Panduan Mencintai Diri Sendiri

Dalam perjalanan hidupnya, setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya “gagal”, baik disadari maupun tidak. Hanya saja, respon tiap orang berbeda-beda dalam menghadapinya. Ada yang mudah “move-on” ada pula yang sampai tidak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri atas kegagalan tersebut, hingga sangat memengaruhi kehidupannya.

Pun dalam perjalanan hidup saya, sudah berkali-kali saya mengalami yang namanya kegagalan, mulai dari hal sepele seperti gagal mengerjakan tugas, sampai gagal diterima di sekolah impian. Yang namanya kegagalan pastilah menimbulkan kekecewaan, bukan? Begitu juga dengan saya saat mengalami kegagalan. Kecewa sih sudah pasti, ya, tapi entah kenapa saya tuh orangnya cenderung cepet move on. Apa karena saya yang terlalu cuek, ya? He .. he ...

Ternyata bukan karena “cuek”-nya, lho. Cuek hanyalah efeknya saja. Jadi begini ceritanya saya bisa sampai akhirnya menyadari kenapa kok saya orangnya cepat move-on sama rasa “kecewa” ini. Suatu hari, pernah ada teman yang bertanya sama saya, “Kamu kok bisa sih, cepet banget lupa sama hal yang bikin kamu kecewa?”  “Nggak tau, ya,” jawab saya singkat, karena terus terang saya sendiri bingung pada saat itu mau jawab apa. Namun setelah sejenak saya renungkan, saya sadar kalau kecewa itu bikin kita sedih. Kalau kita terus menerus merasa sedih dan menyalahkan diri atas kegagalan yang terjadi, itu adalah sebuah kesia-siaan. Saya nggak mau terus menerus larut dalam kesedihan. Bagaimana kalau nanti saya jadi sakit? Atau parahnya lagi, bagaimana kalau saya jadi pesimis dan nggak berani maju lagi? Bagaimana kalau ... Bagaimana kalau ... demikian banyak pertanyaan bernada negatif menghantui saya. Saya nggak mau hal-hal buruk terjadi pada diri saya.

Ternyata oh ternyata, perasaan sepeti itu timbul karena saya mencintai diri saya. Sampai kini, saat merasa gagal, saya hanya perlu menekankan pada diri sendiri bahwa “tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini.” Afirmasi seperti itu ternyata sangat berguna, saya jadi lebih mudah untuk merasa legowo dalam menerima setiap keadaan. Syukurlah, afirmasi positif tersebut saya pakai terus hingga saat ini, dan itu ampuh banget menghilangkan kekecewaan saat mengalami kegagalan. 


Self Love

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 5 dan 6 Juni 2021, saya berkesempatan mengikuti webinar bertema “Self Love, Your Guide to Loving Yourself” yang diselenggarakan oleh Stellar Women, bekerjasama dengan POND’s Age Miracle. Beberapa pembicara yang dihadirkan; 
- Samira Shihab dan Judithya Pitana, membawakan tema The Key to Having it All.
- Inez Kristanti dan Fanny Ghassani, tema The Science of Putting Yourself First
- Melvina Wildasari dan Anastasia Satriyo, tema Strength from Within
- Alika Islamadina, Dea Rizkita, dan Ucita Pohan, membawakan tema Self love story; Insecurities, Anxiety, and Everything in Between
- Noelle Lim, tema Mindfulness for copassion Guided Selflove Meditation
- Muara Makarim, tema Buid an Unbreakable You; The Self love Toolkit

Dipandu oleh Debora Gondokusumo sebagai moderator, diskusi berjalan sangat seru, atraktif dan menyenangkan untuk disimak. Dari webinar tersebut, banyak insigth positif yang saya dapatkan. Love banget, deh. Baru kali itu saya mengikuti webinar yang ada scientific approach-nya. Sangat menarik.


Dari webinar tersebut, saya jadi lebih memahami apa itu self love. Ternyata, self love itu nggak hanya sebatas ‘mencintai diri sendiri’, tapi jauh lebih spesifik lagi, yaitu suatu keadaan di mana kita menerima dan menyayangi diri. 

Self love merupakan fondasi dari kesehatan, kualitas hubungan, karir, dan kebahagiaan hidup kita. Namun sayangnya self love bukanlah sesuatu yang bisa berkembang sendiri, kita harus benar-benar berusaha untuk melakukannya secara sadar, menggali semua apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, dan ketakutan dalam hidup kita. Proses ini akan terus terjadi, karena berlangsungnya itu selama kita hidup.


Sangat penting bagi kita untuk bisa mencintai diri kita sendiri dengan tulus. Karena hal tersebut sangat bermanfaat bagi kualitas hidup kita. Dari handbook yang saya dapakan, saya menemukan bahwa dari sekian banyak keuntungan self love, beberapa diantaranya adalah:

- Mengurangi stres dan kecemasan
Kalau kita secara sadar telah mencintai diri kita, kita pasti bisa mengatasi rasa kecewa, dan rasa takut terhadap penolakan yang terjadi saat kita mengalami kegagalan. Dengan demikian, stres dan rasa cemas dapat diatasi.

- Meningkatkan kepuasan hidup
Dengan self love, kita jadi lebih terbantu untuk bisa mengapresiasi diri, sehingga kita jadi lebih percaya diri dan lebih bisa menghargai kebahagiaan. Tentu saja,dengan  demikian kepuasan hidup pun akan meningkat.

- Meningkatkan daya tarik
Ho ho ho, ini efek positif dari rasa percaya diri yang telah tumbuh, ya. Dengan kuatnya rasa percaya diri yang kita miliki, tentunya akan memunculkan aura positif. Dan ini yang membuat kita jadi semakin menarik.

- Mendukung gaya hidup sehat
Dengan self love, kita jadi lebih care sama diri kita, tubuh kita, hingga perilaku kita. Kita juga jadi lebih perhatian tentang asupan, kesehatan, hingga gaya hidup kita. Dengan self love, kita akan merasa senang dan nyaman melakukan hal-hal baik yang akan membuat kita merasa senang dan nyaman. Tentunya hal tersebut dapat membentuk gaya hidup yang lebih sehat.


Tahapan Mencintai Diri 

Hamilton, dalam bukunya yang berjudul “I Heart Me” menjelaskan tentang tahapan mencintai diri sendiri, yaitu:

1. “I’m not enough
Sebagian besar orang secara sadar merasa bahwa dirinya tidak cukup baik.

2. “I’ve had enough
Pada tahap ini, orang merasa sudah cukup dengan kekecewaan  yang dialaminya, sehingga merasa terdorong untuk mengabil alih kehidupannya dan melakukan perubahan dalam diri.

3. “I’m enough
Tahap ini ditandai dengan adanya kedamaian dan penerimaan diri. Kita menyadari bahwa tantangan hidup itu akan terus ada, tapi kita enggan untuk membuang energi dan terjebak dalam ‘drama’ tersebut.


Alangkah menyenangkannya kalau kita bisa mencinta diri dengan baik, ya. Nah, bagaimana baiknya kita memulai perjalan self love kita agar bisa berjalan dengan baik?

Menurut Flaxington (2019) dalam tulisannya berjudul The important of self love, ada lima pola pikir yang bisa membantu kita untuk mengembangkan self love, yaitu:
1. Sadarilah bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda
2. Ingatlah bahwa tidak ada orang yang sempurna (wah, ini mirip banget sama kalimat afirmassi yang selalu saya terapkan saat bertemu dengan kegagalan, ya)
3. Mulai perlakukan diri sebagaimana kita ingin diperlakukan orang lain.

Namun, dalam perjalanan mengembangkan self love, pasti kita akan bertemu dengan yang namanya hambatan, ya. Jadi, rasanya sangat penting mengetahui apa saja hambatannya agar kita bisa bersiap mengatasinya. Menurut Ali (2018) dalam bukunya yang berjudul The Self-love workbook, menjelaskan beberapa hambatan yang biasa terjadi, diantaranya:

1. Pengalaman traumatis di masa lalu
Kekerasan, baik fisik maupun emosional yang pernah dialami, bisa menimbulkan konsekuensi buruk bagi kondisi mental seseorang. Rasa minder, malu dan bersalah akan sering menghantui, sehingga hal tersebut dapat menghambat proses seseorang dalam mencintai dirinya.

2. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain
Sebenarnya, perilaku comparing ini seringkali muncul dari pengamatan yang tidak disengaja. Namun bila dibiarkan sering terjadi, hal tersebut berpotensi menghambat diri untuk self love. 


Dengan mengetahui hambatan-hambatan yang bisa mengganggu proses perjalan self love kita, maka segala kemungkinan buruk bisa diminimalisir bahkan perlahan-lahan dibuang. Bukankah kita sangat berhak untuk bahagia?

Dalam bincang-bincangnya, Anastasia Satriyo berkata bahwa, “Tanggung jawab bahagia kita itu ada di kita sendiri.” Saya setuju banget, karena bahagia kita adalah kita sendiri yang mengusahakan. Ketika kita bahagia, kita jadi lebih percaya diri. Saat kita percaya diri, kita nggak akan mudah terpengaruh oleh omongan negatif orang lain.  

Kita selamanya tidak akan pernah bisa mengubah orang lain 100% menjadi seperti apa yang kita mau. Dengan self love, kita jadi bisa lebih legowo dalam menerima keadaan, tidak lagi merasa ingin memaksakan sesuatu itu harus begini, harus begitu. Dengan self love, kita juga jadi lebih easy going, dan merasa nggak perlu terlalu mengharapkan apapun dari orang lain.

Dengan demikian banyaknya insigth positif yang didapat, semoga kedepannya Stellar Women dapat mengadakan acara-acara serupa dengan tema-tema yang jauh lebih menarik lagi.

Penulis,
Rara Radyanti

Komentar

  1. Yes, self love penting banget lho karena terkadang kita terlalu memikirkan dan mencintai orang lain sehingga lupa akan mencintai diri sendiri...

    BalasHapus
  2. Pas banget ini sama yang lagi bikin saya resah... kayaknya perlu sering ucapkan Im enough supaya mudah bersyukur dan menerima diri apa adanya, menghargai diri sendiri

    BalasHapus
  3. Self love itu dengan kata lain supaya percaya diri ya Mbak. Terutamanya lagi harus selalu bersyukur deh.
    Keren banget bisa ikut webinarnya dengan narasumber yang kece-kece.

    BalasHapus
  4. Penting banget untuk mencintai diri sendiri dengan tulis. Di sana ada sumber energi yg membantu kita utk lebih bergairah dlm menjalani kehidupan. Kalo kita tidak bs mencintai diri sendiri, bagaimana pula org lain bs mencintai kita dgn tulus.

    BalasHapus
  5. Saya juga sedang berusaha untuk mencintai diri sendiri, supaya tetap sehat lahir batin ya, Mbak

    BalasHapus
  6. Aku selalu percaya bahwa hal penting yang harus kita lakukan sebelum mencintai orang lain adalah mencintai diri sendiri. Dengan penerimaan diri yang tulus, hati kita penuh cinta yang bsa dishare kepada sekitar.

    BalasHapus
  7. webinar kemarin ini seru ya, sayangnya aku nggak bisa join, jam nya nggak pas dengan situasi kerjaan aku
    setuju banget kalau dasar kita bisa mencintai orang lain dengan baik adalah mulailah dengan mencintai diri sendiri. kita sendiri yang lebih paham kondisi diri kita

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Merawat Buku yang Rusak Akibat Terlalu Lama Disimpan

Yati "Sum Kuning" Surachman, Legenda Hidup Indonesia

Yuk, Me Time dengan "Me-Time"