Senin, 21 November 2016

TIPS MENAGIH UTANG








          Kamu punya piutang yang susah sekali didapatkan kembali? Kalau iya, kamu nggak sendiri, kok.  Banyak yang mengalami nasib yang sama denganmu. Mau minta uang yang menjadi hak kita sendiri saja susahnya minta ampun.

Kesal? Tentu saja. Kita yang memberikan utang tetapi malah jadi seperti kita yang mau utang. Yang sering terjadi, yang ditagih malah lebih garang daripada yang nagih.

Padahal sebenarnya kalau kita menagih utang itu justru membantu si pengutang agar terbebas dari dosa, lho. Bukankah utang itu akan selalu dibawa sampai mati?

Utang adalah janji yang harus dipertanggungjawabkan sampai ke akhirat nanti. Maka dari itu, jangan ada rasa sungkan saat kita akan menagih utang.

Berikut ada beberapa tips atau langkah-langkah bagaimana cara menagih utang yang sebaiknya ditempuh apabila seseorang berutang kepada kita, yaitu:



1.   TAGIH SECARA TIDAK LANGSUNG

Maksud dari cara ini adalah dengan menagih melalui media penghubung komunikas, seperti lewat sms, WA, BBM, dan lain sebagainya. Pengutang yang bertanggungjawab pasti akan merespon. Meskipun mungkin dia belum bisa membayar utangmu, setidaknya dia akan memberitahukan alasannya. Beri tangguhan waktu untuk orang seperti ini. Kalau ternyata dia menyalahgunakan kepercayaan yang kita berikan kepadanya, lakukan langkah kedua.



2.   BERIKAN SINDIRAN

Sindiran bisa kamu sampaikan apabila berkali-kali pesanmu tidak diresponnya. Kamu bisa menyindirnya melalui media sosial bila sindiran melalui media penghubung pribadi diabaikan. Sebaiknya sih, secara tidak langsung, ya. Tidak usah menandai namanya, nanti kamu malah diunfriend.

Sindiran ini bisa berupa hadist-hadist ataupun kutipan-kutipan tentang resiko yang akan menimpa orang yang dengan sengaja tidak mau menyelesaikan utangnya.

Salah satu yang menjadi favorit saya adalah yang berbunyi seperti ini,  “Orang Yang Dengan Sengaja Menunda Hak Orang Lain, Maka Allah Pun Akan Menunda Kebahagiaan Orang Tersebut”.

Hal ini betul sekali, seperti pada hukum sebab akibat. Sebab kamu menunda hak orang lain untuk berbahagia, maka akan mengakibatkan kebahagianmu pun menjadi tertunda.



3.   TAGIH SECARA LANGSUNG

Apabila dengan sindiran tetap tidak mempan dan pesan-pesanmu juga tetap tidak direspon sama sekali, sebaiknya datangi langsung saja orangnya. Tidak ada salahnya kamu mengajak orang ketiga yang sekiranya dia segani. Hal ini untuk mencegah agar tidak terjadi konflik, atau apabila konflik tak terelakkan, ada pihak ketiga yang hadir sebagai penengah.

Sebaiknya sih, sebisa mungkin setiap permasalahan yang timbul itu diselesaikan secara kekeluargaan saja. Tak perlulah pakai acara menyewa jasa debt colector segala. Selain harus keluar biaya ekstra, rasanya kok seperti nggak elegan banget, ya.



4.   TETAPLAH MENGINGATKAN

Yang namanya karakter orang, terkadang memang nggak bisa dirubah. Ada lho, bahkan banyak, yang ketika disinggung tentang kewajibannya membayar utang malah marah-marah. Nggak banget, kan?

Nah, marah-marahnya orang seperti ini sebenarnya karena dia merasa malu, makanya dia menutupi rasa malunya itu dengan marah-marah dan mengintimadasi kita. Mengatai kita ini ‘nggak perasaanlah’, ‘pelitlah’, apalah-apalah.

Sebaiknya jangan mudah terpancing untuk ikut marah-marah juga, ya. Susah memang, tetapi usahakan untuk ‘legowo’ saja. Nggak perlu ikutan emosi, tetaplah untuk selalu mengingatkan kewajibannya itu meskipun nggak digubris. Jangan pernah bosen nagih sambil selalu berikan senyum terbaikmu (susyah ya, yang ada mah senyum palsu..he..he..) nggak apa-apa sih senyumnya senyum yang sedikit dipaksakan..ho..ho.., yang penting tetaplah berbuat baik kepadanya biarpun dia jadi judes sama kamu. Insyaallah, dengan sikapmu yang hangat itu, dia jadi merasa nggak enak sendiri sama kamu. Bonusnya, duitmu bakal balik lagi ke kamu.



5.   LIBATKAN KELUARGANYA ATAU ORANG YANG DIHORMATINYA.

Hal ini sebenarnya adalah langkah yang kurang nyaman untuk ditempuh. Kesan yang tampak, kita kok jadi seperti pengadu. Tapi kenapa tidak? Kalau segala cara yang sebenarnya ‘nyaman’ bagi kedua belah pihak telah ditempuh tetapi tak jua membuahkan hasil, kita butuh orang lain untuk menyadarkannya.



6.   IKHLASKAN

Menagih utang kadangkala memang menjadi dilema. Maka lihat kembali kondisi si pengutang. Kalau memang dia termasuk orang yang sangat miskin, bahkan untuk bisa makan sehari-hari saja susah, maka ikhlaskanlah. Mungkin pada saat dia pinjam uangmu itu niatnya memang mau minta sama kamu, tapi karena malu, jadi dia bilangnya ‘pinjam’. Ya sudah, niatkan saja untuk sedekah karena Allah. Mungkin ini cara Allah mengingatkanmu untuk berbagi.



7.   GUNAKAN ILMU LANGIT

Ada beberapa orang yang mendadak jadi amnesia ketika ditanyai soal utangnya. Lebih parah lagi, bahkan tanpa kabar berita apapun tiba-tiba saja menghilang entah kemana bagai raib ditelan bumi. Sama sekali tidak bisa dihubungi dengan cara apapun. Kemungkinan sih, memang sengaja tidak mau dihubungi untuk menghindar dari tagihan utang.

Khusus menghadapi manusia bermuka tembok seperti ini, ada tips yang nampak tidak umum dan memang sulit untuk dilakukan. Betul-betul dibutuhkan kelapangan hati ekstra luas.

Begini, daripada kita menumpuk dosa dengan membenci seseorang yang membuat kita kesal teru-menerus, daripada timbul berbagai pikiran buruk yang bisa merusak hati kita, lebih baik sih mengikhlaskan saja.

‘Aduuh, endingnya kok klise banget, sih? Bagaimana mau mengikhlaskan kalau uang yang dipinjam itu jumlahnya besar dan kita juga sangat butuh?”

Rerata orang memang akan berkata demikian. Maka dari itu, saya katakan kalau ‘ilmu langit’ jenis ini super sulit. Tapi ada tips yang dapat membantumu mempermudah pelaksanaannya. Caranya, kita sedekah saja buat si pengutang agar utangnya ke kita lunas. Sound like crazy, tapi bisa kok kita lakukan.

Begini, misal orang itu utang sejuta rupiah sama kita. Sejuta tentu bukan jumlah yang kecil untuk diikhlaskan begitu saja, ya? Tetapi, daripada kita nabung dosa, mending nabung pahala lah, ya.

Sedekahin saja sehari seribu rupiah khusus buat si pengutang itu agar utangnya ke kita lunas. Nggak terasa, dua puluh satu bulan utangnya ke kita lunas. Rasanya akan plong bin lega.

Mungkin bagi beberapa orang, ide seperti ini tidak dapat diterima. it's ok. saya cuma sumbang saran, kok.

Saya yakin, jenis orang-orang pengutang yang menyebalkan akan selalu ada. Tetapi keberadaan orang-orang seperti itu justru dapat kita jadikan pengingat agar kedepannya, ketika ada orang yang datang berutang kepada kita, kita tak perlu memberinya sejumlah uang sesuai dengan yang dia ajukan. Berikan saja sejumlah yang sekiranya bisa kita ikhlaskan kalau saja uang yang dipinjamnya itu tak akan kembali lagi ke tangan kita. Biarlah kita  dianggap pelitlah, tak setia kawanlah, apalah-apalah, yang penting tali silaturahmi nggak akan pernah sampai terputus hanya gegara masalah utang piutang.

Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, ada baiknya untuk melakukan pencatatan dan menghadirkan pihak ketiga sebagai saksi ketika akan dilakukan akad utang piutang.

Semoga catatan panjang ini bermanfaat. Aamiin.



Penulis,

Rara radyanti.






Senin, 14 November 2016

@joeraganArtikel




Bener-bener deh, saya langsung merasa jadi emak-emak paling kudet saat ketahuan nggak mengenal Teh Indari Mastuti, CEO dari Indscript Creative.
Itu tuh, sebuah perusahaan yang menaungi Indscript Training Center, yaitu sebuah lembaga yang berkonsentrasi pada pemberdayaan perempuan, khususnya di dunia bisnis dan menulis.
Ternyata beliau ini begitu cetar membahana di kalangan emak-emak kece sejagat raya. *Hmmm...berarti saya dulu nggak kece ya...😅😅

Buat emak-emak yang punya hobi nulis dan ingin punya penghasilan sendiri dari pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, ini jelas sebuah jalan keluar yang menyenangkan.
Gimana enggak, Indscript juga bekerjasama dengan @joeraganArtikel mengadakan training online yang berfokus pada peningkatan skill peserta dalam membuat artikel pesanan, job review, dan sebagainya.

Dan yang lebih seru lagi, lulusan training di @joeraganArtikel bakal langsung direkrut untuk menjadi team penulis inti di emakpintar.asia. Asyik, kan?

Nggak hanya sampai di situ saja, masih ada lagi lanjutannya, nih. Yaitu para alumninya ini bakal memperoleh binaan lanjut guna menapaki jenjang karier kepenulisan berikutnya. Keren, kan?

Pokoknya seru abis dah.
Hayuuuklah...mari kemon segera hubungi sang trainer sekaligus owner @joeraganArtikel Ummi Aleeya deh ya!!!



Naahhh...yang penasaran sama itu picture apa hubungannya yak???
Hi..hi... ya nggak ada sebenernya.. 😀😀😀... tapi kalau mau dihubung-hubungi dengan agak memaksa, maksudnya begini loh... ntu saya lagi ngumpanin jalan terang buat yang suka nulis... he..he.. moga-moga nyambung ya.. Maksudnya jadi nyambung ke @joeraganArtikel..😉😉
Alhamdulillah.


Jumat, 11 November 2016

TIPS MENJAGA KOMITMEN DALAM PERNIKAHAN JARAK JAUH



TIPS MENJAGA KOMITMEN DALAM PERNIKAHAN JARAK JAUH

Sepasang manusia yang terikat dalam janji suci berupa pernikahan memang idealnya hidup satu atap, berkumpul dan berjumpa setiap hari dengan pasangan dan keluarga kecil yang dibinanya. Namun pada kenyataannya, tidak semua pasangan diberi anugerah indah seperti itu. Beberapa pasangan menikah harus hidup terpisah jarak dan waktu dengan berbagai alasan.

Pasangan dengan kondisi seperti ini biasa disebut sebagai pasangan LDM, akronim dari Long Distance Marriage. Kondisi pernikahan seperti ini bisa jadi memang adalah sebuah pilihan, tetapi dapat pula disebabkan oleh keadaan yang memaksa dan mau tak mau harus dijalani.

Menjalani pernikahan jarak jauh ini memang tidak nyaman, tetapi apabila keadaan seperti ini tidak dapat dihindari dan harus tetap dijalani, ada beberapa tips yang bisa membantu anda melewatinya dengan baik, yaitu:

SALING MENJAGA KOMUNIKASI
Tidak seperti pasangan LDM di jaman dahulu yang untuk berkirim surat saja membutuhkan waktu yang sangat lama, pasangan LDM di era teknologi canggih seperti sekarang ini tidak sulit menjalin komunikasi meskipun terpisah benua sekalipun. Mulai dari komunikasi dengan teks hingga komunikasi berbasis audio visual sangat mudah diakses.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang dilakukan secara rutin. Selain untuk memantau keadaan pasangan ataupun keluarga yang ditinggal, komunikasi juga dapat dijadikan sarana pengobat rindu.
Anda bisa bekerjasama dengan pasangan dalam memilih media komunikasi apa yang akan digunakan. Yang paling umum dan pada saat ini sifatnya wajib adalah telepon. Anda dapat mengatur bersama dengan pasangan, kapan saat yang tepat untuk berkomunikasi. Jangan sampai niat baik berakhir buruk karena salah satu dari anda sering menelpon pada saat yang tidak tepat, contohnya pada saat pasangan Anda sedang bekerja. Bagaimanapun rindunya, anda pasti bisa menahannya sesaat hingga jam bekerjanya usai, bukan? Atau anda bisa mengiriminya pesan teks, tapi jangan uring-uringan kalau tidak direspon dengan segera, ya.

SALING MENJAGA KEPERCAYAAN
Ini adalah hal terpenting bagi seluruh pasangan suami istri, apalagi bagi yang sedang menjalani pernikan jarak jauh. Dengan saling menjaga kepercayaan dapat membuat hubungan anda dengan pasangan menjadi tenang, tanpa diganggu pikiran-pikiran negatif, semisal pikiran buruk tentang akan hadirnya orang ketiga.
Dengan saling menjaga kepercayaan, berarti anda juga telah membangun pondasi yang kuat bagi rumah tangga anda.
Salah satu contoh kurang tepat yang sering dilakukan oleh pasangan masa kini adalah dengan men’stalking’ akun media sosial pasangan. Mungkin alasan awalnya baik, yaitu untuk memantau pasangan. Akan tetapi, kegiatan seperti ini sebenarnya lebih banyak mudhoratnya daripada manfaatnya. Alih-alih merekatkan hubungan, anda justru sedang melonggarkan tali pengikat keutuhan rumah tangga anda. Karena diakui atau tidak, dengan sering mengintip akun media sosial pasangan, perasaan yang menjadi sering timbul adalah rasa curiga dan rasa cemburu. Apabila tidak dapat dikelola dengan baik, kedua macam pearasaan tersebut dapat membawa akibat buruk pada hubungan anda.
Untuk menghindari hal tersebut, anda berdua sebaiknya menyadari tentang pentingnya menghargai dan menghormati privacy masing-masing. Tanamkan dalam hati anda, bahwa pasangan terdekat kita sekalipun tetap berhak dengan privacynya sendiri-sendiri tanpa intervensi dari siapapun.

PERBANYAK KEGIATAN POSITIF
Berada jauh dari pasangan kerap kali membuat anda jadi merasa kesepian. Untuk mengatasi rasa kesepian itu, beberapa orang akan mencari kesibukan selain kegiatan sehari-harinya. Selama kesibukan tersebut adalah kesibukan yang bermanfaat, maka akan baik-baik saja. Tetapi bagaimana apabila kesibukan yang anda pilih justru mengarah pada tindakan yang negatif? Tentu saja hal tersebut dapat merusak hubungan pernikahan anda. Tak ingin hal tersebut terjadi, kan?
Untuk itu, sebaiknya anda memanfaatkan waktu luang anda hanya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif saja. Misalnya dengan memperbanyak ibadah, berolahraga, mengikuti pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan minat dan bakat Anda, dan berbagai kegiatan positif lainnya yang banyak manfaatnya.

SELALU MENGINGAT ALLAH
Tak akan ada yang dapat selalu menolong kita selain kuasa Allah. Ikhlas dengan apa yang harus anda jalani dan percayakan semuanya berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Karena hanya dengan selalu mengingat Allah saja, maka ketenangan dalam hidup akan kita raih.
Berdoalah kepada-Nya agar anda dan pasangan selalu diberi kekuatan dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh ini.
Mintalah hanya kepada-Nya agar keluarga anda dapat segera berkumpul bersama dan hidup bahagia dalam ridho-Nya.

Kamis, 27 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

cerpen "Ibu, deritamu kini telah usai" Tribute For Mother

Tribute For Mother


IBU, DERITAMU KINI TELAH USAI

          “Pak, Rini besok harus membayar uang semester lho, Pak. Kalau terlambat nanti nggak bisa ikut ujian. Saat ini Ibu sudah tidak pegang uang lagi selain untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Semua sudah dipakai untuk membayar utang di warungnya bu Sri sama warungnya pak RT.” Sambil mengaduk gula di cangkir kopi pak Seto, bu Rahma menyampaikan permintaan tersebut.
          “Ya. Besok kan bapak sudah gajian,” jawab pak Seto singkat tanpa mengalihkan pandangan matanya dari lembaran koran yang sedang dibacanya.
          Bu Rahma tersenyum lega mendengar jawaban dari suaminya tersebut. Sambil membereskan meja makan, ibu berputra empat itu mencoba mengingat- ingat , kebutuhan apa saja yang harus segera didahulukan, mumpung besok suaminya menerima gaji.
          Meskipun bu Rahma tahu kalau seperti biasanya, gaji yang akan diterima suaminya tidak utuh lagi karena harus dipotong berbagai pinjaman di koperasi kantornya, tapi setidaknya ada yang bisa dipakai untuk membayar kebutuhan sekolahnya anak-anak. Sedangkan gaji dia sendiri sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah negeri, dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
          “Oya, Pak, si Aris juga bilang sama ibu kalau dia butuh uang untuk mengganti kampas sepeda motornya yang sudah aus. Kemudian Dani dan Sari juga harus membayar buku pelajaran di sekolah mereka. Angsuran buku matematika milik Sari malah sudah nunggak hampir dua bulan ini belum dibayar sama sekali, kasihan dia sampai malu sama teman-temannya,” ucap bu Rahma sambil meletakkan mangkuk sayur di meja makan yang baru saja dibersihkan itu.
          “Iya, catat saja semua yang harus dibayar,” jawab pak Seto singkat sambil melipat lalu meletakkan koran yang baru saja dibacanya itu.
          “Ya, mudah-mudahan saja cukup,” ucap pak Seto setelah menyeruput kopinya.
          Bu Rahma tersenyum lagi. Wanita berbadan subur itu merasa lega. Dalam pikirannya, setidaknya untuk bulan ini dia tidak perlu berutang lagi untuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.  

**

          Sore itu, sambil berjalan tergopoh-gopoh memasuki rumah setelah memarkir sepeda motornya, pak Seto berteriak memanggil-manggil istrinya. Bu Rahma yang sedang mencuci piring pun langsung menghentikan aktivitasnya dan pergi menghampiri suaminya.
          “Oalah, Bu, amblas semua, hilang, muspro, raib semua uang gaji bapak, Bu,” ratap pilu pak Seto sambil terduduk di lantai.
          Serasa bagai palu godam menghantam kepalanya, bu Rahma pun berkunang-kunang. Mulutnya terkatup rapat, tetapi matanya terbelalak sampai terasa mau lepas. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya seperti terhenti, tercekat di tenggorokan.
          Tubuh bu Rahma pun lunglai, selunglai tubuh suaminya yang bersimpuh di lantai. Campur aduk perasaannya, sedih ataukah marah, antara mau menangis ataukah berteriak.
          Akhirnya bu Rahma pun sama-sama bersimpuh di lantai mendekati suaminya itu. Tanpa menunggu pertanyaan dari istrinya, penjelasan pun meluncur dari mulut pak Seto.
          “Sepeda motor bapak tadi serempetan sama sepeda motor orang, Bu. Bapak terjatuh karena terperosok lobang yang cukup dalam di pinggir jalan dekat lapangan itu. Orang yang nyerempet bapak juga jatuh, tapi tidak apa-apa. Sepeda motor kami juga tidak apa-apa. Sudah damai, tidak ada masalah apa-apa. Setelah orang itu pergi, bapak baru sadar kalau amplop gaji yang bapak letakkan di saku kemeja bapak tidak ada, Bu. Bapak sudah bolak-balik mencari di sekitar tempat bapak jatuh tadi, tetapi tetap tidak ketemu. Apa mungkin diambil sama orang yang nyerempet bapak tadi, ya?” ucap pak Seto menjelaskan kronologis kecelakaan yang baru saja menimpanya.
          Bu Rahma tak sanggup mencerna dengan baik penjelasan suaminya itu. Dia hanya memikirkan kesulitan keuangan yang akan segera menderanya. Plak! Tiba-tiba saja seperti ada yang yang menampar dengan keras pipinya. “Astagfirulloh,” ucap bu Rahma beristighfar.
          “Sudahlah, Pak. Yang penting bapak tidak apa-apa. Apakah ada luka serius, Pak?” tanya bu Rahma sambil memeriksa tubuh suaminya itu. Wanita itu pun merasa lega manakala tidak didapatinya luka ataupun memar di tubuh lelaki pendamping hidupnya itu, meskipun di dalam hatinya perasaan sedih dan kecewa tak dapat dihilangkannya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi.
**

          “Bu, bapak mau keluar sebentar, ya. Bapak mau ke rumahnya pak Aji, siapa tahu beliau bisa membantu memberi pinjaman kepada kita. Mungkin bapak juga mau ke tempatnya pak Heru, kawan bapak SMA dulu. Kalau saja pak Aji tidak dapat membantu, pak Heru mungkin bisa kuandalkan,” pamit pak Seto kepada istrinya.
          “Kunci rumah, kubawa, Bu. Siapa tahu sampai larut malam baru bisa pulang. Ibu tidur saja, tak usahlah menunggu bapak,” ucap pak Seto kemudian.
          Bu Rahma mengangguk. Bu Rahma kemudian teringat akan utangnya kepada salah satu adiknya yang tinggal di ibu kota. Dia dulu berutang untuk membayar uang pangkal kuliahnya Rini. Meskipun adik bu Rahma mengatakan bahwa utang itu bisa dibayar kapan saja, tetapi rasanya kok tidak enak kalau nyicilnya saja tidak lancar.
**

          Di sebuah warung remang-remang di ujung sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari kediaman bu Rahma, terlihat sosok pak Seto sedang tertawa terbahak-bahak dengan botol tuak di tangannya, sedangkan di pangkuannya duduk seorang wanita dengan pakaian ketat dan rok mini. Di sekitarnya, duduk lelaki-lelaki lain dengan tingkah polah serupa dengannya. Kartu-kartu remi, botol-botol tuak, dan lembaran-lembaran uang bertebaran di atas meja.
          Sungguh tak disangka, ternyata pak Seto sedang bermaksiat. Rupanya cerita tentang kecelakaan yang menimpanya itu hanyalah kebohongan belaka. Uang gaji pak Seto raib di meja judi dan untuk memanjakan para perempuan penjaja cinta itu.
          Tak cukup sampai di situ, pak Seto masih melanjutkannya dengan arena perjudian lain, salah satunya dengan mempertaruhkan uangnya melalui judi toto gelap atau yang lebih dikenal dengan sebutan judi togel.
          Hampir tiap malam pak Seto menghabiskan waktunya di tempat maksiat itu. Kalaupun berada di rumah, judi togelnya tetap berlangsung melalui ponsel. Hari-harinya semakin kelam, kebohongan demi kebohongan terus direkanya agar perbuatannya itu tidak diketahui oleh sang istri.
**

          Namun, yang namanya bangkai, meskipun disembunyikan sedemikian rapat, baunya pasti akan tercium juga. Pun demikian dengan ulah pak Seto ini. Lambat laun bu Rahma pun mengetahuinya juga. Hal ini karena semakin banyak orang yang datang ke rumah mereka untuk menagih utang.
          Selama itu, pak Seto kerap berbohong dengan berbagai alasan kepada istrinya perihal gajinya yang tak pernah dia terima. Awalnya bu Rahma masih percaya, namun karena lama-kelamaan alasan yang dibuat suaminya itu terlalu mengada-ada sehingga bu Rahma pun sulit untuk percaya dan mulai mencium bahwa ada yang tidak beres dengan perilaku suaminya itu.
Selama itu pula, bu Rahma tidak pernah lagi menerima sepeserpun gaji suaminya. Semua biaya hidup dan biaya sekolah anak-anaknya, dialah yang mengusahakannya sendiri. Bu Rahma mulai berjualan apa saja yang bisa dijual, bahkan membuat es mambo yang dititipkan ke sekolah-sekolah. Bila sudah sangat mendesak, berutang pun dilakukannya. Meskipun selalu digelayuti perasaan malu, namun demi anak-anaknya bisa lancar bersekolah, apapun bu Rahma lakukan.
Entah, setan apa yang merasuki jiwa pak Seto sehingga tega melepaskan tanggung jawabnya terhadap keluarga yang seharusnya dia naungi. Semakin hari, lelaki itu semakin tak peduli dengan keluarganya. Bahkan ketika bu Rahma tergolek lemas tak berdaya karena penyakitnya.
**
          Rini dan ketiga adiknya duduk terpekur memanjatkan doa demi doa bagi kesembuhan sang ibu yang sedang kritis. Tetapi, menurut dokter, kondisi ibunya itu sudah sangat lemah dan tidak dapat dilakukan upaya apapun untuk memperpanjang usianya. Tentu saja hatinya berontak, dia masih sangat menginginkan kehadiran sang ibu. Namun, kemudian dia tersadar, mungkin ibunya sudah sangat lelah dengan beratnya penderitaan yang harus ditanggungnya.
          Rini pun kemudian berbisik di telinga sang ibu, “Kami ikhlas bila ibu harus pergi meninggalkan kami, Ibu. Ibu pasti akan lebih bahagia bila berada di sisi Allah. Biarlah Rini yang akan menjaga adik-adik. Kami minta maaf bila selalu menyusahkan ibu, ya. Kami pun telah memaafkan seluruh kesalahan ibu. Ah, bahkan ibu tak punya salah apa-apa kepada kami. Sudahlah, Bu. Ibu tenang-tenang saja, tak perlu lagi memikirkan beratnya hidup ini.”
**

             
Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis, namun kemudian saya mengundurkan diri karena ternyata saya dimintai sejumlah dana yang saya nilai jumlahnya tidak wajar.
Kecewa. Itu pasti. Namun bukan berarti saya lantas berputus asa, apalagi sampai berhenti menulis.

Ada hikmah yang bisa saya ambil. Ke depan, saya akan tetap terus menulis lebih baik lagi dan berusaha untuk lebih selektif lagi dalam mengikuti kompetisi serupa.

Rabu, 19 Oktober 2016

MINDER dan solusi mengatasinya




MINDER
dan solusi mengatasinya



Apa sih "minder" itu?
Apakah kamu sering mendengar istilah "Nggak PeDe"?

Ya. "Nggak PeDe" adalah akronim dari istilah "Nggak Percaya Diri". Dan "minder" adalah istilah lain dari sebuah perasaan "Nggak PeDe" tersebut.

Definisi "minder" secara umum adalah sebuah perasaan tertekan yang menyebabkan seseorang menjadi kehilangan rasa percaya diri.

Perasaan tertekan ini bisa timbul dari dalam diri seseorang itu sendiri ataupun dari luar diri/lingkungan/ orang di sekitarnya.

Pernahkah kamu mengalami perasaan tersebut?
Kalau saya sih iyes. Aslinya saya ini orangnya minderan *ho..ho..
Dimanapun saya berada, saya sering mengalami kesulitan menghilangkan perasaan yang satu ini.
Di sekolah. Ya, saya dulu suka merasa minder sama teman yang lebih pintar.
Di lingkungan sepermainan. Ya, saya dulu suka minder sama teman yang lebih lincah.
Di dunia kerja, di dunia model yang pernah saya geluti, di komunitas ibu-ibu arisan, dan lain-lain. Di mana saja deh, pokoknya.
Nggak enak banget kan?
Kata orang, hal tersebut karena saya kurang pandai bersyukur.
Betulkah?
Iya juga, sih. Tetapi kalau ditelisik lebih dalam lagi, ternyata banyak faktor lain yang menjadi penyebab timbulnya rasa "minder" itu, antara lain:

# Pola Asuh Orang tua Yang Terlalu Membatasi Kegiatan Anak.
Tak ada orang tua yang punya maksud buruk terhadap anak-anaknya. Setiap orang tua pasti selalu ingin melindungi anak-anaknya dan menjaga supaya anak-anaknya nggak celaka. Bahkan karena alasan itulah, sehingga banyak orang tua yang menjadi terlalu over protektif terhadap anak-anaknya. Mereka jadi terlalu membatasi gerak-gerik si anak. Mau ini nggak boleh, mau itu dilarang, pokoknya untuk melakukan hal-hal yang sekiranya agak tidak biasa, pasti akan selalu dilarang ataupun kalau dibolehkan selalu diikuti dengan persyaratan yang memberatkan.

Orang tua saya dulu juga seperti itu, banyak melarang saya melakukan ini dan itu, akibatnya saya menjadi merasa tertinggal dari teman-teman saya yang lain. Contohnya, ketika banyak teman-teman saya yang sudah bisa mengendarai sepeda motor, saya termasuk yang "terlambat bisa" karena orang tua saya melarang saya melakukannya.


#Orang tua Yang Kerap Marah dan Menyalahkan Tanpa Alasan Yang Jelas.

Nggak enak banget deh, dikit-dikit dimarahi. Misalnya nggak sengaja numpahin minum, langsung kena bentak. Atau kelupaan meletakkan suatu benda, langsung dimarahi, dikatain teledor lah, kan bikin anak langsung nyesek, ya.

Orang tua yang kurang pandai mengontrol emosinya dan mudah meledak-ledak alias gampang marah-marah pada hal yang sepele dapat mengurangi rasa percaya diri pada anak. Anak jadi gampang minder. Anak juga jadi nggak pernah punya inisiatif karena takut apa yang akan dilakukannya selalu salah di mata orang lain.


#Tak Pernah Mendapatkan Pujian

Terdengar cengeng. Ah, masak cuma karena nggak pernah dipuji langsung jadi minder, sih. Hei, ini bisa terjadi lho. Seseorang yang tak pernah mendapatkan apresiasi positif terhadap perbuatan baik yang dilakukannya, bisa kehilangan rasa percaya diri untuk berbuat baik lagi. Buat apa berbuat baik, toh tidak dihargai. demikian kira-kira perasaannya.

Akibat tak pernah mendapat pujian ini, bisa membuat seseorang jadi minder, dia akan selalu menganggap bahwa orang lain itu selalu lebih hebat dari dirinya.

Maka dari itu, setelah menjadi orang tua saya kerap memberikan apresiasi dalam bentuk pujian buat anak-anak saya ketika mereka telah berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Karena menurut saya, hal tersebut dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka. Kendatipun banyak juga yang berpendapat agar jangan terlalu sering memuji anak, kalau buat saya sih selama nggak terlalu berlebihan ya baik-baik saja.
# Bentuk Fisik Yang Tak Sempurna.

Ya. Kondisi fisik seseorang yang tidak sempurna cukup kuat menjadi alasan seseorang menjadi tidak percaya diri. Contohnya saya. Saya punya bentuk gigi yang sangat tidak sedap dipandang mata, selain gigi gingsul yang menonjol, gigi-gigi yang lain pun bentuknya tidak beraturan. Hal ini cukup membuat saya merasa minder. Saya nggak pernah bisa tertawa lepas kecuali di tengah orang-orang dekat saya. Setiap kali ada photo session saya juga selalu mengatupkan mulut. Seringkali saya melakukan hal-hal tersebut tanpa saya sadari. Mungkin karena alam bawah sadar saya yang menyuruh saya melakukan hal tersebut, ya. Kenapa? Dugaan saya, pasti karena lubuk hati terdalam saya mengatakan bahwa saya merasa malu dengan 'gigi' saya. He..he...


#Latar Belakang Pendidikan.

Meskipun hal ini sebenarnya tak perlu terjadi, tetapi bukan tidak mungkin seseorang jadi merasa minder karena faktor latar belakang pendidikannya yang mungkin tidak lebih tinggi bila dibandingkan dengan latar belakang pendidikan orang-orang lain di lingkungannya, entah itu di lingkungan kerja, lingkungan komunitas yang diikutinya, dan lain sebagainya.


# Kondisi Ekonomi

Kendati hal ini juga tak perlu terjadi, akan tetapi latar belakang kondisi ekonomi sosial seseorang justru sering menjadi penyebab timbulnya perasaan 'minder' dari orang tersebut. Orang tersebut jadi selalu merasa minder dalam bergaul. Kebanyakan karena takut dipandang sebelah mata atau takut dilecehkan.


# Trauma Akan Kejadian di Masa Lampau.

Pernah mengalami kegagalan? Beberapa orang mungkin bisa bangkit dari keterpurukan akibat kegagalan, tetapi sebagian orang yang lain ada juga yang nggak bisa 'move on' dari kegagalan yang pernah dialaminya. Dia yang nggak bisa 'move on' ini biasanya akan jadi minder untuk mencoba hal yang sama yang pernah menyebabkannya gagal tersebut.

**

Setelah mengetahui berbagai penyebab rasa minder, pastinya ingin tahu kan, seperti apa sih solusi untuk mengatasi perasaan tersebut? Dari pengalaman sendiri dan juga dari berbagai pengamatan, dapat saya simpulkan bahwa perasaan minder itu sebenarnya bisa diatasi dengan:

*Mengenali Diri Sendiri Dengan Sebaik Mungkin.

Dalam proses mengenali diri sendiri ini kita dituntut untuk bisa jujur terhadap diri kita sendiri, karena hanya dengan kejujuran maka kita bisa mengidentifikasi diri kita, apa saja kelemahan-kelemahan kita sekaligus apa saja kelebihan-kelebihan yang kita miliki dalam diri kita.

Ketika kita sudah berhasil mengidentifikasi diri kita itu seperti apa, kita bisa memilih strategi yang tepat dalam berinteraksi dengan orang lain. Kita jadi tahu bagaimana cara menyamarkan kekurangan diri kita dan menonjolkan kelebihan yang kita miliki.


*Berusaha Untuk Selalu Menghargai Diri Sendiri.

Sebelum mengharapkan orang lain untuk menghargai diri kita, sudah semestinya kita bisa menghargai diri kita sendiri. Cara sederhananya adalah dengan selalu berpikir positif bahwa diri kita ini patut untuk dihargai. Jangan pernah memandang rendah orang lain kalau kita tak mau dipandang rendah.


*Hadapi Setiap Rasa Takut Yang Timbul.


Merasa takut akan melakukan kesalahan, merasa takut tidak bisa tampil dengan baik, merasa takut tidak dapat memuaskan orang lain, dan berbagai rasa takut yang lain itu wajar dialami oleh siapa saja. Rasa takut yang berlebihan membuat kita bisa kehilangan rasa percaya diri alias minder. Bagaimana cara mengatasinya?

Setiap rasa takut yang datang itu jangan dihindari, tetapi sebisa mungkin dilawan. Melawan rasa takut, dapat meningkatkan rasa percaya dirimu. Cara melawan rasa takut adalah dengan meyakinkan bahwa dirimu "bisa". Semua akan lancar kalau kamu sudah berhasil mengenal dirimu dengan baik dan menghargainya.


*Pandai Atasi Kekurangan Diri.

Seringkali kita tidak mau mengakui kekurangan kita sendiri, kita justru kerap kali mengandalkan penilaian orang lain. Padahal sebenarnya, kitalah yang paling tahu apa dan bagaimana kekurangan kita itu. Kalau kita memperlakukan kekurangan kita dengan positif, niscaya akan dapat meningkatkan rasa percaya diri dari sisi yang lain. Nggak percaya?

Saya contohkan tentang kasus saya dan gigi gingsul yang saya ceritakan tadi, ya. Meskipun banyak yang bilang bahwa gigi gingsul itu menambah daya tarik, apa saya percaya begitu saja? Ya enggak lah. Dilihat dari sudut pandang manapun, gigi amburadul saya itu tetap nggak ada menari-menariknya..he..he.. Karena gigi yang tak sedap dipandang itu, saya jadi agak minder dalam bergaul. Ketika berbaur, saya jadi membatasi senda gurau yang dapat menyebabkan gigi saya terekspos dan menjadi bahan "rasan" orang lain. Apakah hal tersebut baik? Tentu saja tidak sepenuhnya baik. Tetapi saya ambil sisi positifnya saja. Saya jadi jarang ngobrol berlarut-larut yang kerap berakhir dengan gosip. Saya kemudian memang menjadi pribadi yang semi introvert, tapi bukan berarti saya tak pernah mengeluarkan suara saya. Pada akhirnya, saya berhasil menumpahkan isi hati saya melalui tulisan. Tulisan-tulisan saya kerap dimuat di berbagai media, baik media cetak maupun portal online, saya bahkan telah menerbitkan buku. Bagaimana? Sudah berhasilkah kamu mengatasi kekurangan dirimu?


*Melupakan Kegagalan Di Masa Lampau.


"Belajar dari kegagalan dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama." adalah nasihat bijak andalan untuk melupakan kegagalan di masa lalu. Nggak bisa 'move on' dari kegagalan di masa lalu memang kerap membuat kita jadi merasa minder, lalu mengira bahwa kita pasti akan gagal lagi. Halloooww...kalau nggak dicoba bagaimana kita bisa tahu kalau kita bisa berhasil?

Sebisa mungkin memang kita jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama, tetapi bukan berarti kita jadi membatasi diri. Kalau kita terperangkap pada masa lalu terus, kita nggak akan pernah jadi kuat. Teruslah berpikir positif. Tekankan selalu pada diri sendiri bahwa kita bisa. Rileks, karena rileks bisa mengatasi kegugupan yang mungkin timbul. Jangan cemas, tak perlu harus sempurna, yang penting berusaha untuk bisa dan tidak gagal lagi.




Sulitkah mengimplementasikan solusi-solusi di atas?

Memang tak ada yang semudah membalik telapak tangan, akan tetapi teruslah berusaha mengatasi rasa mindermu.

Mari saling berbagi pengalaman bagaimana cara mengatasi rasa minder yang pernah kamu alami.














































Selasa, 26 April 2016

BERDAMAI DENGAN MASA LALU TANPA MENGUSIK EMOSI. BISAKAH?



Berdamai dengan masa lalu, apalagi masa lalu yang tidak menyenangkan memang bukanlah hal yang mudah. Karena berdamai dengan masa lalu itu bukan berarti menghilangkannya begitu saja dari kehidupan kita, bukan? Lagi pula, mana bisa ya masa lalu kok dihilangkan?? *ngernyitin jidat*
Kalau yang dimaksud itu 'melupakan', itu masih mungkin. Tetapi kalau kita nggak terserang amnesia, saya rasa kok ya sulit ya 'melupakan' tanpa menyisakan sedikitpun ingatan itu.

Ketika kita mengingat dan tak sengaja menemukan jejak yang telah kita tinggalkan, hal tersebut justru merupakan sebuah pelajaran yang berharga. 
Ingat dengan pepatah "Belajarlah dari kegagalan" ??
Itu artinya kita harus pernah gagal dulu kan? Kalau kita "pernah", artinya kita sudah melakukan sesuatu terlebih dahulu kan? dan "gagal" itu baru kita ketahui setelah kita melakukan sesuatu terlebih dahulu. *njelimet ya?*
Intinya, mengingat masa lalu itu bisa menjadi pelajaran yang berharga buat kita.

Masa lalu yang tidak menyenangkan bukan berarti harus dimusuhi, kita bisa kok berdamai dengan masa lalu. Nah, untuk berdamai dengan masa lalu ini, terlebih dahulu kita harus berdamai dengan diri sendiri, karena dengan berdamai dengan diri sendiri, maka secara tak langsung kita akan mulai berdamai dengan segala kenangan akan masa lalu diri kita. 

Sebelum saya kasih trik untuk "berdamai dengan diri sendiri", saya ajak 'putar-putar' logika dulu, ya.
Ingatkah bahwa di masa lalu kamu pernah punya angan-angan?
Bahkan mungkin saja angan-angan kamu itu masih tetap saja sama hingga sampai saat ini.
Hal itu menandakan bahwa tidak semua angan-angan atau harapan itu bisa segera terwujud, kan?
Ketika ekspektasi tersebut tidak kunjung terwujud, kita menjadi kecewa. Rasa kecewa yang besar bisa jadi akan menimbulkan amarah.
Kita menjadi kecewa dan marah dengan diri kita sendiri.
Ketika kita marah dan kecewa, bukan tidak mungkin orang yang berada di sekitar kita akan menjadi pelampiasan perasaan kita itu. Tanpa kita sadari, segala sikap dan tutur kata kita menjadi tidak menyenangkan bagi orang lain.

Lalu bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri itu?
Untuk mewujudkannya, kita bisa menggunakan yang namanya "teropong hati" dengan cara terbalik. Caranya, teropong hatinya bukan untuk memandang yang di depan seperti fungsi teropong pada umumnya, tetapi dibalik, yaitu untuk memandang diri kita sendiri.
Jadi, memandang diri sendiri itu artinya adalah introspeksi diri.
Apakah selama ini kita telah mampu mengontrol pikiran, perkataan dan sikap kita?
Sudahkah kita menjadi sosok yang keberadaannya selalu membuat rindu orang lain karena apa yang menjadi pemikiran, perkataan dan sikap kita telah patut menjadi teladan bagi orang lain?
Ataukah sebaliknya, segala tindak tanduk kita justru sering  membuat orang lain merasa tidak nyaman, terlukai dan bersedih?

Ya. Kita memang boleh memiliki angan-angan, harapan bahkan mimpi sebesar dan setinggi apapun. Ketika semua itu tak kunjung mewujud, kemudian ada rasa kecewa yang timbul itu adalah hal yang wajar, namun hindarilah amarah. Karena halilintar amarah kita yang hanya sekejapan mata, bisa jadi melukai orang, dan luka itu dapat membekas di sepanjang hidupnya. Maukah kamu menjadi kenangan yang tak menyenangkan bagi orang lain?

Kesimpulannya, kita bisa berdamai dengan masa lalu dengan terlebih dahulu berdamai dengan diri sendiri. Tapi tanpa mengusik emosi? Rasanya tak mungkin. Justru harus melibatkan emosi, untuk mengontrol emosi agar tak muncul emosi yang berlebihan.

Bolehlah kalimat di bawah ini menjadi pengingat kita,
"Bahwa apa yang tertanam di benak orang lain tentang kita, bisa turut membentuk bagaimana diri kita di mata orang lain. Sama halnya dengan apa yang tertanam di benak kita tentang diri kita akan turut membentuk siapa diri kita."





KADUNG SELINGKUH

Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari ...