Kamis, 08 Desember 2016

CANTIK DENGAN PASHMINA INSTANT DARI MUNIRA JILBAB



Seorang wanita muslimah akan selalu nampak lebih anggun ketika menggunakan jilbab dalam kesehariannya.
Apalagi berhijab bagi seorang muslimah itu adalah sebuah anjuran yang dapat berperan meningkatkan ketakwaan pemakainya.

Jilbab yang pada waktu lalu tidak banyak dilirik karena modelnya yang dinilai terlalu kaku, kini anggapan tersebut mulai ditinggalkan.

Hal ini karena perkembangan varian model jilbab modern dalam kurun waktu belakangan ini sangat menunjang hal tersebut.

Seperti halnya MUNIRA, salah satu brand jilbab yang saat ini tengah ngetrend, dapat menjawab semuanya.

Variasi bentuk jilbabnya yang cantik dan anggun dapat mendukung semua jenis bentuk wajah, baik yang oval, bulat, segitiga, maupun persegi.

Setelah survei kesana kemari, rasanya saya mulai melirik brand keren ini, nih. Tak perlu repot mempelajari berbagaia tutorial hijab yang begitu rumit itu, MUNIRA jilbab menyediakan berbagai varian jilbab instan.

Meskipun instan ,MUNIRA jilbab sama sekali tak berkesan murahan. Bahannya yang mewah, membuat jilbab ini nampak eksklusif.

Seperti produk Md.13 seperti contoh gambar di atas. Ini adalah salah satu produk MUNIRA jilbab incaran saya. Pashmina instan syar'i tanpa pet, terdiri dari 1 lubang kepala. Kerudung ini dipakai dengan cara diputar seperti memakai pashmina biasa.
Yang membuatnya nampak anggun, bahannya terbuat dari diamond crepe yang nyaman dan tentu saja berkualitas istimewa. Harganya pun juga bersahabat. Cukup 160 k saja untuk produk sebagus itu.
Ada 10 warna syahdu yang bisa dijadikan pilihan.

Kemudian ada juga Md.12 yang berbahan jersey kualitas super. Yang ini adalah pashmina instan syar'i dengan 2 lubang kepala. Untuk memakainya, nggak perlu memakai peniti ataupun jarum pentul yang bila meleset sedikit saja memasangnya bisa melukai kulit. Harganya juga oke punya untuk jilbab secakep ini.
Kerennya, ada 20 warna ceria yang bisa dipadu padankan dengan berbagai busana muslimmu. Cakeeep, kan?

Berbagai jenis jilbab MUNIRA keren ini bisa kamu dapatkan dengan menghubungi sobat saya, mbak Vivi Ainil di FBnya Vivi ainil atau via WA 0823-3399-7614.





Minggu, 04 Desember 2016

LAGI-LAGI KARENA JOKOWI



Hari memang masih sangat pagi, namun aku sudah harus berada di bandara. Di sebuah ruang tunggu penumpang, seorang wanita cantik berkacamata datang menghampiri dengan senyum mengembang,
“Mbak Rara, kan? Inget sama Desy (bukan nama sebenarnya) nggak, mbak?”
“Inget dong,” ucapku sambil menyambut uluran tangannya.
Seperti kebanyakan perempuan lain kalau lama nggak saling ketemu, kami pun berpelukan dan disambung dengan cipika cipiki.
“Masih tinggal di Jakarta, Mbak?” tanyanya.
“Enggak. Aku di Palembang sekarang,” jawabku singkat.
“Wah, gue mau ada acara kantor nih, di sana. Ntar temenin cari oleh-oleh ya, Mbak,” pintanya.
“Oke,” jawabku.
“Kalau kamu stay di mana nih, sekarang?” lanjutku bertanya.
“Masih di Jakarta, Mbak. Kerjaan di Jakarta, dapet suami orang Jakarta. Ya udin deh, jadi warga Jakarta gue,” jawabnya.
Tak lama kemudian, kami pun saling bertukar nomer kontak.
           
 Desy adalah teman satu kos sewaktu aku dulu masih tinggal di daerah Benhil, Jakarta. Tak banyak yang berubah dari dirinya. Wajahnya yang selalu sumringah membuatnya masih nampak segar meski usianya sudah tak lagi muda.

 “Mbak, Lu masih inget sama si Joe(juga nama samaran), nggak?” tanyanya memecah keheningan.
“Joe yang pacar kamu itu? Yang sering kamu ajak ke Kos-an itu? Yang wangi banget itu, kan?” tanyaku bertubi-tubi.
“Ih, Lu inget aja, mbak sama wanginya?” ucapnya sambil tersenyum lebar.
“Iya lah. Habisnya tiap doi dateng ke kos, otomatis aku langsung ngecek botol parfumku. Kirain kalau tumpah, gitu,” ujarku diiringi dengan derai tawa kami.

“Dia sekarang tinggal di Palembang juga lho, Mbak,” ucapnya.
“Dan udah jadi duda,” lanjutnya mencoba mengejutkanku dengan informasinya itu.
Sebenarnya aku nggak terlalu terkejut sih, lha wong kenal baik juga enggak. Tetapi karena si Desy yang lagi nyeritain mantan pacarnya itu, otomatis aku jadi penasaran juga, dong.
           
 “Jadi, kamu ke Palembang mau ketemuan sama doi, nih?” Tanyaku  menggodanya.
“Ih, enggak lah ya. kami udah end. Bener-bener end,” ucapnya dengan nada gemas.
“Tahu nggak sih, mbak. Gue tuh pernah selingkuh sama doi,” ucapnya betul-betul mengejutkanku kali ini.
“Cuma selingkuh hati sih, mbak. Nggak sampai selingkuh fisik,” ujarnya mencoba meredakan keterkejutanku.
Aku langsung membayangkan wajah suami dan anak-anaknya yang tadi fotonya sempat dia tunjukkan kepadaku.
“Lu, jangan dulu bayangin yang enggak-enggak, Mbak,” ucapnya mencoba membela diri padahal aku tidak mengucapkan sepatah katapun untuk menunjukkan kesalahannya.
“Kejadiannya juga nggak disengaja sih, Mbak. Kita ketemuan lagi waktu ada acara gathering . Secara, gue sama doi kan masih satu kantor meskipun beda cabang. Nah, sejak saat itu, hubungan kami jadi intens lagi meskipun hanya melalui BBM. Singkatnya, benih-benih cinta tumbuh kembali. Apalagi, doi juga sudah jadi duda,” ujar Desy menceritakan awal kisah selingkuhnya dengan si mantan.
            
Dada ini langsung penuh dengan celaan yang ingin kuungkapkan kepadanya. Bagaimananpun juga, di mataku, temanku ini berada pada posisi yang salah. Namun semua celaan itu hanya kupendam saja. Kubiarkan dia menuntaskan dulu kisahnya.
           
 “Apalagi pada saat itu hubungan gue dengan suami juga lagi renggang sih, Mbak. Suami gue tuh ya, kalau sudah asyik dengan hobbynya suka sampai lupa dengan keluarga. Istri mana yang nggak kesel coba? Mana mama mertua selalu membela anak kesayangannya. Jadi ya gitu, deh. Hubungan kami hambar seketika,” ujarnya lagi.
            
Lagi-lagi aku ingin menegurnya. Tetapi kuurungkan niatku itu. Aku sadar, dia tidak sedang ingin mendengar nasehatku. Dia hanya ingin menuturkan kisahnya.
            
“Si Joe tuh ya, Mbak. Memang paling ngertiin gue. Kalau soal yang ini, Joe memang nggak ada yang ngalahin. Tetapi gue nggak pernah nyesel putus sama doi, habisnya doi kan posesive banget sama gue. Dulu, doi tuh terlalu mengekang gue. Gue masih inget banget, itu adalah alasan utama gue waktu dulu mutusin doi,” ucap Desy sambil matanya menerawang, seperti sedang membayangkan kejadian belasan tahun silam.
            
“Namanya juga terpercik api cinta yang dulu sempat padam, meskipun terpisah lautan, hampir setiap saat doi ngubungin gue. Gue juga gitu, Cuma kalau gue kan harus lebih waspada, ya. Secara, ada misoa gitu lho,” ucapnya diikuti dengan tawa kecilnya.
Aku hanya tersenyum, itupun dengan sedikit memaksakan. Tak ada yang lucu bagiku. Apanya yang mau ditertawakan?
            
“Bener-bener kayak abege baru jatuh cinta, gue suka cemburu lho kalau si Joe memposting foto bersama teman-teman ceweknya. Ya udin, gue bales aja dengan memposting balik foto mesra gue dengan suami. Tahu nggak, Mbak, seperti apa reaksinya?”
            
“Doi marah-marah, Mbak,” ucap Desy menjawab sendiri pertanyaan yang tadi sempat dilontarkan kepadaku.
“Pokoknya gue sama doi udah seperti orang pacaran deh, Mbak. Saling stalking akun seperti tak ingin ketinggalan informasi sedikitpun. Herannya, tiba-tiba aja doi ngejauhin gue, Mbak. Ya, gue bingung lah. Emang gue salah apa kok doi jadi mendadak menghindar gitu? Gue penasaran sekaligus was-was juga. Jangan-jangan hubungan gue sama doi sudah terendus suami?” tuturnya.
            
Aku tersenyum mendengar penuturan kisahnya itu. Baguslah kalau Joe kemudian menghindari Desy yang statusnya adalah istri orang itu. Mungkin dia menyadari kesalahannya dan ingin menghindar.
            
“Mbak, Lu tahu nggak alasan sebenarnya kenapa si Joe sampai menjauhi gue?” tanyanya tiba-tiba.
Aku hanya menggeleng sambil menatap matanya, mencari jawaban yang kuyakin akan segera disampaikannya kepadaku.
“Karena gue Jokower, Mbak,” ucapnya diikuti dengan derai tawanya.
“What?” ucapku tak dapat menutupi rasa terkejutku.
“Iya. Gue emang tahu kalau doi tuh fans fanatiknya si number one. Tapi kan pilpres udah lama berlalu, ya. Lagi pula gue bingung juga mau nyambung-nyambungin reasson doi tuh maksudnya gimana, gitu,” ucapnya dengan dahi berkerut.
“Gue tahu kalau doi demen posting, share, bahkan komen yang menyatakan kekagumannya sama si number one itu. Bagi gue sih hal itu nggak ngaruh apa-apa sama perasaan gue ke doi. Nggak tahu kalau ternyata doi sensitive banget kalau sudah menyangkut pujaan hatinya yang ini. He..he.. baru nyadar gue kalau ternyata gue bukan pujaan hatinya,” ujarnya sambil tertawa kecut.
“Padahal gue juga nggak pernah nunjukin kalau gue tuh Jokower setia, lho. Tapi ya, namanya juga medsos ya, mbak. Kadang gue nggak sadar kalau like gue ke postingan yang berpihak kepada pemerintah bisa terbaca oleh teman di friendlist kita,” ucapnya lagi.
“Dari situlah kemudian gue merasa bersyukur banget, Mbak. Tuhan menunjukkan kesalahan yang telah gue lakukan dengan cara ini. Tak ada yang tahu hubungan yang sempat  terjalin antara gue dengan Joe selain gue, Joe dan Tuhan, tentu saja sekarang Lu juga termasuk, Mbak,” ucapnya sambil mencubitku.
            
Terus terang, saat itu aku jadi bengong, melompong kayak kepompong. Apaan sih ini? Banyak pertanyaan berputar-putar di benakku yang ingin kuutarakan kepadanya. Tetapi panggilan untuk segera masuk ke dalam pesawat membatalkan semua tanya itu.



Senin, 21 November 2016

TIPS MENAGIH UTANG








          Kamu punya piutang yang susah sekali didapatkan kembali? Kalau iya, kamu nggak sendiri, kok.  Banyak yang mengalami nasib yang sama denganmu. Mau minta uang yang menjadi hak kita sendiri saja susahnya minta ampun.

Kesal? Tentu saja. Kita yang memberikan utang tetapi malah jadi seperti kita yang mau utang. Yang sering terjadi, yang ditagih malah lebih garang daripada yang nagih.

Padahal sebenarnya kalau kita menagih utang itu justru membantu si pengutang agar terbebas dari dosa, lho. Bukankah utang itu akan selalu dibawa sampai mati?

Utang adalah janji yang harus dipertanggungjawabkan sampai ke akhirat nanti. Maka dari itu, jangan ada rasa sungkan saat kita akan menagih utang.

Berikut ada beberapa tips atau langkah-langkah bagaimana cara menagih utang yang sebaiknya ditempuh apabila seseorang berutang kepada kita, yaitu:



1.   TAGIH SECARA TIDAK LANGSUNG

Maksud dari cara ini adalah dengan menagih melalui media penghubung komunikas, seperti lewat sms, WA, BBM, dan lain sebagainya. Pengutang yang bertanggungjawab pasti akan merespon. Meskipun mungkin dia belum bisa membayar utangmu, setidaknya dia akan memberitahukan alasannya. Beri tangguhan waktu untuk orang seperti ini. Kalau ternyata dia menyalahgunakan kepercayaan yang kita berikan kepadanya, lakukan langkah kedua.



2.   BERIKAN SINDIRAN

Sindiran bisa kamu sampaikan apabila berkali-kali pesanmu tidak diresponnya. Kamu bisa menyindirnya melalui media sosial bila sindiran melalui media penghubung pribadi diabaikan. Sebaiknya sih, secara tidak langsung, ya. Tidak usah menandai namanya, nanti kamu malah diunfriend.

Sindiran ini bisa berupa hadist-hadist ataupun kutipan-kutipan tentang resiko yang akan menimpa orang yang dengan sengaja tidak mau menyelesaikan utangnya.

Salah satu yang menjadi favorit saya adalah yang berbunyi seperti ini,  “Orang Yang Dengan Sengaja Menunda Hak Orang Lain, Maka Allah Pun Akan Menunda Kebahagiaan Orang Tersebut”.

Hal ini betul sekali, seperti pada hukum sebab akibat. Sebab kamu menunda hak orang lain untuk berbahagia, maka akan mengakibatkan kebahagianmu pun menjadi tertunda.



3.   TAGIH SECARA LANGSUNG

Apabila dengan sindiran tetap tidak mempan dan pesan-pesanmu juga tetap tidak direspon sama sekali, sebaiknya datangi langsung saja orangnya. Tidak ada salahnya kamu mengajak orang ketiga yang sekiranya dia segani. Hal ini untuk mencegah agar tidak terjadi konflik, atau apabila konflik tak terelakkan, ada pihak ketiga yang hadir sebagai penengah.

Sebaiknya sih, sebisa mungkin setiap permasalahan yang timbul itu diselesaikan secara kekeluargaan saja. Tak perlulah pakai acara menyewa jasa debt colector segala. Selain harus keluar biaya ekstra, rasanya kok seperti nggak elegan banget, ya.



4.   TETAPLAH MENGINGATKAN

Yang namanya karakter orang, terkadang memang nggak bisa dirubah. Ada lho, bahkan banyak, yang ketika disinggung tentang kewajibannya membayar utang malah marah-marah. Nggak banget, kan?

Nah, marah-marahnya orang seperti ini sebenarnya karena dia merasa malu, makanya dia menutupi rasa malunya itu dengan marah-marah dan mengintimadasi kita. Mengatai kita ini ‘nggak perasaanlah’, ‘pelitlah’, apalah-apalah.

Sebaiknya jangan mudah terpancing untuk ikut marah-marah juga, ya. Susah memang, tetapi usahakan untuk ‘legowo’ saja. Nggak perlu ikutan emosi, tetaplah untuk selalu mengingatkan kewajibannya itu meskipun nggak digubris. Jangan pernah bosen nagih sambil selalu berikan senyum terbaikmu (susyah ya, yang ada mah senyum palsu..he..he..) nggak apa-apa sih senyumnya senyum yang sedikit dipaksakan..ho..ho.., yang penting tetaplah berbuat baik kepadanya biarpun dia jadi judes sama kamu. Insyaallah, dengan sikapmu yang hangat itu, dia jadi merasa nggak enak sendiri sama kamu. Bonusnya, duitmu bakal balik lagi ke kamu.



5.   LIBATKAN KELUARGANYA ATAU ORANG YANG DIHORMATINYA.

Hal ini sebenarnya adalah langkah yang kurang nyaman untuk ditempuh. Kesan yang tampak, kita kok jadi seperti pengadu. Tapi kenapa tidak? Kalau segala cara yang sebenarnya ‘nyaman’ bagi kedua belah pihak telah ditempuh tetapi tak jua membuahkan hasil, kita butuh orang lain untuk menyadarkannya.



6.   IKHLASKAN

Menagih utang kadangkala memang menjadi dilema. Maka lihat kembali kondisi si pengutang. Kalau memang dia termasuk orang yang sangat miskin, bahkan untuk bisa makan sehari-hari saja susah, maka ikhlaskanlah. Mungkin pada saat dia pinjam uangmu itu niatnya memang mau minta sama kamu, tapi karena malu, jadi dia bilangnya ‘pinjam’. Ya sudah, niatkan saja untuk sedekah karena Allah. Mungkin ini cara Allah mengingatkanmu untuk berbagi.



7.   GUNAKAN ILMU LANGIT

Ada beberapa orang yang mendadak jadi amnesia ketika ditanyai soal utangnya. Lebih parah lagi, bahkan tanpa kabar berita apapun tiba-tiba saja menghilang entah kemana bagai raib ditelan bumi. Sama sekali tidak bisa dihubungi dengan cara apapun. Kemungkinan sih, memang sengaja tidak mau dihubungi untuk menghindar dari tagihan utang.

Khusus menghadapi manusia bermuka tembok seperti ini, ada tips yang nampak tidak umum dan memang sulit untuk dilakukan. Betul-betul dibutuhkan kelapangan hati ekstra luas.

Begini, daripada kita menumpuk dosa dengan membenci seseorang yang membuat kita kesal teru-menerus, daripada timbul berbagai pikiran buruk yang bisa merusak hati kita, lebih baik sih mengikhlaskan saja.

‘Aduuh, endingnya kok klise banget, sih? Bagaimana mau mengikhlaskan kalau uang yang dipinjam itu jumlahnya besar dan kita juga sangat butuh?”

Rerata orang memang akan berkata demikian. Maka dari itu, saya katakan kalau ‘ilmu langit’ jenis ini super sulit. Tapi ada tips yang dapat membantumu mempermudah pelaksanaannya. Caranya, kita sedekah saja buat si pengutang agar utangnya ke kita lunas. Sound like crazy, tapi bisa kok kita lakukan.

Begini, misal orang itu utang sejuta rupiah sama kita. Sejuta tentu bukan jumlah yang kecil untuk diikhlaskan begitu saja, ya? Tetapi, daripada kita nabung dosa, mending nabung pahala lah, ya.

Sedekahin saja sehari seribu rupiah khusus buat si pengutang itu agar utangnya ke kita lunas. Nggak terasa, dua puluh satu bulan utangnya ke kita lunas. Rasanya akan plong bin lega.

Mungkin bagi beberapa orang, ide seperti ini tidak dapat diterima. it's ok. saya cuma sumbang saran, kok.

Saya yakin, jenis orang-orang pengutang yang menyebalkan akan selalu ada. Tetapi keberadaan orang-orang seperti itu justru dapat kita jadikan pengingat agar kedepannya, ketika ada orang yang datang berutang kepada kita, kita tak perlu memberinya sejumlah uang sesuai dengan yang dia ajukan. Berikan saja sejumlah yang sekiranya bisa kita ikhlaskan kalau saja uang yang dipinjamnya itu tak akan kembali lagi ke tangan kita. Biarlah kita  dianggap pelitlah, tak setia kawanlah, apalah-apalah, yang penting tali silaturahmi nggak akan pernah sampai terputus hanya gegara masalah utang piutang.

Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan, ada baiknya untuk melakukan pencatatan dan menghadirkan pihak ketiga sebagai saksi ketika akan dilakukan akad utang piutang.

Semoga catatan panjang ini bermanfaat. Aamiin.



Penulis,

Rara radyanti.






Senin, 14 November 2016

@joeraganArtikel




Bener-bener deh, saya langsung merasa jadi emak-emak paling kudet saat ketahuan nggak mengenal Teh Indari Mastuti, CEO dari Indscript Creative.
Itu tuh, sebuah perusahaan yang menaungi Indscript Training Center, yaitu sebuah lembaga yang berkonsentrasi pada pemberdayaan perempuan, khususnya di dunia bisnis dan menulis.
Ternyata beliau ini begitu cetar membahana di kalangan emak-emak kece sejagat raya. *Hmmm...berarti saya dulu nggak kece ya...😅😅

Buat emak-emak yang punya hobi nulis dan ingin punya penghasilan sendiri dari pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah, ini jelas sebuah jalan keluar yang menyenangkan.
Gimana enggak, Indscript juga bekerjasama dengan @joeraganArtikel mengadakan training online yang berfokus pada peningkatan skill peserta dalam membuat artikel pesanan, job review, dan sebagainya.

Dan yang lebih seru lagi, lulusan training di @joeraganArtikel bakal langsung direkrut untuk menjadi team penulis inti di emakpintar.asia. Asyik, kan?

Nggak hanya sampai di situ saja, masih ada lagi lanjutannya, nih. Yaitu para alumninya ini bakal memperoleh binaan lanjut guna menapaki jenjang karier kepenulisan berikutnya. Keren, kan?

Pokoknya seru abis dah.
Hayuuuklah...mari kemon segera hubungi sang trainer sekaligus owner @joeraganArtikel Ummi Aleeya deh ya!!!



Naahhh...yang penasaran sama itu picture apa hubungannya yak???
Hi..hi... ya nggak ada sebenernya.. 😀😀😀... tapi kalau mau dihubung-hubungi dengan agak memaksa, maksudnya begini loh... ntu saya lagi ngumpanin jalan terang buat yang suka nulis... he..he.. moga-moga nyambung ya.. Maksudnya jadi nyambung ke @joeraganArtikel..😉😉
Alhamdulillah.


Jumat, 11 November 2016

TIPS MENJAGA KOMITMEN DALAM PERNIKAHAN JARAK JAUH



TIPS MENJAGA KOMITMEN DALAM PERNIKAHAN JARAK JAUH

Sepasang manusia yang terikat dalam janji suci berupa pernikahan memang idealnya hidup satu atap, berkumpul dan berjumpa setiap hari dengan pasangan dan keluarga kecil yang dibinanya. Namun pada kenyataannya, tidak semua pasangan diberi anugerah indah seperti itu. Beberapa pasangan menikah harus hidup terpisah jarak dan waktu dengan berbagai alasan.

Pasangan dengan kondisi seperti ini biasa disebut sebagai pasangan LDM, akronim dari Long Distance Marriage. Kondisi pernikahan seperti ini bisa jadi memang adalah sebuah pilihan, tetapi dapat pula disebabkan oleh keadaan yang memaksa dan mau tak mau harus dijalani.

Menjalani pernikahan jarak jauh ini memang tidak nyaman, tetapi apabila keadaan seperti ini tidak dapat dihindari dan harus tetap dijalani, ada beberapa tips yang bisa membantu anda melewatinya dengan baik, yaitu:

SALING MENJAGA KOMUNIKASI
Tidak seperti pasangan LDM di jaman dahulu yang untuk berkirim surat saja membutuhkan waktu yang sangat lama, pasangan LDM di era teknologi canggih seperti sekarang ini tidak sulit menjalin komunikasi meskipun terpisah benua sekalipun. Mulai dari komunikasi dengan teks hingga komunikasi berbasis audio visual sangat mudah diakses.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang dilakukan secara rutin. Selain untuk memantau keadaan pasangan ataupun keluarga yang ditinggal, komunikasi juga dapat dijadikan sarana pengobat rindu.
Anda bisa bekerjasama dengan pasangan dalam memilih media komunikasi apa yang akan digunakan. Yang paling umum dan pada saat ini sifatnya wajib adalah telepon. Anda dapat mengatur bersama dengan pasangan, kapan saat yang tepat untuk berkomunikasi. Jangan sampai niat baik berakhir buruk karena salah satu dari anda sering menelpon pada saat yang tidak tepat, contohnya pada saat pasangan Anda sedang bekerja. Bagaimanapun rindunya, anda pasti bisa menahannya sesaat hingga jam bekerjanya usai, bukan? Atau anda bisa mengiriminya pesan teks, tapi jangan uring-uringan kalau tidak direspon dengan segera, ya.

SALING MENJAGA KEPERCAYAAN
Ini adalah hal terpenting bagi seluruh pasangan suami istri, apalagi bagi yang sedang menjalani pernikan jarak jauh. Dengan saling menjaga kepercayaan dapat membuat hubungan anda dengan pasangan menjadi tenang, tanpa diganggu pikiran-pikiran negatif, semisal pikiran buruk tentang akan hadirnya orang ketiga.
Dengan saling menjaga kepercayaan, berarti anda juga telah membangun pondasi yang kuat bagi rumah tangga anda.
Salah satu contoh kurang tepat yang sering dilakukan oleh pasangan masa kini adalah dengan men’stalking’ akun media sosial pasangan. Mungkin alasan awalnya baik, yaitu untuk memantau pasangan. Akan tetapi, kegiatan seperti ini sebenarnya lebih banyak mudhoratnya daripada manfaatnya. Alih-alih merekatkan hubungan, anda justru sedang melonggarkan tali pengikat keutuhan rumah tangga anda. Karena diakui atau tidak, dengan sering mengintip akun media sosial pasangan, perasaan yang menjadi sering timbul adalah rasa curiga dan rasa cemburu. Apabila tidak dapat dikelola dengan baik, kedua macam pearasaan tersebut dapat membawa akibat buruk pada hubungan anda.
Untuk menghindari hal tersebut, anda berdua sebaiknya menyadari tentang pentingnya menghargai dan menghormati privacy masing-masing. Tanamkan dalam hati anda, bahwa pasangan terdekat kita sekalipun tetap berhak dengan privacynya sendiri-sendiri tanpa intervensi dari siapapun.

PERBANYAK KEGIATAN POSITIF
Berada jauh dari pasangan kerap kali membuat anda jadi merasa kesepian. Untuk mengatasi rasa kesepian itu, beberapa orang akan mencari kesibukan selain kegiatan sehari-harinya. Selama kesibukan tersebut adalah kesibukan yang bermanfaat, maka akan baik-baik saja. Tetapi bagaimana apabila kesibukan yang anda pilih justru mengarah pada tindakan yang negatif? Tentu saja hal tersebut dapat merusak hubungan pernikahan anda. Tak ingin hal tersebut terjadi, kan?
Untuk itu, sebaiknya anda memanfaatkan waktu luang anda hanya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif saja. Misalnya dengan memperbanyak ibadah, berolahraga, mengikuti pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan minat dan bakat Anda, dan berbagai kegiatan positif lainnya yang banyak manfaatnya.

SELALU MENGINGAT ALLAH
Tak akan ada yang dapat selalu menolong kita selain kuasa Allah. Ikhlas dengan apa yang harus anda jalani dan percayakan semuanya berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Karena hanya dengan selalu mengingat Allah saja, maka ketenangan dalam hidup akan kita raih.
Berdoalah kepada-Nya agar anda dan pasangan selalu diberi kekuatan dalam menjalani hubungan pernikahan jarak jauh ini.
Mintalah hanya kepada-Nya agar keluarga anda dapat segera berkumpul bersama dan hidup bahagia dalam ridho-Nya.

Kamis, 27 Oktober 2016

Rabu, 26 Oktober 2016

cerpen "Ibu, deritamu kini telah usai" Tribute For Mother

Tribute For Mother


IBU, DERITAMU KINI TELAH USAI

          “Pak, Rini besok harus membayar uang semester lho, Pak. Kalau terlambat nanti nggak bisa ikut ujian. Saat ini Ibu sudah tidak pegang uang lagi selain untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Semua sudah dipakai untuk membayar utang di warungnya bu Sri sama warungnya pak RT.” Sambil mengaduk gula di cangkir kopi pak Seto, bu Rahma menyampaikan permintaan tersebut.
          “Ya. Besok kan bapak sudah gajian,” jawab pak Seto singkat tanpa mengalihkan pandangan matanya dari lembaran koran yang sedang dibacanya.
          Bu Rahma tersenyum lega mendengar jawaban dari suaminya tersebut. Sambil membereskan meja makan, ibu berputra empat itu mencoba mengingat- ingat , kebutuhan apa saja yang harus segera didahulukan, mumpung besok suaminya menerima gaji.
          Meskipun bu Rahma tahu kalau seperti biasanya, gaji yang akan diterima suaminya tidak utuh lagi karena harus dipotong berbagai pinjaman di koperasi kantornya, tapi setidaknya ada yang bisa dipakai untuk membayar kebutuhan sekolahnya anak-anak. Sedangkan gaji dia sendiri sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah negeri, dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
          “Oya, Pak, si Aris juga bilang sama ibu kalau dia butuh uang untuk mengganti kampas sepeda motornya yang sudah aus. Kemudian Dani dan Sari juga harus membayar buku pelajaran di sekolah mereka. Angsuran buku matematika milik Sari malah sudah nunggak hampir dua bulan ini belum dibayar sama sekali, kasihan dia sampai malu sama teman-temannya,” ucap bu Rahma sambil meletakkan mangkuk sayur di meja makan yang baru saja dibersihkan itu.
          “Iya, catat saja semua yang harus dibayar,” jawab pak Seto singkat sambil melipat lalu meletakkan koran yang baru saja dibacanya itu.
          “Ya, mudah-mudahan saja cukup,” ucap pak Seto setelah menyeruput kopinya.
          Bu Rahma tersenyum lagi. Wanita berbadan subur itu merasa lega. Dalam pikirannya, setidaknya untuk bulan ini dia tidak perlu berutang lagi untuk mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.  

**

          Sore itu, sambil berjalan tergopoh-gopoh memasuki rumah setelah memarkir sepeda motornya, pak Seto berteriak memanggil-manggil istrinya. Bu Rahma yang sedang mencuci piring pun langsung menghentikan aktivitasnya dan pergi menghampiri suaminya.
          “Oalah, Bu, amblas semua, hilang, muspro, raib semua uang gaji bapak, Bu,” ratap pilu pak Seto sambil terduduk di lantai.
          Serasa bagai palu godam menghantam kepalanya, bu Rahma pun berkunang-kunang. Mulutnya terkatup rapat, tetapi matanya terbelalak sampai terasa mau lepas. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya seperti terhenti, tercekat di tenggorokan.
          Tubuh bu Rahma pun lunglai, selunglai tubuh suaminya yang bersimpuh di lantai. Campur aduk perasaannya, sedih ataukah marah, antara mau menangis ataukah berteriak.
          Akhirnya bu Rahma pun sama-sama bersimpuh di lantai mendekati suaminya itu. Tanpa menunggu pertanyaan dari istrinya, penjelasan pun meluncur dari mulut pak Seto.
          “Sepeda motor bapak tadi serempetan sama sepeda motor orang, Bu. Bapak terjatuh karena terperosok lobang yang cukup dalam di pinggir jalan dekat lapangan itu. Orang yang nyerempet bapak juga jatuh, tapi tidak apa-apa. Sepeda motor kami juga tidak apa-apa. Sudah damai, tidak ada masalah apa-apa. Setelah orang itu pergi, bapak baru sadar kalau amplop gaji yang bapak letakkan di saku kemeja bapak tidak ada, Bu. Bapak sudah bolak-balik mencari di sekitar tempat bapak jatuh tadi, tetapi tetap tidak ketemu. Apa mungkin diambil sama orang yang nyerempet bapak tadi, ya?” ucap pak Seto menjelaskan kronologis kecelakaan yang baru saja menimpanya.
          Bu Rahma tak sanggup mencerna dengan baik penjelasan suaminya itu. Dia hanya memikirkan kesulitan keuangan yang akan segera menderanya. Plak! Tiba-tiba saja seperti ada yang yang menampar dengan keras pipinya. “Astagfirulloh,” ucap bu Rahma beristighfar.
          “Sudahlah, Pak. Yang penting bapak tidak apa-apa. Apakah ada luka serius, Pak?” tanya bu Rahma sambil memeriksa tubuh suaminya itu. Wanita itu pun merasa lega manakala tidak didapatinya luka ataupun memar di tubuh lelaki pendamping hidupnya itu, meskipun di dalam hatinya perasaan sedih dan kecewa tak dapat dihilangkannya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi.
**

          “Bu, bapak mau keluar sebentar, ya. Bapak mau ke rumahnya pak Aji, siapa tahu beliau bisa membantu memberi pinjaman kepada kita. Mungkin bapak juga mau ke tempatnya pak Heru, kawan bapak SMA dulu. Kalau saja pak Aji tidak dapat membantu, pak Heru mungkin bisa kuandalkan,” pamit pak Seto kepada istrinya.
          “Kunci rumah, kubawa, Bu. Siapa tahu sampai larut malam baru bisa pulang. Ibu tidur saja, tak usahlah menunggu bapak,” ucap pak Seto kemudian.
          Bu Rahma mengangguk. Bu Rahma kemudian teringat akan utangnya kepada salah satu adiknya yang tinggal di ibu kota. Dia dulu berutang untuk membayar uang pangkal kuliahnya Rini. Meskipun adik bu Rahma mengatakan bahwa utang itu bisa dibayar kapan saja, tetapi rasanya kok tidak enak kalau nyicilnya saja tidak lancar.
**

          Di sebuah warung remang-remang di ujung sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari kediaman bu Rahma, terlihat sosok pak Seto sedang tertawa terbahak-bahak dengan botol tuak di tangannya, sedangkan di pangkuannya duduk seorang wanita dengan pakaian ketat dan rok mini. Di sekitarnya, duduk lelaki-lelaki lain dengan tingkah polah serupa dengannya. Kartu-kartu remi, botol-botol tuak, dan lembaran-lembaran uang bertebaran di atas meja.
          Sungguh tak disangka, ternyata pak Seto sedang bermaksiat. Rupanya cerita tentang kecelakaan yang menimpanya itu hanyalah kebohongan belaka. Uang gaji pak Seto raib di meja judi dan untuk memanjakan para perempuan penjaja cinta itu.
          Tak cukup sampai di situ, pak Seto masih melanjutkannya dengan arena perjudian lain, salah satunya dengan mempertaruhkan uangnya melalui judi toto gelap atau yang lebih dikenal dengan sebutan judi togel.
          Hampir tiap malam pak Seto menghabiskan waktunya di tempat maksiat itu. Kalaupun berada di rumah, judi togelnya tetap berlangsung melalui ponsel. Hari-harinya semakin kelam, kebohongan demi kebohongan terus direkanya agar perbuatannya itu tidak diketahui oleh sang istri.
**

          Namun, yang namanya bangkai, meskipun disembunyikan sedemikian rapat, baunya pasti akan tercium juga. Pun demikian dengan ulah pak Seto ini. Lambat laun bu Rahma pun mengetahuinya juga. Hal ini karena semakin banyak orang yang datang ke rumah mereka untuk menagih utang.
          Selama itu, pak Seto kerap berbohong dengan berbagai alasan kepada istrinya perihal gajinya yang tak pernah dia terima. Awalnya bu Rahma masih percaya, namun karena lama-kelamaan alasan yang dibuat suaminya itu terlalu mengada-ada sehingga bu Rahma pun sulit untuk percaya dan mulai mencium bahwa ada yang tidak beres dengan perilaku suaminya itu.
Selama itu pula, bu Rahma tidak pernah lagi menerima sepeserpun gaji suaminya. Semua biaya hidup dan biaya sekolah anak-anaknya, dialah yang mengusahakannya sendiri. Bu Rahma mulai berjualan apa saja yang bisa dijual, bahkan membuat es mambo yang dititipkan ke sekolah-sekolah. Bila sudah sangat mendesak, berutang pun dilakukannya. Meskipun selalu digelayuti perasaan malu, namun demi anak-anaknya bisa lancar bersekolah, apapun bu Rahma lakukan.
Entah, setan apa yang merasuki jiwa pak Seto sehingga tega melepaskan tanggung jawabnya terhadap keluarga yang seharusnya dia naungi. Semakin hari, lelaki itu semakin tak peduli dengan keluarganya. Bahkan ketika bu Rahma tergolek lemas tak berdaya karena penyakitnya.
**
          Rini dan ketiga adiknya duduk terpekur memanjatkan doa demi doa bagi kesembuhan sang ibu yang sedang kritis. Tetapi, menurut dokter, kondisi ibunya itu sudah sangat lemah dan tidak dapat dilakukan upaya apapun untuk memperpanjang usianya. Tentu saja hatinya berontak, dia masih sangat menginginkan kehadiran sang ibu. Namun, kemudian dia tersadar, mungkin ibunya sudah sangat lelah dengan beratnya penderitaan yang harus ditanggungnya.
          Rini pun kemudian berbisik di telinga sang ibu, “Kami ikhlas bila ibu harus pergi meninggalkan kami, Ibu. Ibu pasti akan lebih bahagia bila berada di sisi Allah. Biarlah Rini yang akan menjaga adik-adik. Kami minta maaf bila selalu menyusahkan ibu, ya. Kami pun telah memaafkan seluruh kesalahan ibu. Ah, bahkan ibu tak punya salah apa-apa kepada kami. Sudahlah, Bu. Ibu tenang-tenang saja, tak perlu lagi memikirkan beratnya hidup ini.”
**

             
Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam sebuah kompetisi menulis, namun kemudian saya mengundurkan diri karena ternyata saya dimintai sejumlah dana yang saya nilai jumlahnya tidak wajar.
Kecewa. Itu pasti. Namun bukan berarti saya lantas berputus asa, apalagi sampai berhenti menulis.

Ada hikmah yang bisa saya ambil. Ke depan, saya akan tetap terus menulis lebih baik lagi dan berusaha untuk lebih selektif lagi dalam mengikuti kompetisi serupa.

KADUNG SELINGKUH

Selingkuh adalah salah satu bentuk pengingkaran. Tidak ada seorang pun yang suka diingkari. Pun juga dengan mengingkari. Mengingkari ...