buruk, serta menghindari hal-hal yang bisa merugikan orang lain, ya.

Di dalam jiwa seorang wanita muslim, hendaklah memiliki rasa malu yang tidak hanya sebatas kepada sesama manusia, tetapi lebih utama jika rasa malunya itu karena malu kepada Allah SWT. Kalau rasa malu hanya kepada sesama manusia, biasanya sih, manusia tersebut hanya akan meninggalkan tindakan buruk di saat ada orang lain yang menyaksikan. Tetapi, jika merasa malu karena Allah, maka kapan saja dan di mana saja, perilakunya akan selalu terkontrol. Hal ini karena akhlak baik telah terbentuk dan sadar betul bahwa Allah itu maha tahu. Dengan rasa malu ini, diharapkan seorang muslimah dapat menjaga diri serta kehormatannya.

Namun sayangnya, pada saat ini, dimana media sosial sangat mudah diakses, kebebasan berbicara seakan menjadi tidak terbendung lagi. Meskipun sudah ada Undang-undang ITE yang diharapkan dapat membatasi menyebarnya berita hoaks, nyatanya masih saja tidak membuat para pengguna media sosial mengerem postingan-postingan mereka yang mengandung provokasi. Dan sangat disayangkan, banyak dari pelaku-pelaku hal tersebut adalah para wanita. Sebagai sesama wanita, tentu saja saya sedih sekali.

Sungguh sangat disayangkan, ya, banyak wanita yang jadi tidak menyadari betapa berharganya dirinya, sehingga mereka berperilaku merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu. Para wanita ini seakan lupa dengan pepatah, mulutmu harimaumu, dan jemarimu belatimu.

Apakah hal ini terjadi karena banyak wanita yang mulai tergerus rasa malunya?

Kalau iya, apakah yang menyebabkan hal-hal seperti ini bisa terjadi?

Bisa jadi, hilangnya rasa malu tersebut disebabkan karena lemah atau bahkan hilangnya kontrol sosial seseorang. Bisa juga karena terpapar oleh pengaruh pergaulan yang sudah lemah atau hilang rasa malunya. Naudzubilah.

Hilangnya rasa malu seseorang juga sangat bisa terjadi akibat jungkir baliknya norma-norma di masyarakat. Misalnya, dari hal yang tadinya dianggap tidak sopan jadi dianggap biasa saja. Atau karena hal yang tadinya dianggap tabu jadi tidak ditabukan lagi, dan lain sebagainya.

Hilangnya rasa malu juga bisa terjadi akibat dari perilaku buruk yang dilakukan secara berulang-ulang, tetapi tidak dikenakan sanksi, sehingga tidak menimbulkan efek jera. Tetapi yang pasti, hilangnya rasa malu terjadi akibat lemahnya akidah dan iman seseorang. Sahabat, ingatlah, merasa diri telah sangat beriman itu justru pertanda lemahnya iman, lho.

Sahabat-sahabat wanitaku, ingatlah selalu bahwa Allah telah menjadikan rasa malu sebagai bagian dari iman. Dan rasa malu pada wanita adalah mahkota keimanannya. Rasa malu adalah bagian terpenting yang membentuk ketakwaan manusia beragama, karena rasa malu sangat terkait dengan etika dan moral seseorang. Rasa malu yang ada pada diri wanita adalah hal yang membuat dirinya dihormati dan dimuliakan.

Sebagai seorang muslimah, kita harus senantiasa menjaga rasa malu, agar tidak terjatuh pada sikap ekstrem yang akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. 

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak, dan akhlak islam itu adalah rasa malu.” HR Ibnu Majah.

Rasulullah Saw dalam sabdanya pernah menjelaskan bahwasanya ada dua macam rasa malu, yaitu rasa malu yang bersumber dari pemikiran rasional dan rasa malu yang muncul dari kebodohan manusia. Rasa malu yang bersifat rasional pada dasarnya adalah ilmu, sementara rasa malu yang berasal dari kebodohan adalah jahl. (Kafi, jilid 2 hal.106)

Rasa malu yang bersifat ilmu, misalnya: malu melakukan perbuatan dosa atau bisa juga rasa malu ketika berada di hadapan orang yang dihormati. Sifat-sifat malu seperti ini menunjukkan sikap yang bijak.

Sedangkan rasa malu yang besumber kebodohan, misalnya: malu menanyakan hal-hal yang tidak diketahuinya, malu untuk belajar ibadah, dan sebagainya yang merugikan dirinya sendiri. Sifat-sifat malu seperti ini memiliki esensi negatif dan menunjukkan kelemahan jiwa, sehingga mencegah kemajuan seseorang. Tentu saja, hal tersebut dapat menyebabkan seseorang jadi tertinggal di berbagai bidang kehidupan. Rugi sekali, kan?

Lalu, bagaimana cara yang dianjurkan agar sebagai muslimah dapat senantiasa menjaga rasa malu?

1. Senantiasa merasa malu pada Allah.
Seperti pada sabda Rasulullah Saw, “Malulah kepada Allah sebagaimana kamu merasa malu kepada tetangga yang baik. Karena malu kepada Allah akan meningkatkan keyakinan.”

2. Merasa malu pada diri sendiri.
Dengan demikian, rasa malu tersebut dapat menjadi pengawas bagi dirinya, sehingga membuat orang tersebut akan menjauhi perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan.

Sahabat-sahabat wanita di mana pun Anda berada, dengan senantiasa menjaga rasa malu kepada Allah dan juga kepada diri sendiri, maka seseorang akan merasa malu melakukan hal-hal yang buruk, baik itu hal buruk yang dapat merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Tahan diri, tahan lisan, tahan jemari untuk melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya Anda lakukan. Ingat keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kita kasihi. Kalau Anda mendapat malu karena ulah Anda sendiri, mereka juga akan ikut menanggung malu.

Semoga kita semua terhindar dari hilangnya rasa malu pada diri dan dapat memuliakan diri dengan senantiasa menjaga rasa malu.


Rara radyanti
#Wanita
#menjagarasamalu










Senin, 14 Oktober 2019

Istri adalah Tanggungjawab Suaminya




Istri adalah Tanggungjawab Suaminya


Setelah ijab kabul diucapkan, tanggung jawab terbesar suami sebagai pemimpin keluarga adalah, “Bagaimana menyelamatkan istrinya dari siksa api neraka.” Dengan kata lain, begitu menyandang gelar “suami”, laki-laki berkewajiban mendidik istrinya, baik itu mendidik perilakunya, maupun akhlaknya.

Kenapa?

Karena sejak saat itulah suami mulai menanggung dosa-dosa istrinya. Di akhirat nanti, para suami akan ditanyai tentang istrinya dan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang kini dipimpinnya itu.

***


Demikian saya dengar dari seorang ustadz di salah satu channel religi sebuah stasiun radio. Sang ustadz mencontohkan cara Rasulullah mendidik istrinya. Salah satu contohnya, yaitu dengan mendidik Aisyah untuk tidak pelit. Dengan demikian, Aisyah pun menjadi orang yang dermawan. Dengan didikan dari Rasulullah, Aisyah jadi paham bahwa dengan bersedekah, hartanya tidak akan pernah berkurang.

Rasulullah juga mendidik istrinya untuk rajin melaksanakan qiyamul lail. Beliau selalu membangunkan istrinya untuk melaksanakan sholat malam.
Sebagai umat nabi Muhammad SAW, para suami pun hendaknya mencontoh beliau. Sesibuk apapun, biasakanlah untuk selalu mengecek kualitas dan kuantitas ibadah istrinya. Selain ibadah wajib, ingatkan ibadah sunahnya. Misalnya,
“Sudah sholat dhuha belum, Bunda?”
“Sudah baca quran belum, Ma?”
“Jangan lupa zikirnya, Umi.”
Ingatkan juga, sudah meng-qodo puasanya, belum? Kan wanita pasti ada bolong-bolongnya tuh pas puasa ramadan.

Didiklah istri dengan cinta dan kasih sayang. Jangan sekali-kali mendidiknya dengan kekerasan. Istri Anda memang milik Anda, tapi tubuhnya adalah miliknya, hatinya pun tetap menjadi miliknya sendiri.

Banyak sekali tuntunan membimbing dan mendidik istri yang baik dan benar sesuai dengan perintah Allah di dalam Al quran. Mulai dari sindiran, teguran halus, memisahkan ranjangnya, hingga pukulan ringan yang tidak melukai. Semua ada aturannya dan dimaksudkan untuk mendidik istri.

Suami yang baik juga semestinya mengetahui dengan siapa saja istrinya bergaul dan berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Hal ini bukan untuk mengekang, tetapi untuk mengontrol. Nggak ingin, kan, kejadian yang menimpa bapak-bapak anggota TNI akibat ulah istri-istrinya itu menimpa Anda?

Duh, sampai mules perut ini kalau ingat peristiwa itu.

Namun, sebenarnya ada hikmah yang bisa kita petik dari kejadian itu, lho. Selain mengingatkan pada diri untuk selalu menjaga lisan, juga mengingatkan bahwa “Istri adalah tanggungjawab suami.” Ini adalah petunjuk dari Allah. Dan aturan dari Allah memang tak pernah salah. Instansi terkait sudah sangat tepat dalam mengadaptasi perintah Allah tersebut.

Sekali lagi tentang, “istri adalah tanggungjawab suami.” Hal ini tentulah bisa membuat kita semakin bisa memahami apabila banyak ibu-ibu yang memiliki putra dengan usia matang, mulai sangat selektif terhadap calon-calon pendamping bagi putra-putranya.
Tentunya kekhawatiran tersebut adalah hal yang wajar. Ketika anak sudah dididik sebaik mungkin dari sejak lahir hingga dewasa dan dibekali dengan ilmu agama yang benar, bagaimana kalau tahu-tahu dapat istri yang ‘ngeyelan’ dan nggak bisa dididik, baik akhlak maupun perilakunya?

Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak lelaki, saya dapat memahami kekhawatiran seperti itu. Anak laki-laki kita, ketika dia telah berstatus suami, maka dia memiliki tanggungjawab penuh terhadap istrinya, dan harus siap menanggung dosa-dosa istri yang semestinya bisa dia didik. Tentu saja, ibu mana pun nggak akan tega anaknya harus menanggung dosa wanita yang nggak bisa menjaga akhlak dan perilakunya, bukan?

Jadi, wahai sahabat-sahabat wanita di manapun Anda berada, kalau ibu atau bapak mertua Anda memberikan nasihat, jangan mudah merasa jengkel. Berpikirlah positif. Yakinlah, mereka bukan mau mengatur Anda, justru mereka sedang membimbing Anda agar bisa menjadi istri yang baik. Meskipun tentu saja akan ada terselip harapan agar anaknya tidak harus menanggung dosa berlipat-lipat, yaitu dosanya sendiri dan dosa istri yang harus ditanggungnya.

Sahabat wanita, jika Anda menyayangi suami Anda, tentunya tidak ingin dia punya banyak tabungan dosa, bukan? Maka, bantulah dia meraih pahala dengan keberhasilannya membimbing Anda menjadi wanita saleha. Jadilah istri yang patuh dan taat pada suami, selama itu berada pada jalan Allah.

Sebenarnya hal tersebut tidaklah sulit apabila wanita menyadari dan memahami betapa berat tanggungjawab suami. Mulai dari kewajiban memberi nafkah lahir dan batin kepada istri, menutupi aib istri, mendidik dan membimbing istri di jalan Allah, hingga menanggung dosa-dosa istri yang gagal dididik.

Islam adalah agama yang sangat memuliakan wanita. Bahkan, Allah akan membukan pintu surga seluas-luasnya, dan membolehkan para kaum hawa tersebut untuk memasukinya dari pintu mana saja. Tapi tentu saja dengan sebuah syarat, yaitu, selalu melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa penuh di bulan ramadan, menjaga martabatnya (menghindari zina), dan patuh pada suaminya. Bila semua itu dapat dipenuhi, maka pintu surga terbuka lebar bagi wanita.

Maka dari itu, jadilah bidadari bagi suami Anda, yaitu bidadari yang menciptakan surga, baik surga bagi dirinya sendiri, maupun bagi suaminya.


Rara radyanti

#wanita
#genggameratcintadiadanDia





KADUNG SELINGKUH

Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari ...