Jumat, 21 September 2018

Mengakui Kesalahan. Sulitkah?



BERBUAT SALAH ITU MANUSIAWI, karena melakukan kesalahan itu menandakan bahwa kita itu punya kekurangan, dan itu seharusnya bisa menjadi cambuk bagi kita untuk terus belajar memperbaiki diri.
Kalau kita sadar telah melakukan sebuah kesalahan, ya akui saja. MENGAKUI KESALAHAN ITU MULIA, lho. Dengan mengakui kesalahan, secara tersirat kita telah menyatakan bahwa kita ini hanyalah manusia biasa yang senantiasa berbuat salah, karena yang tidak pernah bisa salah itu hanya Tuhan.
Tapi mengakui kesalahan itu mestinya ya datang dari hati nurani terdalam, jangan cuma di bibir saja. Sulit memang melakukannya. Berat dan butuh waktu yang lama supaya bisa benar-benar iklhas saat mengatakannya.
Tapi ini jauh lebih baik daripada "tidak pernah merasa bersalah" sama sekali.
Ketika kamu sama sekali tidak pernah merasa bersalah, itu artinya ada "sensor" di hatimu yang sudah tidak berfungsi lagi, sehingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mungkin hatimu perlu direparasi.
"Dear my friend, be careful when you feel that you can do no wrong."

Mengakui kesalahan itu sebenarnya tidaklah sulit. Yang sulit itu hanyalah mengendalikan ego diri sendiri. Kalahkan egomu, dan raihlah kedamaian hidup. Atau ikuti saja egomu, tapi jiwamu akan sulit meraih ketenangan. Pilihan ada di tanganmu sendiri. 

KADUNG SELINGKUH




Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari itu juga sakit. Tapi memang ya ada saja beberapa orang yang suka menyakiti dirinya sendiri. Hiks.
Dari dulu, kata "selingkuh" ini telah menjadi momok mengerikan bagi setiap pasang manusia yang sedang mengarungi bahtera rumah tangga. Hal ini membuat banyak pasangan jadi lebih waspada. Dengan sekuat hati, mereka jadi saling menjaga diri dan pasangan agar tidak terjebak pada perselingkuhan ini.
Tapi, bagaimana dengan yang terlanjur jatuh dalam jurang perselingkuhan?
***
Apapun bentuknya (selingkuh hati atau selingkuh fisik), di mana melakukannya (selingkuh di dunia nyata maupun selingkuh di dunia maya), bagaimana pun endingnya (balik lagi sama pasangan, cerai, atau malah balik enggak cerai juga enggak), yang namanya berSELINGKUH itu KELIRU.
Akan tetapi, yang namanya "selingkuh" ini juga bagian dari TAKDIR. Sekuat apa pun kita menolak, yang ditakdirkan menghampiri kehidupan kita tetap akan datang juga.
Meskipun kita kerap meyakinkan diri bahwa kita ini orang baik, rumah tangga kita juga bakal baik-baik saja hingga akhir, godaan selingkuh tetap mengintai dan bisa datang tanpa pernah kita duga.
Bahkan, untuk menemukan jodoh yang sesungguhnya pun kadangkala harus melukai hati yang lain dulu. Pedih, ya.
Kalau sudah begini, susah juga saya mau berpendapat. Lha piye, namanya takdir.
Yang bisa diminimalisir mungkin adalah bagaimana caranya untuk tidak menambah luka di hati yang lain itu.
***
Jadi begini, saat perselingkuhan datang menghampiri kehidupanmu (yang sedang saya bahas ini adalah jika kamunya atau katakanlah kitanya yang selingkuh) itu ibarat bahtera rumah tanggamu sedang mengalami kebocoran akibat ulahmu sendiri.
Ini sangat tergantung di kamunya, apakah akan menutupi kebocoran itu (menghentikan segera masuknya orang ketiga yang sempat singgah di hatimu) ataukah membiarkan kebocoran itu semakin membesar.
Lumrahnya orang yang sedang melaut sih, ya segera menutup lubang penyebab kebocoran itu. Mean, sesegera mungkin menghentikan perselingkuhan yang kamu lakukan.
Ketika lubang sudah kamu tutup, apakah penghuni bahtera yang lain (pasanganmu dan anak-anakmu) perlu mengetahui adanya kebocoran itu?
Hanya kamu yang paling tahu karakter mereka. Apakah mereka orang yang pemaaf, bisa menerima dan memberi kesempatan padamu untuk memperbaiki diri? Ataukah mereka seorang temperamen yang tidak akan pernah bisa menerima kesalahanmu. Kamulah yang paling tahu. Pertimbangkan baik-baik.
Jika pasanganmu belum tahu, memang ada baiknya untuk tidak memberitahunya. Duuuh...siap-siap ditimpukin emak-enak saleha warga kampung fesbukiyah, nih 😄😄😄
Etapi... sebelum pada nimpukin saya, please...baca dulu sampe selesai ya, Bu...Pak...
Biasanya nih ibu-ibu kalau sudah mencurigai ada sesuatu yang nggak beres dengan suaminya, akan mencecarnya habis-habisan sampai suaminya itu mengaku. Kalau akhirnya suaminya ngaku, ternyata urusan nggak selesai sampai di situ saja, dia masih akan terus mencecar. "Kenapa kamu sampai selingkuh? Apa yang membuatmu tertarik padanya?...bla..bla..bla..." Dan interogasi pun akan semakin mendalam dan melebar.
Yakinlah, ibu-ibu bukannya merasa lega, justru akan semakin terpuruk. Karena efek samping dari segala kemarahan wanita itu adalah kesedihan. Kalau sudah terpuruk begitu, biasanya jadi paranoid. Nggak di kantor, nggak di jalan, suaminya bakal diteror melulu. Sekali pun si Bapak udah bertobat dan berjanji nggak bakal mengulangi kesalahan yang sama, istri yang paranoid bakalan menguntit terus. Nggak enak kan, Pak diteror istri melulu?
Demikian juga sama nggak enaknya kalau wanita yang selingkuh. Lebih nggak enak lagi malah. Karena hampir rerata lelaki nggak bisa menerima diselingkuhi wanitanya. Apa pun alasannya. Itu karena demikian besarnya ego seorang lelaki, bahkan bisa dibilang ego lelaki itu adalah harta paling berharga yang dimilikinya.
Lelaki cenderung lebih memilih melepas wanita yang sudah tidak setia lagi kepadanya.
Sekali pun kalian mengemis maaf padanya, kecil kemungkinan lelaki akan memaafkan perselingkuhan yang telah dilakukan wanitanya. Nggak enak banget, kan?
Sangat jarang ada lelaki yang mau menarik istrinya kembali dalam pelukannya, lalu melakukan introspeksi diri bersama, dan tetap menjadi penyejuk manakala tulang rusuknya itu lengah.
Jadi ketika si dia belum tahu, ada baiknya tidak usah diberi tahu.
Begini lho Bu, Pak... Kalau kamu berselingkuh, dosanya kan kamu yang nanggung, maka tanggunglah sampai di akhirat kelak. Segigih apa pun pasangan kamu menginterogasi, tidak usah ditanggapi, tetapi SEGERA PERBAIKI DIRI saja. (Masih mau nimpuk saya?😄😄😄)
Nah, kalau "diam" ini adalah langkah yang kamu pilih, kamu harus bisa menjaga tempat kebocoran yang sudah kamu tutup itu agar tidak bocor lagi.
Tobat, mohon ampunan-Nya, lalu tutup lubang-lubang di hatimu yang bisa membuka peluang masuknya kembali perselingkuhan.
.
.
Bu, Pak... biasanya sih pasangan kita, orang yang tahu luar dalemnya kita itu akan sangat peka perasaannya.
Biasanya juga, mereka akan segera merasa manakala pasangannya berselingkuh. Setidaknya mencium bau busuknya.
Mencium bau busuk itu aja rasanya udah nggak karuan nggak enaknya. Kalau kamu berterus-terang tentang perselingkuhanmu, itu sama saja dengan menyiramkan sampah busuk yang tadi diendusnya itu ke wajahnya. Dia pasti mual, muntah, dan sakit pastinya. Kamu tega?
Kalau kamu nggak tega, keukeuh-lah menolak untuk mengaku. Toh, demi kebaikan kalian juga. Yang penting kamunya benar-benar sudah bertaubat, ya. Janji buat nggak ngulangin lagi.
Namun banyak juga yang berpendapat seperti ini, "Lebih baik pasangan kita tahu dari mulut kita sendiri daripada nanti mengetahuinya dari orang lain."
Barangkali Ibu dan Bapak sekalian punya pemikiran seperti ini.
Jika ini yang kamu pilih, lakukan dengan perlahan-lahan, karena ini rasanya bakal seperti kalau kamu menampar pasanganmu saat dirinya sedang terlelap. Pastinya kaget dan sakit. Mungkin pikirmu, toh nanti kaget dan sakitnya lama-lama bakal ilang juga. Ya iya, sih. Tapi bagaimana kalau dia jadi nggak pernah lelap lagi tidurnya? Selalu merasa khawatir kalau-kalau kamu nanti akan menamparnya lagi saat sedang lelap. Ini tak ubahnya dengan membuat pasanganmu menjadi paranoid. Kasihan, kan? Kamu sendiri juga jadi serba salah melulu. Ya iya sih, kamu emang salah.
Lalu bagaimana jika pasanganmu mengetahuinya sendiri?
Tidak ada jalan lain selain mengaku.
Akui kesalahanmu. Nggak perlu marah karena pasanganmu mengetahui perselingkuhanmu, lalu malah menyalahkannya, menuduhnya kalau perselingkuhan yang kamu lakukan terjadi karena pasanganmu kurang perhatian lah, kurang kasih nafkah lah, dsb. Di mana-mana, yang namanya orang salah itu nggak berhak untuk marah.
Please, diselingkuhin itu sakitnya udah luar biasa, jangan ditambah sakit dengan menyalah-nyalahkan pasanganmu, padahal jelas-jelas kamu yang jauh lebih salah dengan mengkhianatinya.
Katakan kamu sudah bertobat dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Tutup semua akses pada orang ketiga yang sempat mampir di hatimu itu. Klise, ya?
Ya memang.
Bagaimana pun juga, kalau perselingkuhan menimpamu, terimalah apa pun yang menjadi risikonya.
Kamu yang berbuat, kamu sendiri yang harus menerima akibatnya. Meskipun mungkin pasanganmu memaafkan dan menerimamu kembali, jangan heran kalau dia jadi tidak bisa mempercayaimu seratus persen lagi. Kamu harus membangun kepercayaannya dari awal lagi.
Nggak enak, kan?
Tapi percayalah, kesabaran dan perbaikan dirimu, lama-lama bisa membasuh luka di hatinya, kok.
Percayalah, nggak akan pernah ada perselingkuhan yang enak. Yang berakhir dengan dibangunnya bahtera baru pun nggak enak, kok. Senyaman apa pun bahtera baru yang dibangun, tetap akan ada yang mengganjal, karena dibangun di atas luka hati manusia lain.
Pesan penulis,
Jangan pernah merasa jumawa dengan kesetiaanmu terhadap pasangan.
Jangan pernah membanggakan keimananmu, seolah tak kan ada yang bisa meruntuhkan.
Karena perselingkuhan itu ibarat ujian hidup. Bisa diberikan oleh Sang Penguasa Hidup kapan saja Dia berkehendak, dan tidak pandang bulu hendak diberikan kepada siapa.
Bahkan seorang ulama atau orang yang sering jadi panutan umat pun ada yang terjebak pada pusara perselingkuhan ini.
Satu hal lagi, jangan pernah menghina dan mencaci mereka yang kadung jatuh di limbah perselingkuhan. Kamu tidak akan pernah tahu, bilamana dia bertobat kelak, bisa jadi pertobatan yang dilakukannya itu bisa mengantarkannya ke pintu surga, sedangkan cacianmu kepadanya, justru menjauhkanmu dari pintu firdaus.
Tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah.
Lalu, bagaimana kalau kita yang diselingkuhi?
Atau bagaimana kalau kita yang jadi selingkuhan?
Next, kita bahas lagi di lain kesempatan, ya.
#Selingkuh
#MenulisUntukMencerahkan
#MenulisUntukMenasihatiDiri

KETIKA ANAK KITA MENJADI KORBAN BODY SHAMING




"Bunda, Adek ni jelek ya, Bunda?"
"Ya enggak lah. Adek cantik."
"Tapi temen Adek bilang kalau Adek jelek."
Lalu meluncurlah cerita-cerita pembully-an yang dilakukan oleh teman-temannya (kebanyakan sih yang laki-laki).
"Adek dikatain item, kiting, jelek!" ucapnya dengan raut sedih.

Deg!! Apalagi saya, ibunya. Jauuuh lebiih sediih. Rasanya pengen marah dan memaki-maki anak yang meledek gadis kecil saya.
"Siapa nama temen Adek yang bilang begitu? Anaknya siapa?" Pertanyaan itu nyaris keluar dari mulut saya, tapi untunglah masih bisa saya tahan.
Saya nggak ingin anak saya tumbuh menjadi seorang pembenci.
Kemudian saya raih tubuhnya, saya tatap matanya, dan saya elus kedua pipinya.

Hal pertama yang harus saya lakukan adalah membuatnya bisa menerima kondisi dirinya dengan baik.
"Rambut Adek kan memang keriting, tapi Adek cantik dengan rambut seperti itu. Banyak lho, orang yang kepengen rambutnya dikeriting."
Lalu saya ceritakan bahwa sewaktu muda dulu saya juga pernah punya keinginan buat ngeritingin rambut. Dia pun tersenyum.
"Kulit Adek juga memang lebih gelap dari Bunda dan mbak Bebi (kakaknya), tapi Adek sama sekali nggak jelek. Adek cantik dan jauh lebih sehat. Adek tahu nggak, kalau orang yang kulitnya gelap itu nggak gampang sakit, lho. Seperti Bopo (panggilan untuk bapaknya), Adek juga nggak mudah sakit, kan?" Lalu saya cium keningnya.

Ya. Ketika anak mendapat perlakuan body shaming, memang sebaiknya kita tidak menyangkalnya (apabila memang kenyataannya demikian).
Selama ini, banyak orangtua yang salah kaprah. Misalnya, ketika anaknya yang gendut dikatain gendut sama temannya, si orangtua menghiburnya dengan mengatakan, "Enggak, kok...kamu nggak gendut." Ini respon yang keliru. Bagaimana anak akan bisa menerima kondisi dirinya kalau kita sebagai orangtua justru menutupi kebenaran?

Demikian juga yang saya lakukan kepada anak saya ketika tubuhnya dihina. Saya mencoba membuat dirinya bisa menerima kenyataan dengan benar. Kenyataannya, dia memang berambut keriting dan berkulit gelap seperti bapaknya.

Sekarang ini body shaming memang banyak dilakukan tanpa basa-basi sama sekali. Belum lama ini saya juga kerap mendapatkan perlakuan sejenis, terutama pas mudik lebaran kemarin. Kemana pun, di mana pun, ada saja yang berkomentar,
"Kamu kok sekarang gendut, sih?"
"Ya ampun, bisa juga ya body-mu jadi melar begitu?"
Bla...bla...bla... dan berbagai komentar dengan inti yang sama.
Apakah saya marah?
Ya, enggak. Wong kenyataannya body saya memang melar😄😄😄
Saya makhlum, mereka yang udah lama nggak ketemu sama saya pasti bakal takjub melihat saya yang sekarang. Ya wajar, mereka kan dulu mengenal saya yang berbody kurus, tinggi, dan langsing😜😜
Saya yakin, mereka yang melontarkan kalimat-kalimat itu bukan sedang bermaksud menghina. Hanya spontanitas saja.
Meskipun demikian, kalau seandainya saya nggak siap mental, bisa jadi saya bakal terisinggung. Untungnya saya sadar kalau sekarang ini saya emang ya "gendut"🙈🙈🙈
See???

Intinya adalah bisa menerima kondisi diri yang sebenarnya. Jadi ketika anak kita jadi korban body shaming ini, kita nggak perlu mengelak dan justru mengatakan yang sebaliknya.
Katakan saja kondisi tubuhnya yang sebenarnya. Kalau gendut ya bilang aja gendut. Kalau kulitnya hitam ya bilang saja hitam.

Tapi ingat, jangan membuatnya terpuruk dengan kondisi dirinya. Katakan juga kelebihannya yang bisa membuatnya jadi percaya diri. Misalnya anak saya yang berkulit gelap itu. Saya katakan padanya bahwa orang yang berkulit gelap itu nggak gampang sakit. Saya katakan pula padanya bahwa hitam itu bukan berarti kotor. Warna kulit apa pun, bisa kok bersih. Jadi yang saya tekankan adalah BERSIH-nya, bukan warnanya.

Sebagai orangtua, sebaiknya kita sampaikan juga ke anak, bahwa kita nggak bisa "request" bentuk tubuh kita sama Allah. Pemberian Tuhan itu adalah anugerah yang harus disyukuri dan dijaga.
Kuatkan hati anak, tumbuhkan rasa percaya dirinya. Dan ajak dia untuk bisa mengambil hikmah dari kejadian yang baru saja menimpanya itu. 

Katakan padanya untuk selalu menjaga lisan, karena kadangkala meskipun tidak bermaksud menghina, ucapan yang tidak terkontrol bisa melukai orang lain. Ajak anak untuk tidak mudah melontarkan komentar pada bagaimana pun anehnya bentuk tubuh orang lain.

Ditulis oleh bunda Rara R untuk seluruh orangtua di negeri ini.

Kamis, 04 Januari 2018

REVIEW BUKUNYA, MENANGKAN LOGAM MULIANYA





Review Bukunya, Menangkan Logam Mulianya

“Buku ini penting karena penulisnya memaparkan wawasan dan prinsip financial literacy buat perempuan. Lebih dari itu, buku ini unik dan enak dibaca karena disajikan dalam bentuk cerita.” ~Anna Farida, Penulis dan kepala sekolah Sekolah Perempuan~

Inilah yang membuat buku ini berbeda dengan buku-buku “how to” lainnya. Kalau jamaknya sebuah buku non fiksi itu berisi melulu teori, tidak dalam buku POT BUNGA MAMA ini. Dari bab awal hingga bab akhir, buku ini penuh dengan ilustrasi cerita.

Penulis mengambil nama Rima sebagai tokoh utamanya. Tentu saja, Rima ini hanyalah nama fiktif belaka. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang digambarkan mengalami berbagai permasalahan finansial seperti yang dialami oleh ibu rumah tangga kebanyakan.

Pada bab satu, diceritakan bagaimana awal mula Rima menyadari tentang adanya kebocoran di dompet rumah tangganya.

“Bab ini cukup menampar!”

Demikian komentar beberapa rekan penulis saat dimintai testimoni tentang isi buku ini.
Apa betul demikian? Mari kita simak.

Di zaman sekarang, dimana berbelanja bisa sangat mudah dilakukan secara online, memang kerap membuat beberapa ibu rumah tangga kehilangan kontrol. Parahnya, banyak juga yang sampai diam-diam berutang tanpa sepengetahuan pasangan hidupnya. Uwoowww… bagian ini nih, yang katanya cukup menampar tadi…hue..he..

Etapi, buku ini bukan hendak mengajari cara berutang ‘diam-diam’ pada pasangan lho, ya… Justru kalau hal itu sampai terjadi, buku ini membisikkan cara-cara mengatasinya.

Kemudian pada bab kedua, diceritakan tentang sebuah musibah yang menimpa keluarga Rima. Suaminya tidak lagi bekerja. Tentu saja, kejadian seperti ini, dimana sumber utama pendapatan keluarga mengalami kebuntuan, akan membuat rumah tangga mana pun mengalami guncangan hebat. Ibarat sebuah keran air yang mampet. Rima harus memperbaiki keran airnya atau mencari sumber mata air baru.

Buku ini menggambarkan betapa wanita itu kuat sekaligus juga luwes. Dengan cepat Rima bisa menemukan mata air baru bagi kelangsungan hidup keluarganya. Buku ini seakan hendak mengatakan, “Nggak salah, kok, mencoba berbagai bisnis rumahan, gonta-ganti, sampai akhirnya kamu bisa menemukan yang pas buatmu.”

Apakah jalan Rima berbisnis lancar jaya?
Ho…ho… ternyata Rima pun mengalami berbagai halang rintang, terutama permasalahan keuangan bisnisnya yang nggak ketahuan berapa untungnya, bahkan nggak ketahuan rugi apa untung. Pernah mengalami hal seperti ini? Rima perlahan menyadarinya dan berusaha mencari penyelesaian berbagai permasalahan keuangannya itu.

Belajar dari kesalahan-kesalahannya mengelola keuangan rumah tangga, akhirnya Rima belajar menata keuangan rumah tangga dan bisnisnya dengan lebih berhati-hati. Dia pun kemudian berkenalan dengan dunia investasi. Hal yang masih sangat baru baginya. Bab-bab berikutnya pada buku ini menjelaskan tentang apa itu investasi, jenis-jenisnya, dan bagaimana memulainya.

Buku ini lebih banyak memperkenalkan berbagai investasi berbasis syariat agama islam, yang belum banyak dikenal oleh ibu rumah tangga di Indonesia, lengkap dengan tips-tips yang bisa diterapkan oleh para investor pemula. Buku ini juga memberikan bonus berupa tips mempersiapkan dana untuk beribadah haji.



Menarik, bukan?
Lebih menarik lagi, ada challenge berhadiah logam mulia dari buku ini.
Caranya, cukup dengan membeli bukunya, kemudian mereview isinya, lalu posting ke media sosialmu lengkap dengan foto kamu bersama bukunya. Foto tidak harus tampak muka, yang penting foto bukunya jelas.
Jangan lupa beri hastag;
#PotBungaMama
#ReviewChallenge
#RaraRadyanti

Oiyaa, wajib share di FB ya, jangan lupa tag nama FB penulisnya, rara ary radyanti. Yang belum berteman dengan FB penulis, bisa add dulu atau follow. 

Review challenge ini berlangsung sampai akhir bulan Maret 2018 dan pemenangnya akan diumumkan di bulan April 2018. Selain berhadiah utama logam mulia, tersedia juga hadiah hiburan berupa buku-buku menarik.

Tertarik?
Buku ini dijual secara eksklusif. Kamu bisa menghubungi,
Penulis: Rara radyanti 081373607455
Penerbit: Stiletto Book 08812731411





Pentingnya Memantau Tumbuh Kembang Balita




Pentingnya Memantau Tumbuh Kembang Balita


Proses tumbuh kembang seorang anak merupakan suatu masa yang penting dalam kehidupannya, terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan si anak. Proses tumbuh kembang tersebut sangat dipengaruhi oleh dua faktor yang sangat berperan, yaitu  faktor genetik dan faktor lingkungan.

Untuk mengetahui apakah tumbuh kembangnya berjalan dengan optimal atau tidak, sangat dibutuhkan pemantauan kita sebagai orang terdekatnya secara periodik dan berkala. Tentu saja, kita membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukannya, yaitu dengan bantuan dokter, bidan, dan tenaga kesehatan lain.
 
Apa sajakah yang semestinya rutin kita pantau terhadap tumbuh kembang balita?

1.    Memantau aspek pertumbuhannya.
Kita bisa melakukannya dengan secara rutin menimbang berat badan anak  serta mengukur tinggi badan dan lingkar kepalanya. Kegiatan ini sebenarnya bisa dilakukan sendiri di rumah, namun tidak ada salahnya kita melakukannya di rumah sakit atau posyandu terdekat agar normal atau tidaknya kondisi anak bisa segera diketahui. Di tempat tersebut, kita juga bisa sambil melakukan konsultasi tumbuh kembang anak.
Untuk orangtua yang masih memiliki anak balita, pemantauan sebaiknya dilakukan secara rutin tiap satu kali dalam sebulan. Ingatlah bahwa pada usia ini adalah masa golden age. Jadi, orangtua harus sangat memperhatikan asupan nutrisi anak.
Selain itu, kita sebagai orangtua juga semestinya memperhatikan kebutuhan imunisasi anak. Untuk ini, tentu saja kita membutuhkan bantuan tenaga medis. Pastikan bahwa anak telah mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap.

2.    Memantau aspek perkembangannya.
Hal ini meliputi kemampuan motorik kasar dan kemampuan motorik halus anak. Selain itu juga kemampuan sosial, bahasa, dan juga kemampuan kognisi anak. Selain bisa melakukan pemantauan secara mandiri, kita sebenarnya juga membutuhkan orang lain yang berpengalaman untuk membantu pemantauan perkembangan anak. Sekali-sekali, berdiskusilah dengan orang yang sudah lebih berpengalaman membesarkan anak tentang pentingnya hal ini dilakukan. Kita tidak bisa menjadi orangtua yang egois. 

Sebagai orangtua, kita harus mengetahui secara pasti apakah anak telah mencapai pertumbuhannya secara optimal sesuai potensi genetik yang dimilikinya atau belum?
Selain itu, dengan melakukan pemantauan secara periodik dan berkala ini bisa segera diketahui secara dini apabila ada penyimpangan atau ketidaksesuaian dalam tahapan tumbuh kembang seorang anak sesuai dengan usianya.

Dengan melakukan pemantauan tumbuh kembang balita secara baik, diharapkan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat optimal seperti yang diharapkan setiap orangtua.

Inilah Beberapa Area Sumber Penyakit di Dalam Rumah



Ternyata, di dalam rumah sendiri, ada beberapa area yang bisa menjadi sarang berkembangnya kuman. Area-area ini adalah tempat yang harus diwaspadai, karena dari situlah berbagai sumber penyakit bisa jadi berasal. Area mana saja yang harus diwaspadai?
1.    Dapur.
Area ini adalah tempat yang paling banyak menyumbang kuman. Di sinilah berbagai sumber penyakit bermula, terutama diare. Hal ini disebabkan karena selain sebagai tempat penghasil limbah rumah tangga, dapur juga kerap dihuni binatang-binatang pembawa kuman, seperti kecoa, lalat, dan tikus. Oleh karena itu, sebaiknya dapur segera dibersihkan tidak hanya setiap kali habis memasak saja, namun secara rutin setidaknya pada pagi dan sore hari. Buang sampah dapur secara rutin, jangan menunggu sampai penuh dan menguarkan bau busuk.
Dapur juga menghasilkan polusi udara yang bisa menimbulkan gangguan pernapasan. Jadi, sudah semestinya sirkulasi udara di dapur lebih diperhatikan dibanding di area lain. Maka dari itu, penggunaan exhaust sangat dianjurkan, agar udara dari dalam ruangan bisa keluar dengan cepat dan lancar.

2.    Kamar Tidur.
Tempat beristirahat anggota keluarga ini juga menjadi sarang berbagai sumber penyakit, seperti tungau dan partikel debu yang menempel di kasur, seprei, sarung bantal, guling, boneka, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, semua benda yang ada di dalam kamar sebaiknya dibersihkan secara rutin setiap hari, dan secara menyeluruh setidaknya satu minggu sekali. Jangan pernah melewatkan pembersihan kolong-kolong tempat tidur, lemari, meja, dan kursi. Wajib mengganti seprei, selimut, dan alas perlengkapan tidur lain secara berkala. Kemudian, jangan lupa juga untuk rajin menjemur bantal, guling dan kasur (bila memungkinkan) di bawah terik matahari untuk menghalau tungau dan jamur.
Sebaiknya tidak membiarkan baju, baik yang masih bersih maupun yang kotor bergantungan agar tidak dihinggapi nyamuk.
Kita sebaiknya juga jangan sampai lupa untuk rutin membersihkan AC atau kipas angin. Jika tidak dirawat, AC bisa berjamur dan menyebabkan gangguan saluran pernapasan dan penyakit kulit. AC sebaiknya dibersihkan secara berkala setiap tiga bulan sekali dengan bantuan tukang service AC. Jangan lupakan juga kipas angin. Bila baling-balingnya tidak pernah dibersihkan, bisa menimbulkan gangguan saluran pernapasan juga.

3.    Kamar Mandi.
Bersihkan area ini setidaknya dua kali dalam seminggu. Apabila terdapat bak mandi, kuraslah secara rutin agar tidak menjadi sarang nyamuk. Sikat dinding dan lantainya, terutama closet-nya. Selain itu, hendaknya kita juga selalu membersihkan berbagai perlengkapan di kamar mandi, seperti tempat sabun, wadah sikat gigi, dan rak handuknya. Jangan pernah membiarkan handuk basah bergelantungan di tempat mandi. Rutinlah menjemur handuk di luar ruangan agar handuk tidak ditinggali jamur.

4.    Sumber Air.
Bagi yang tinggal di perkotaan, sebaiknya menjadi pelanggan PDAM dan air mineral untuk dikonsumsi. Tentu saja, ini adalah langkah terbaik yang harus diambil, karena bisa dipastikan sumber air di perkotaan telah tercemar berbagai limbah, terutama limbah manusia dari septik tank.


Itulah area-area di dalam rumah yang harus rajin kita jaga kebersihannya, karena kalau tidak, dapat menjadi sumber berbagai penyakit. Selain itu, apabila keluarga kita mempunyai binatang peliharaan, sebaiknya rajin memandikannya dan membersihkan kandangnya.

Bahan Apa yang Paling Aman untuk Membungkus Makanan?



Bahan Apa yang Paling Aman untuk Membungkus Makanan?

Siapa yang menyangka, bahwa ternyata aneka pembungkus makanan yang akrab dengan keseharian, seperti plastik, Styrofoam, dan kertas bekas bertinta sangat berbahaya bagi kesehatan.

Plastik
Jenis-jenis plastik pembungkus makanan yang beredar memiliki tingkat risiko bahaya yang berbeda-beda, tergantung dari material plastik itu sendiri, jenis makanan yang dibungkus, serta suhu dan temperaturnya.
Plastik terdiri dari zat-zat berbahaya yang bisa berpindah dari pembungkus ke makanan yang dibungkusnya. Apabila makanan tersebut dikonsumsi, zat-zat berbahaya tersebut akan ikut terserap ke dalam tubuh. Kenapa berbahaya? Karena zat-zat tersebut tidak bisa dibuang, baik melalui feses maupun urin. Selain itu, makanan yang mengandung lemak turut memicu perpindahan zat berbahaya tersebut. Apabila makanan itu dibungkus dalam waktu yang lama, maka akan makin banyak pula zat berbahaya yang berpindah ke makanan. Ditambah lagi bila makanan tersebut bersuhu tinggi, maka perpindahannya akan semakin cepat. Yang sedikit agak lebih aman adalah dengan membungkus makanan tersebut dalam suhu ruang, karena relatif tidak ada zat berbahaya yang akan berpindah ke dalam makanan, sebab tidak ada pemicunya.

Styrofoam
Styrofoam masih termasuk satu keluarga dengan plastik. Bahkan, kandungan zat berbahayanya sudah mencapai ambang batas yang bisa memunculkan gejala gangguan syaraf. Dampak jangka panjangnya, bisa menyebabkan gejala penyakit syaraf, seperti nervous, kelelahan, sulit tidur, dan anemia.
Dampak penggunaan pembungkus makanan jenis ini memang tidak langsung kelihatan dan baru akan muncul beberapa tahun kemudian. Berdasarkan penelitian, Styrofoam dinyatakan sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama pada anak-anak. Selain dapat menyebabkan kanker pada anak, juga bisa menyerang sistem reproduksinya kelak.

Kertas Bertinta Karbon
Satu lagi pembungkus makanan yang berbahaya, padahal sangat sering digunakan. Bagian bertintanya akan larut dalam makanan yang dibungkusnya. Sementara, tinta merupakan karbon berbahaya yang jika tertumpuk di dalam tubuh dalam waktu yang lama bisa menyebabkan kanker.

Seram sekali mengetahui kenyataan di atas, ya. Lalu bagaimana sebaiknya cara membungkus makanan yang tepat.


Yang terbaik sebenarnya adalah menggunakan aluminium foil. Bahan ini relatif aman dan stabil untuk membungkus makanan. Bahan ini jika terkena panas tidak akan berpengaruh karena titik panas atau titik lebur aluminium itu tinggi. Apabila disimpan dalam suhu dingin pun tidak akan memicu perpindahan bahannya. Selain itu, dengan menggunakan aluminium foil, bisa menjaga higienitas. 

KADUNG SELINGKUH

Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari ...