Bersuami tapi Rasa Menjanda



"Kalau suami tidak memberi nafkah, istri berhak untuk tidak menaatinya."
Ibu itu mengirimiku link youtube kajian seorang ustad.

Lalu kubuka link-nya, di sana, dijelaskan bahwa secara syariat, memang demikian adanya. Tapi juga bukan berarti pembenaran untuk melakukan perlawanan.

"Saya bukan istri nyebelin, mbak. Tapi saya sebal karena selalu dianggap salah."
Ibu itu mengajak saya membahas tulisan saya yang saya beri tajuk "Jangan jadi Istri Nyebelin".

Kemudian mengalirlah cerita tentang apa yang menimpa rumahtangganya. Tentang bagaimana sang suami memaksanya untuk turut bekerja mencari nafkah, karena "katanya" penghasilan suami hanya cukup untuk membayar utang. Padahal selain gaji, si suami memiliki pendapatan lain.
Si ibu pun berwirausaha untuk bisa mencukupi kebutuhan rumahtangga.
Selain bekerja, pekerjaan-pekerjaan rumahtangga tetap harus dia kerjakan sendiri, sementara sang suami tak pernah membantunya sama sekali.
Ditambah lagi, dia masih harus mengurusi semua kebutuhan anak, mulai dari urusan di rumah, hingga sekolahnya.
Dan yang paling menyakitkan, si ibu selalu disalahkan. Masak nggak enak, salah. Nilai anak jelek, salah. Uang nggak cukup, salah. Dibilang boros lah, kurang sedekah lah, dan sebagainya.
Bisa dibayangkan, betapa lelahnya si ibu. Ya lelah fisik, juga lelah hati.
Kalau sudah seperti itu, siapa yang nyebelin?
Si ibu ini bersuami, tetapi merasa seperti janda. Apa-apa harus dikerjakannya sendiri.

Lalu, saya sampaikan pada si ibu, tentang sebuah kisah di zaman nabi. Saya lupa nama-namanya, tetapi dulu nabi juga pernah mendapat keluhan hampir serupa, dan Beliau memberikan dua pilihan.
Pertama, istri berhak menggunggat cerai pada suami yang tidak menafkahinya.
Kedua, tetap bekerja menafkahi keluarga, dan akan mendapatkan pahala dobel, yaitu pahala menaati suami dan pahala sedekah.

Ibu itu mengirimkan emoticon tangisan berkali-kali.
Hati ini ikut sedih.

"Mbak, saya mencintai suami, apalagi anak-anak. Kendati tidak bahagia, saya memilih pilihan kedua. Tapi saya nggak bisa ikhlas kalau selalu disalah-salahkan. Rasanya semua pengorbanan saya seperti nggak dihargai sama sekali."

"Ibu, tetaplah menjadi istri yang baik. Perbanyak istighfar, perbanyak tahajud. Mohonlah hanya pada-Nya, agar melembutkan hati suami."
Hanya kalimat itu yang bisa kusampaikan untuk menguatkan si ibu.
.
.

Ah, betapa membina rumahtangga itu tak pernah ada yang mudah. Semua memiliki permasalahannya masing-masing.
Tetapi, sebenarnya, ada satu kunci yang bisa membuka jalan bagi terciptanya keluarga yang sakinah dan minim masalah, yaitu memahami dan menunaikan hak dan kewajiban masing-masing sebagai suami dan istri.
.
.
.
#muhasabahdiri
#notetoself
#reminder






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Bisa Kamu Lakukan Agar Tidak Bosan Saat Harus Menunggu

Yati "Sum Kuning" Surachman, Legenda Hidup Indonesia

KETIKA ANAK KITA MENJADI KORBAN BODY SHAMING