Langsung ke konten utama

MERTUA SENANG, ANAKNYA TAMBAH SAYANG




Mengatasi Intervensi Mertua.
            Bagaimana hubunganmu dengan mertua? Baik-baik saja atau malah enggak pernah akur sama sekali? Semoga yang pertama, ya. Yah, menjaga hubungan baik dengan mertua itu memang susah-susah gampang. Apalagi hubungan antara menantu wanita dengan ibu mertua. Bagaimanapun juga, tak dapat dipungkiri bahwa ibu mertua adalah seseorang yang mempunyai hak atas anak laki-lakinya sampai kapan pun juga.
            Ketika kita menikahi anak lelakinya, kita boleh merasa telah memilikinya. Namun, kita juga enggak bisa mengelak bahwa ibunya adalah orang yang paling mengenalnya dan paling memahami siapa suami kita itu. Bagaimanapun, beliaulah yang telah melahirkannya, merawat dan membesarkannya.
            Jadi, semestinya kita bisa maklum jikalau dalam cara kita melayani suami, kerap diintervensi oleh ibu mertua. Apalagi kalau kita tinggal satu atap dengan mertua. Intervensi akan selalu ada dan kemungkinan besar tidak dapat dihindari. Kita hanya bisa mengatasinya. Nah, cara mengatasi intervensi mertua inilah yang susah-susah gampang.
            Memang sih, apa yang dilakukan oleh ibu mertua itu kerap membuat kita jadi serba salah. Tetapi, kalau seandainya saja kita mau jujur terhadap diri sendiri, sebenarnya tidak ada salahnya kalau kita turuti saja apa kata mertua.
 Namanya juga orangtua, pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Untuk mudahnya, bayangkan saja kalau  seandainya kelak kita berada pada posisi beliau. Kemungkinan besar kita akan melakukan hal yang serupa.
Lalu, apakah lantas kita harus selalu menuruti setiap perkataan mertua? Tentu saja hal ini kembali kepada pribadi masing-masing. Meskipun demikian, kita tetap harus tahu cara menyikapinya agar tidak terjadi konflik.
Ada kalanya, ketika kita ditegur oleh mertua, reaksi kita adalah emosi. Merasa kesal, sedih dan marah. Sebetulnya ini adalah reaksi yang wajar. Namun, ada baiknya agar kita tidak menampakkan emosi kita itu di depan mertua.
Cobalah untuk sebisa mungkin meredam emosi tersebut. Karena, apabila emosi sudah berhasil teredam, maka kita pun akan dapat berpikir dengan lebih jernih. Dengan begitu, kita bisa mempertimbangkan perkataan mertua dan membandingkannya dengan pemikiran kita.
            Kemudian, kita bisa memilahnya. Mana yang kita anggap cocok, bisa kita turuti, sedangkan yang tidak sesuai tidak perlu kita turuti. Tentu saja, sebaiknya tidak usah dengan cara mendebatnya, karena hal tersebut hanya akan mendatangkan konflik.
            Untuk meraih simpati dari mertua, kita memang harus menunjukkan rasa bersahabat dengan mereka. Mencoba seakrab mungkin dengan mereka, seolah-olah sama akrabnya seperti mereka terhadap suami kita. Tentu saja, tanpa meninggalkan rasa hormat yang tetap harus kita tunjukkan. Tapi tetap harus bersikap sewajarnya, ya. Enggak perlu berpura-pura, karena yang murni keluar dari hati dan yang palsu itu bakalan nampak jelas, lho.

Bila Terjadi Konflik dengan Mertua.
            Yang namanya kesabaran manusia itu di mana saja selalu ada batasnya, sehingga konflik pun tetap bisa terjadi meskipun sudah kita hindari sedemikian rupa. Lalu bagaimana cara mengatasi apabila terlanjur terjadi konflik dengan mertua?
 Konflik yang terjadi bila tidak cepat diatasi bisa membuat permasalahan bertambah pelik. Apabila kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah, masalah bisa semakin membesar. Untuk mengatasinya adalah dengan memperbaiki komunikasi
            Pertama kali, kita harus mencari akar permasalahannya terlebih dahulu. Dari mana datangnya? Akar permasalahan dari konflik yang terjadi, bisa datang dari pihak mertua atau justru datang dari diri kita sendiri selaku menantu.
            Kalau akar permasalahannya datang dari kita selaku menantu, maka hadapilah dengan jujur. Akuilah kesalahan kita dan minta maaflah. Keikhlasan kita untuk mengakui kesalahan adalah cara ampuh untuk menyelesaikan permasalahan.
            Lalu bagaimana kalau akar permasalahannya datang dari pihak mertua? Seyogyanya, tetaplah bersikap bijak. Tak perlu melawan orangtua, sekalipun kita merasa benar. Kita harus memiliki kesadaran untuk membangun hubungan yang baik dengan orangtua suami yang secara tak langsung telah menjadi orangtua kita juga. Apabila pihak mertua berlaku kasar terhadap kita sekalipun, kita tetap harus bisa meresponnya dengan emosi yang tepat.
**
           
            Dalam membina rumah tangga, selain mengikat dua insan memang berarti juga mengawinkan dua pihak keluarga. Konflik yang terjadi dengan mertua adalah dinamika kehidupan berumah tangga. Oleh karena itu, hal yang berpotensi menyebabkan hubungan menjadi tidak nyaman sebaiknya dihindari.  Semoga, ulasan di atas dapat mencerahkan.

Penulis,
Rara Radyanti


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KETIKA ANAK KITA MENJADI KORBAN BODY SHAMING

"Bunda, Adek ni jelek ya, Bunda?" "Ya enggak lah. Adek cantik." "Tapi temen Adek bilang kalau Adek jelek."
Lalu meluncurlah cerita-cerita pembully-an yang dilakukan oleh teman-temannya (kebanyakan sih yang laki-laki).
"Adek dikatain item, kiting, jelek!" ucapnya dengan raut sedih.
Deg!! Apalagi saya, ibunya. Jauuuh lebiih sediih. Rasanya pengen marah dan memaki-maki anak yang meledek gadis kecil saya.
"Siapa nama temen Adek yang bilang begitu? Anaknya siapa?" Pertanyaan itu nyaris keluar dari mulut saya, tapi untunglah masih bisa saya tahan.
Saya nggak ingin anak saya tumbuh menjadi seorang pembenci.
Kemudian saya raih tubuhnya, saya tatap matanya, dan saya elus kedua pipinya.
Hal pertama yang harus saya lakukan adalah membuatnya bisa menerima kondisi dirinya dengan baik. "Rambut Adek kan memang keriting, tapi Adek cantik dengan rambut seperti itu. Banyak lho, orang yang kepengen rambutnya dikeriting."
Lalu saya ceritakan bahwa se…

Meminta Maaf dan Memaafkan

Maaf "Kenapa tidak kamu saja yang minta maaf?"
"Kenapa aku begitu sulit memaafkanmu?
"Kenapa kata maaf itu begitu sulit terucap?"
"Ah, kenapa kita harus saling memaafkan?" Sebab, tak ada manusia yang sempurna di bumi ini. Siapa pun dia, pasti pernah melakukan kesalahan. Dear sahabat, menilai kesalahan orang lain itu mudah. Yang sulit itu adalah mengakui kesalahan diri sendiri. Biasanya, hanya orang yang berjiwa besar yang mampu melakukannya. Sahabat, marahkah kamu saat ada orang lain yang melukaimu? Atau melukai orang yang kamu sayangi? Marah saat ada yang menyakiti kita atau orang yang kita sayangi adalah reaksi yang wajar. Namun jangan disimpan hingga menimbulkan kebencian. Karena kebencian hanya akan membawa kedengkian.
Wahai sahabatku, kedengkian itu bisa melahirkan rasa dendam. Semua itu hanya akan mengikis seluruh amalan-amalan baik yang sudah dengan susah payah kita kumpulkan. Ketika timbul rasa dengki dalam hati, segeralah ingat Hadist Rasul ini…

Mengakui Kesalahan. Sulitkah?

BERBUAT SALAH ITU MANUSIAWI, karena melakukan kesalahan itu menandakan bahwa kita itu punya kekurangan, dan itu seharusnya bisa menjadi cambuk bagi kita untuk terus belajar memperbaiki diri. Kalau kita sadar telah melakukan sebuah kesalahan, ya akui saja. MENGAKUI KESALAHAN ITU MULIA, lho. Dengan mengakui kesalahan, secara tersirat kita telah menyatakan bahwa kita ini hanyalah manusia biasa yang senantiasa berbuat salah, karena yang tidak pernah bisa salah itu hanya Tuhan. Tapi mengakui kesalahan itu mestinya ya datang dari hati nurani terdalam, jangan cuma di bibir saja. Sulit memang melakukannya. Berat dan butuh waktu yang lama supaya bisa benar-benar iklhas saat mengatakannya.
Tapi ini jauh lebih baik daripada "tidak pernah merasa bersalah" sama sekali. Ketika kamu sama sekali tidak pernah merasa bersalah, itu artinya ada "sensor" di hatimu yang sudah tidak berfungsi lagi, sehingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mungkin hatimu perlu d…

Maling Teriak Maling

Lain di bibir lain di hati adalah ungkapan yang kerap dipakai untuk menunjukan sifat munafik seseorang. Ada juga yang menyebutnya dengan sebutan orang bermuka dua. Secara umum, orang yang bersifat munafik memilik ciri-ciri, yaitu bila berkata dia dusta, dan bila dipercaya dia khianat. Tak hanya itu, masih banyak ciri-ciri lain yang bisa kamu pelajari untuk mengenali para munafikun ini, diantaranya adalah: 1. FUJUR
Fujur adalah sebutan bagi orang yang tidak dapat mengendalikan emosinya, selalu ingin menang sendiri, tidak pernah mau menerima dan mengakui kesalahannya, dan senang menunjukkan sikap yang berlebihan, bahkan melampaui batas dalam menekan lawan-lawannya.
Orang fujur adalah munafikun yang selalu merasa dirinyalah yang paling benar, tanpa pernah mau berkaca bahwa sebenarnya justru dirinya itu sendiri yang berkubang dalam kesalahan demi kesalahan. 2. RIYA
Yaitu, sombong dalam bersikap dan berbicara. Orang munafikun jenis ini senangnya dengan sengaja menampakkan kebaikan yang di…

BALAS DENDAM TIDAK AKAN PERNAH BISA MENYELESAIKAN MASALAH

"Sekuat apapun kita menolak, yang ditakdirkan datang ke dalam hidup kita, akan tetap datang."
Seperti manusia-manusia keji itu... Sekuat apapun kita berusaha menghindari, kalau takdir mengharuskan mereka hadir dalam kehidupan kita, ya pasti akan datang. Seperti jamak kita ketahui, semakin hari, semakin banyak serigala-serigala berbulu domba di ladang kehidupan kita. Mereka itu lah manusia-manusia berhati iblis, yang tega menghancurkan dan meremukkan hati saudaranya sendiri.
Ada tukang tipu, tukang fitnah, tukang adu domba, tukang cabul, maling, pembunuh😱😱😱😱😱
yang bebas berkeliaran dengan korban-korban yang tak berani melakukan perlawanan. Sedih, terpuruk, kalut, dan putus asa, adalah wujud kekecewaan yang pasti dirasakan, ketika kita telah diperdaya oleh manusia-manusia iblis itu.
Apalagi kalau kita sampai dijerumuskan untuk ikut melakukan kemaksiatan itu. Oh, no...😱😱😱 Kalau kamu masih punya hati, ketika tersadar dari melakukan kesalahan, pasti bakal timbul perasaan men…