Langsung ke konten utama

Istri adalah Tanggungjawab Suaminya




Istri adalah Tanggungjawab Suaminya


Setelah ijab kabul diucapkan, tanggung jawab terbesar suami sebagai pemimpin keluarga adalah, “Bagaimana menyelamatkan istrinya dari siksa api neraka.” Dengan kata lain, begitu menyandang gelar “suami”, laki-laki berkewajiban mendidik istrinya, baik itu mendidik perilakunya, maupun akhlaknya.

Kenapa?

Karena sejak saat itulah suami mulai menanggung dosa-dosa istrinya. Di akhirat nanti, para suami akan ditanyai tentang istrinya dan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang kini dipimpinnya itu.

***


Demikian saya dengar dari seorang ustadz di salah satu channel religi sebuah stasiun radio. Sang ustadz mencontohkan cara Rasulullah mendidik istrinya. Salah satu contohnya, yaitu dengan mendidik Aisyah untuk tidak pelit. Dengan demikian, Aisyah pun menjadi orang yang dermawan. Dengan didikan dari Rasulullah, Aisyah jadi paham bahwa dengan bersedekah, hartanya tidak akan pernah berkurang.

Rasulullah juga mendidik istrinya untuk rajin melaksanakan qiyamul lail. Beliau selalu membangunkan istrinya untuk melaksanakan sholat malam.
Sebagai umat nabi Muhammad SAW, para suami pun hendaknya mencontoh beliau. Sesibuk apapun, biasakanlah untuk selalu mengecek kualitas dan kuantitas ibadah istrinya. Selain ibadah wajib, ingatkan ibadah sunahnya. Misalnya,
“Sudah sholat dhuha belum, Bunda?”
“Sudah baca quran belum, Ma?”
“Jangan lupa zikirnya, Umi.”
Ingatkan juga, sudah meng-qodo puasanya, belum? Kan wanita pasti ada bolong-bolongnya tuh pas puasa ramadan.

Didiklah istri dengan cinta dan kasih sayang. Jangan sekali-kali mendidiknya dengan kekerasan. Istri Anda memang milik Anda, tapi tubuhnya adalah miliknya, hatinya pun tetap menjadi miliknya sendiri.

Banyak sekali tuntunan membimbing dan mendidik istri yang baik dan benar sesuai dengan perintah Allah di dalam Al quran. Mulai dari sindiran, teguran halus, memisahkan ranjangnya, hingga pukulan ringan yang tidak melukai. Semua ada aturannya dan dimaksudkan untuk mendidik istri.

Suami yang baik juga semestinya mengetahui dengan siapa saja istrinya bergaul dan berinteraksi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Hal ini bukan untuk mengekang, tetapi untuk mengontrol. Nggak ingin, kan, kejadian yang menimpa bapak-bapak anggota TNI akibat ulah istri-istrinya itu menimpa Anda?

Duh, sampai mules perut ini kalau ingat peristiwa itu.

Namun, sebenarnya ada hikmah yang bisa kita petik dari kejadian itu, lho. Selain mengingatkan pada diri untuk selalu menjaga lisan, juga mengingatkan bahwa “Istri adalah tanggungjawab suami.” Ini adalah petunjuk dari Allah. Dan aturan dari Allah memang tak pernah salah. Instansi terkait sudah sangat tepat dalam mengadaptasi perintah Allah tersebut.

Sekali lagi tentang, “istri adalah tanggungjawab suami.” Hal ini tentulah bisa membuat kita semakin bisa memahami apabila banyak ibu-ibu yang memiliki putra dengan usia matang, mulai sangat selektif terhadap calon-calon pendamping bagi putra-putranya.
Tentunya kekhawatiran tersebut adalah hal yang wajar. Ketika anak sudah dididik sebaik mungkin dari sejak lahir hingga dewasa dan dibekali dengan ilmu agama yang benar, bagaimana kalau tahu-tahu dapat istri yang ‘ngeyelan’ dan nggak bisa dididik, baik akhlak maupun perilakunya?

Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak lelaki, saya dapat memahami kekhawatiran seperti itu. Anak laki-laki kita, ketika dia telah berstatus suami, maka dia memiliki tanggungjawab penuh terhadap istrinya, dan harus siap menanggung dosa-dosa istri yang semestinya bisa dia didik. Tentu saja, ibu mana pun nggak akan tega anaknya harus menanggung dosa wanita yang nggak bisa menjaga akhlak dan perilakunya, bukan?

Jadi, wahai sahabat-sahabat wanita di manapun Anda berada, kalau ibu atau bapak mertua Anda memberikan nasihat, jangan mudah merasa jengkel. Berpikirlah positif. Yakinlah, mereka bukan mau mengatur Anda, justru mereka sedang membimbing Anda agar bisa menjadi istri yang baik. Meskipun tentu saja akan ada terselip harapan agar anaknya tidak harus menanggung dosa berlipat-lipat, yaitu dosanya sendiri dan dosa istri yang harus ditanggungnya.

Sahabat wanita, jika Anda menyayangi suami Anda, tentunya tidak ingin dia punya banyak tabungan dosa, bukan? Maka, bantulah dia meraih pahala dengan keberhasilannya membimbing Anda menjadi wanita saleha. Jadilah istri yang patuh dan taat pada suami, selama itu berada pada jalan Allah.

Sebenarnya hal tersebut tidaklah sulit apabila wanita menyadari dan memahami betapa berat tanggungjawab suami. Mulai dari kewajiban memberi nafkah lahir dan batin kepada istri, menutupi aib istri, mendidik dan membimbing istri di jalan Allah, hingga menanggung dosa-dosa istri yang gagal dididik.

Islam adalah agama yang sangat memuliakan wanita. Bahkan, Allah akan membukan pintu surga seluas-luasnya, dan membolehkan para kaum hawa tersebut untuk memasukinya dari pintu mana saja. Tapi tentu saja dengan sebuah syarat, yaitu, selalu melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa penuh di bulan ramadan, menjaga martabatnya (menghindari zina), dan patuh pada suaminya. Bila semua itu dapat dipenuhi, maka pintu surga terbuka lebar bagi wanita.

Maka dari itu, jadilah bidadari bagi suami Anda, yaitu bidadari yang menciptakan surga, baik surga bagi dirinya sendiri, maupun bagi suaminya.


Rara radyanti

#wanita
#genggameratcintadiadanDia





Komentar

  1. Jadi terus melihat ke diriku sendiri nih mba'.. Aku nya rasanya masih perlu belajar banyak untuk dikatakan istri sholehah

    BalasHapus
  2. Sama, mbak. Diriku pun begitu. Masih terus belajar dan belajar. Melalui tulisan ini, niat buat self reminder juga.

    BalasHapus
  3. Masha Allah. Ayo girls, semangat berbenah dan terus berbenah. Wanita memang sangat istimewa.

    BalasHapus
  4. Saya juga masih berusaha belajar menjadi isteri yang baik dan sholehah..semoga kita semua diberikan kemudahan dan istiqomah untuk selalu belajar

    BalasHapus
  5. Andai para suami tahu hak dan kewajibannya seperti ini tidak akan ada yang namanya saling menyalahkan yaa

    BalasHapus
  6. Iya nih, harus bebenah diri. Belum jadi istri yg sholehah. Aku masih sering protes🙈

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIKA ANAK KITA MENJADI KORBAN BODY SHAMING

"Bunda, Adek ni jelek ya, Bunda?" "Ya enggak lah. Adek cantik." "Tapi temen Adek bilang kalau Adek jelek."
Lalu meluncurlah cerita-cerita pembully-an yang dilakukan oleh teman-temannya (kebanyakan sih yang laki-laki).
"Adek dikatain item, kiting, jelek!" ucapnya dengan raut sedih.
Deg!! Apalagi saya, ibunya. Jauuuh lebiih sediih. Rasanya pengen marah dan memaki-maki anak yang meledek gadis kecil saya.
"Siapa nama temen Adek yang bilang begitu? Anaknya siapa?" Pertanyaan itu nyaris keluar dari mulut saya, tapi untunglah masih bisa saya tahan.
Saya nggak ingin anak saya tumbuh menjadi seorang pembenci.
Kemudian saya raih tubuhnya, saya tatap matanya, dan saya elus kedua pipinya.
Hal pertama yang harus saya lakukan adalah membuatnya bisa menerima kondisi dirinya dengan baik. "Rambut Adek kan memang keriting, tapi Adek cantik dengan rambut seperti itu. Banyak lho, orang yang kepengen rambutnya dikeriting."
Lalu saya ceritakan bahwa se…

Mengakui Kesalahan. Sulitkah?

BERBUAT SALAH ITU MANUSIAWI, karena melakukan kesalahan itu menandakan bahwa kita itu punya kekurangan, dan itu seharusnya bisa menjadi cambuk bagi kita untuk terus belajar memperbaiki diri. Kalau kita sadar telah melakukan sebuah kesalahan, ya akui saja. MENGAKUI KESALAHAN ITU MULIA, lho. Dengan mengakui kesalahan, secara tersirat kita telah menyatakan bahwa kita ini hanyalah manusia biasa yang senantiasa berbuat salah, karena yang tidak pernah bisa salah itu hanya Tuhan. Tapi mengakui kesalahan itu mestinya ya datang dari hati nurani terdalam, jangan cuma di bibir saja. Sulit memang melakukannya. Berat dan butuh waktu yang lama supaya bisa benar-benar iklhas saat mengatakannya.
Tapi ini jauh lebih baik daripada "tidak pernah merasa bersalah" sama sekali. Ketika kamu sama sekali tidak pernah merasa bersalah, itu artinya ada "sensor" di hatimu yang sudah tidak berfungsi lagi, sehingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mungkin hatimu perlu d…

TIPS MENAGIH UTANG

Kamu punya piutang yang susah sekali didapatkan kembali? Kalau iya, kamu nggak sendiri, kok.Banyak yang mengalami nasib yang sama denganmu. Mau minta uang yang menjadi hak kita sendiri saja susahnya minta ampun.
Kesal? Tentu saja. Kita yang memberikan utang tetapi malah jadi seperti kita yang mau utang. Yang sering terjadi, yang ditagih malah lebih garang daripada yang nagih.
Padahal sebenarnya kalau kita menagih utang itu justru membantu si pengutang agar terbebas dari dosa, lho. Bukankah utang itu akan selalu dibawa sampai mati?
Utang adalah janji yang harus dipertanggungjawabkan sampai ke akhirat nanti. Maka dari itu, jangan ada rasa sungkan saat kita akan menagih utang.
Berikut ada beberapa tips atau langkah-langkah bagaimana cara menagih utang yang sebaiknya ditempuh apabila seseorang berutang kepada kita, yaitu:


1.TAGIH SECARA TIDAK LANGSUNG
Maksud dari cara ini adalah dengan menagih melalui media penghubung komunikas, seperti lewat sms, WA, BBM, dan lain sebagainya. Pengutang yang…

Maling Teriak Maling

Lain di bibir lain di hati adalah ungkapan yang kerap dipakai untuk menunjukan sifat munafik seseorang. Ada juga yang menyebutnya dengan sebutan orang bermuka dua. Secara umum, orang yang bersifat munafik memilik ciri-ciri, yaitu bila berkata dia dusta, dan bila dipercaya dia khianat. Tak hanya itu, masih banyak ciri-ciri lain yang bisa kamu pelajari untuk mengenali para munafikun ini, diantaranya adalah: 1. FUJUR
Fujur adalah sebutan bagi orang yang tidak dapat mengendalikan emosinya, selalu ingin menang sendiri, tidak pernah mau menerima dan mengakui kesalahannya, dan senang menunjukkan sikap yang berlebihan, bahkan melampaui batas dalam menekan lawan-lawannya.
Orang fujur adalah munafikun yang selalu merasa dirinyalah yang paling benar, tanpa pernah mau berkaca bahwa sebenarnya justru dirinya itu sendiri yang berkubang dalam kesalahan demi kesalahan. 2. RIYA
Yaitu, sombong dalam bersikap dan berbicara. Orang munafikun jenis ini senangnya dengan sengaja menampakkan kebaikan yang di…

Meminta Maaf dan Memaafkan

Maaf "Kenapa tidak kamu saja yang minta maaf?"
"Kenapa aku begitu sulit memaafkanmu?
"Kenapa kata maaf itu begitu sulit terucap?"
"Ah, kenapa kita harus saling memaafkan?" Sebab, tak ada manusia yang sempurna di bumi ini. Siapa pun dia, pasti pernah melakukan kesalahan. Dear sahabat, menilai kesalahan orang lain itu mudah. Yang sulit itu adalah mengakui kesalahan diri sendiri. Biasanya, hanya orang yang berjiwa besar yang mampu melakukannya. Sahabat, marahkah kamu saat ada orang lain yang melukaimu? Atau melukai orang yang kamu sayangi? Marah saat ada yang menyakiti kita atau orang yang kita sayangi adalah reaksi yang wajar. Namun jangan disimpan hingga menimbulkan kebencian. Karena kebencian hanya akan membawa kedengkian.
Wahai sahabatku, kedengkian itu bisa melahirkan rasa dendam. Semua itu hanya akan mengikis seluruh amalan-amalan baik yang sudah dengan susah payah kita kumpulkan. Ketika timbul rasa dengki dalam hati, segeralah ingat Hadist Rasul ini…