Postingan

BundaMenulis: cerpen "Ibu, deritamu kini telah usai" Tribute For...

BundaMenulis: cerpen "Ibu, deritamu kini telah usai" Tribute For...: Tribute For Mother IBU, DERITAMU KINI TELAH USAI           “Pak, Rini besok harus membayar uang semester lho, Pak. Kalau terlam...

cerpen "Ibu, deritamu kini telah usai" Tribute For Mother

Gambar
Tribute For Mother


IBU, DERITAMU KINI TELAH USAI
          “Pak, Rini besok harus membayar uang semester lho, Pak. Kalau terlambat nanti nggak bisa ikut ujian. Saat ini Ibu sudah tidak pegang uang lagi selain untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Semua sudah dipakai untuk membayar utang di warungnya bu Sri sama warungnya pak RT.” Sambil mengaduk gula di cangkir kopi pak Seto, bu Rahma menyampaikan permintaan tersebut.           “Ya. Besok kan bapak sudah gajian,” jawab pak Seto singkat tanpa mengalihkan pandangan matanya dari lembaran koran yang sedang dibacanya.           Bu Rahma tersenyum lega mendengar jawaban dari suaminya tersebut. Sambil membereskan meja makan, ibu berputra empat itu mencoba mengingat- ingat , kebutuhan apa saja yang harus segera didahulukan, mumpung besok suaminya menerima gaji.           Meskipun bu Rahma tahu kalau seperti biasanya, gaji yang akan diterima suaminya tidak utuh lagi karena harus dipotong berbagai pinjaman di koperasi kantornya, tapi setidaknya ada y…

MINDER dan solusi mengatasinya

Gambar
MINDER
dan solusi mengatasinya

Apa sih "minder" itu?
Apakah kamu sering mendengar istilah "Nggak PeDe"?

Ya. "Nggak PeDe" adalah akronim dari istilah "Nggak Percaya Diri". Dan "minder" adalah istilah lain dari sebuah perasaan "Nggak PeDe" tersebut.

Definisi "minder" secara umum adalah sebuah perasaan tertekan yang menyebabkan seseorang menjadi kehilangan rasa percaya diri.

Perasaan tertekan ini bisa timbul dari dalam diri seseorang itu sendiri ataupun dari luar diri/lingkungan/ orang di sekitarnya.

Pernahkah kamu mengalami perasaan tersebut?
Kalau saya sih iyes. Aslinya saya ini orangnya minderan *ho..ho..
Dimanapun saya berada, saya sering mengalami kesulitan menghilangkan perasaan yang satu ini.
Di sekolah. Ya, saya dulu suka merasa minder sama teman yang lebih pintar.
Di lingkungan sepermainan. Ya, saya dulu suka minder sama teman yang lebih lincah.
Di dunia kerja, di dunia model yang pernah saya geluti, di kom…

BERDAMAI DENGAN MASA LALU TANPA MENGUSIK EMOSI. BISAKAH?

Gambar
Berdamai dengan masa lalu, apalagi masa lalu yang tidak menyenangkan memang bukanlah hal yang mudah. Karena berdamai dengan masa lalu itu bukan berarti menghilangkannya begitu saja dari kehidupan kita, bukan? Lagi pula, mana bisa ya masa lalu kok dihilangkan?? *ngernyitin jidat* Kalau yang dimaksud itu 'melupakan', itu masih mungkin. Tetapi kalau kita nggak terserang amnesia, saya rasa kok ya sulit ya 'melupakan' tanpa menyisakan sedikitpun ingatan itu.
Ketika kita mengingat dan tak sengaja menemukan jejak yang telah kita tinggalkan, hal tersebut justru merupakan sebuah pelajaran yang berharga.  Ingat dengan pepatah "Belajarlah dari kegagalan" ?? Itu artinya kita harus pernah gagal dulu kan? Kalau kita "pernah", artinya kita sudah melakukan sesuatu terlebih dahulu kan? dan "gagal" itu baru kita ketahui setelah kita melakukan sesuatu terlebih dahulu. *njelimet ya?* Intinya, mengingat masa lalu itu bisa menjadi pelajaran yang berharga buat …

EKSIS TERUS DENGAN BERBAGAI JEJARING SOSIAL HINGGA MEDIA DARING

TWITTER

Bermula dari pertanyaan seorang teman yang ingin memfollow akun twitter saya, saya pun mulai berpikir hingga kemudian berkeinginan mengaktifkan kembali akun twitter saya yang sejak saya buat pada tahun 2008 yang lalu hingga sekarang sama sekali tidak pernah aktif.

Saya pun mencoba menengok kembali akun twitter saya tersebut. Seingat saya, dulu saya mempunyai dua orang follower, lha kok sekarang malah jadi tinggal satu follower??!!
Setelah saya telusuri, ternyata follower yang hilang itu adalah suami saya sendiri..ha..ha..#ngenes.
Setelah memilin-milin anak rambut yang cukup lebat di dahi saya (ini kebiasaan saya kalau lagi serius mikir karena bingung..he..he..), saya pun menjadi makhlum, kenapa suami saya enggan menjadi follower saya. Lha wong tiap hari dia sudah cukup 'eneg' mendengar cuitan saya, kok masih harus membaca twitt-an saya di medsos..ha..ha..(padahal saya sama sekali belum pernah nge-twitt..*teeett*..bingung kan??.. lha wong saya sendiri juga bingung kok..…